Rayuan Pulau Santan

Kompas.com - 31/08/2013, 08:34 WIB
Kelapa hasil petikan lalu di kupas kulitnya di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (15/7/2013). Kelapa menjadi salah satu hasil utama di wilayah tersebut. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOKelapa hasil petikan lalu di kupas kulitnya di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (15/7/2013). Kelapa menjadi salah satu hasil utama di wilayah tersebut.
EditorI Made Asdhiana

Kelapa yang tumbuh di Nusantara lantas diincar penguasa kolonial. Namun, baru tahun 1883, kelapa diumumkan sebagai produk ekspor. Kejayaan kelapa Nusantara berlangsung panjang. Sebelum Perang Dunia II, Indonesia pernah menjadi produsen kelapa nomor satu di dunia (San Afri Awang, 1991).

Rezeki perkebunan kelapa masih bisa dirasakan banyak orang Sumatera, termasuk Minang, hingga sekarang. Tengoklah Kabupaten Padang Pariaman. Di daerah pantai itu, pohon kelapa tumbuh subur hampir di setiap pekarangan rumah. Menurut catatan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, kawasan itu menghasilkan 36.734 ton kelapa tahun 2011.

Karena kelapa banyak tumbuh di tanah Minang, masakan di sana pun banyak yang bersantan. Hal ini amat logis sebab lingkungan sangat memengaruhi corak makanan, tradisi makan, dan tradisi masak suatu masyarakat.

Mari kita lihat. Kebutuhan santan yang banyak menciptakan rantai produksi santan yang khas dan efisien, mulai dari memetik, mengupas, memarut, hingga memeras santan. Jika di Jawa kelapa dipetik manusia, di Tanah Minang kelapa dipetik beruk yang lebih cekatan memanjat dan merontokkan kelapa tua. ”Di sini (Minang) hampir tidak ada manusia yang memanjat kelapa. Pekerjaan itu untuk beruk saja,” ujar Isal (33), warga Padang Pariaman.

Kelapa yang dipetik beruk kemudian dikupas sabutnya dengan semacam patok besi tajam yang ditanam di tanah. Lihatlah bagaimana Abu Kasal (58), pengupas kelapa asal Padang Pariaman, mengupas kelapa. Ia menghunjamkan kelapa ke besi tajam itu dan menarik sabutnya. Dua-tiga kali hunjaman dan tarikan yang ia lakukan sudah cukup untuk melepaskan sabut dari batok kelapa. Tidak heran jika setiap hari ia bisa mengupas 2.000 butir kelapa. Kalau dia mengupas dengan pisau atau golok, berapa hari dia perlukan untuk mengupas kelapa sebanyak itu?

Untuk menghasilkan serbuk kelapa, orang Minang menggunakan alat kukur. Alat ini lebih cepat menghasilkan serbuk dibandingkan dengan parutan yang biasa digunakan di Jawa. Mereka juga menciptakan alat pemeras santan yang disebut kacik. Bentuknya mirip pelana dengan dua kayu penjepit.

Buntalan serbuk kelapa diselipkan di antara kayu penjepit. Orang Minang tinggal mendudukinya dan santan pun keluar dengan derasnya. Cara memeras seperti ini cepat dan tidak membuat tangan lecet-lecet.

Rantai bisnis

Rantai bisnis kelapa di Minangkabau pun memperlihatkan corak yang khas. Perkebunan kelapa umumnya dimiliki rakyat. Kelapanya dipetik beruk-beruk milik tukang ojek beruk. Setiap butir kelapa yang dipetik beruk, pemilik kebun harus membayar Rp 150 kepada tukang ojek beruk. Dari tukang ojek beruk, kelapa diserahkan kepada tukang kupas kelapa. Pemilik kebun membayar lagi Rp 150 per butir kelapa yang dikupas tukang kupas.

Dari tangan tukang kupas, kelapa beralih ke pengepul kelapa yang setiap hari keliling kampung dengan mobil bak terbuka. Pengepul seperti Noval (28) yang tinggal di Nagari Ketaping, Korong Pauh, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman, bisa mengepul 6.000 kelapa per hari.

Sebutir kelapa yang telah dikupas ia beli Rp 1.600. Setiap hari ia menjual 2.000 butir kelapa ke pasar dan rumah makan. Sebutir kelapa ia hargai Rp 2.000-Rp 2.500. Sisa kelapa ia pasok ke pabrik santan kemasan.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Penyortiran kelapa hasil petikan di Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (15/7/2013). Kelapa menjadi salah satu hasil utama di wilayah tersebut.
Usaha itu ia warisi dari ayahnya sejak 10 tahun lalu. Dia pun berjualan santan di Pasar Lubuk Buaya, Padang. Sehari, 300 butir kelapa diolah menjadi 100 kilogram santan yang dihargai Rp 12.000 per kilogram.

Kucuran santan itu nantinya bertemu ragam bumbu dan bahan lain dalam kuali. Mungkin santan itu mengalir juga ke singgang buatan Yuniar yang sudah tanak. Daun singkong dan ikan bilih yang dimasak dengan santan kental dari puluhan kelapa itu amat lembut di lidah, gurih, dan kaya rasa bumbu.

Pokoknya, alamak! (Indira Permanasari dan Budi Suwarna)

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X