Jejak Para Perantau - Kompas.com

Jejak Para Perantau

Kompas.com - 09/09/2013, 07:46 WIB
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Suasana Rumah Makan Taman Selera di jalur pantura, Indramayu, Jawa Barat, mirip terminal bus. Rumah makan seluas 4 hektar ini didirikan Rusdi Safri dari Sumpur.
SEBAGAIMANA kari India, rendang merupakan kuliner yang mengembara bersama pemiliknya. Kari menyebar lewat pedagang India di masa lalu dan buruh-buruh India yang dipekerjakan Inggris di seluruh perkebunannya di tanah jajahan, mulai dari Malaysia hingga Afrika, pada abad ke-19. Rendang menyebar ke mana-mana lewat orang Minang yang konon mulai merantau pada abad ke-6.

Mochtar Naim dalam buku Merantau, Pola Migrasi Suku Minangkabau (1984) mencatat, perantau Minang awalnya bergerak dari pusat Minangkabau di Luhak Nan Tiga, yakni Tanah Datar, Agam, dan Lima Puluh Kota, ke sepanjang pesisir barat Sumatera dan pesisir timur. Ada pula yang merantau hingga Negeri Sembilan, Malaysia. Ketika itu merantau masih dalam konteks mencari daerah koloni dan wilayah dagang.

Gelombang merantau yang bersifat individu baru terjadi sekitar abad ke-19 dan 20 seiring berkembangnya kota-kota di pesisir Sumatera. Apalagi Belanda membangun jaringan jalan dan sarana komunikasi yang memudahkan perantau Minang pergi merantau dari kampungnya ke kota. Para perantau tidak hanya datang untuk bekerja dan berdagang, tetapi juga sekolah.

Gerakan merantau makin masif pasca-pengakuan RI dan kembalinya ibu kota dari Yogyakarta ke Jakarta tahun 1950. Saat itu muncul kebutuhan staf dan pegawai untuk mengisi kementerian dan departemen, biro, serta perkantoran pemerintah. Orang-orang Minang yang sejak abad ke-19 mengecap akses pendidikan terbaik di Nusantara—seperti halnya orang Karo, Toba, Mandailing, Toraja, dan Minahasa—berbondong-bondong datang ke Jakarta untuk mengisi posisi-posisi birokrat, ulama, dan guru.

Ketua BKKBN sekaligus Ketua Yayasan Pembangunan Lintau Buo Fasli Jalal bercerita, ayahnya termasuk orang Minang yang merantau pada periode itu untuk menjadi guru agama. Saat itu, katanya, perantau Minang juga banyak yang terserap ke perusahaan-perusahaan negara hasil nasionalisasi. Ada pula yang menjadi dokter, ahli hukum, dan pengusaha.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Deretan pohon kelapa menaungi rumah Gadang di Baso, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7). Kelapa menjadi kebutuhan utama dalam berbagai masakan khas Minangkabau yang rata-rata menggunakan santan.
Puncak gerakan merantau terjadi pasca-pemberontakan PRRI tahun 1958. Pemerintah pusat memadamkan pemberontakan tersebut dan menduduki kota-kota utama di Sumbar. ”Siapa pun (orang Minang) dicurigai dan diawasi gerak-geriknya oleh tentara. Akses mereka untuk bekerja sebagai birokrat tertutup. Daripada hidup tertekan di kampung, akhirnya anak muda sampai orang tua yang berpendidikan ataupun tidak pergi meninggalkan Minangkabau,” kata Gusti Asnan.

”Kalau pada periode sebelumnya orang merantau untuk mengasah hidup, yakni menuntut ilmu dan mengabdi kepada negara, setelah PRRI orang Minang merantau untuk bisa hidup,” tambahnya.

Itu sebabnya, apa pun jenis pekerjaan yang tersedia di rantau diincar orang Minang. Meski sebagian dari mereka memilih menjadi pedagang agar bisa hidup lebih merdeka. Tahun 1970-an, kata Muhammad Nur, pekerjaan di sektor informal yang digemari antara lain menjadi tukang jahit di Jakarta. Mengapa? Sebab mesin jahit ketika itu masih dianggap barang mewah di kampung-kampung Minang. ”Kalau perantau bisa beli mesin jahit sudah dianggap hebat,” kata Muhammad.

Perantau Minang juga banyak yang terjun ke bisnis tekstil. Tidak heran jika kini mereka mendominasi pusat-pusat perdagangan tekstil di Jakarta, seperti Pasar Tanah Abang, Pasar Senen, Pasar Blok M, Pasar Jatinegara, dan Pasar Benhil. Ada pula yang terjun ke bisnis percetakan, perhotelan, barang antik, keuangan, dan yang paling banyak membuka warung nasi padang (Elfindra, Ayunda, Saputra; Minang Entrepreneurship, 2010).

Migrasi besar-besaran secara bergelombang membuat jumlah penduduk Sumbar turun drastis. Data sensus 1930 menunjukkan, penduduk Sumbar yang tinggal di luar kampung halamannya ketika itu mencapai 211.000 orang yang tersebar di Jambi, Riau, Sumatera Timur, dan Malaysia (tidak termasuk Negeri Sembilan). Tahun 1971, angka itu melonjak menjadi 44 persen.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO Rusdi, pemilik Rumah Makan Taman Selera di jalur pantura, Indramayu, Jawa Barat.
Berdasarkan sensus 1971, jumlah penduduk yang ”tersisa” di Sumbar saat itu 2.788.388 orang. Artinya, jumlah penduduk yang pergi dari Sumbar tidak jauh dari angka itu. Mereka tersebar di sejumlah daerah, terutama Jabodetabek.

Tahun 2000, jumlah penduduk beretnis Minang di Jabodetabek mencapai 429.205 orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlah mereka bertambah jadi 529.888 orang. (Budi Suwarna dan Indira Permanasari)


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorI Made Asdhiana

Close Ads X