Bertemu Annette, "Peduli" Danau Toba di Samosir

Kompas.com - 25/09/2013, 17:13 WIB
Penduduk menonton atraksi paralayang di Bukit Siulakhosa, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Paralayang merupakan rangkaian kegiatan Festival Danau Toba 2013 yang digelar 8–14 September 2013. KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARIPenduduk menonton atraksi paralayang di Bukit Siulakhosa, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Paralayang merupakan rangkaian kegiatan Festival Danau Toba 2013 yang digelar 8–14 September 2013.
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Penayangan episode keempat program menjelajahi bumi nusantara oleh tim Kompas TV bertajuk "100 Hari keliling Indonesia" mengangkat kisah penjelajahan di Pulau Samosir.

Di pulau yang berada di tengah-tengah Danau Toba tersebut, tim tak hanya menikmati keindahan alam, juga sempat bertemu dengan seorang berkewarganegaraan Jerman, Annette Horschmann yang menikah dengan warga setempat, Antonius Silalahi dan namanya menjadi Annette boru Siallagan. Mereka mendirikan Tabo Cottages di Tuk Tuk, Pulau Samosir.

"Bertemu dengan Annette Horschmann orang Jerman yang sangat cinta dengan Toba. Dia konsen terhadap kebersihan Toba, misalnya terhadap hama enceng gondok yang tumbuh di Danau Toba. Ya, bisa dikatakan Annette sebagai aktivis lingkungan," ujar salah satu tim "100 Hari Keliling Indonesia", Ignatius Dimas Yulianto, di Jakarta, Rabu (25/9/2013).

Setelah bertemu dengan Annette, Dimas melanjutkan, tim juga sempat mengikuti prosesi pemakaman masyarakat Batak dan bertemu dengan pemusik gondang (alat musik tradisional Batak) muda.

Tak menghabiskan waktu lama di Samosir, tim kemudian menyeberang kembali menuju ke Medan, ibukota Sumatera Utara.

DOK KOMPAS TV Di Pematang Siantar, Ramon bertemu Bambang Pramudjianto, penderita diabetes yang bersepeda keliling nusantara untuk mengampanyekan sepeda sehat.
Di Medan, pemandu acara "100 Hari Keliling Indonesia" Ramon Y Tungka bertemu dengan seorang yang sedang menjalankan misi serupa yakni berkeliling Indonesia. Bedanya, ia berkeliling Indonesia dengan menggunakan sepeda.

"Tim sempat singgah sejenak di sebuah warung kopi di daerah Pematang Siantar. Di kedai kopi tertua di Pematang Siantar ini, Ramon bertemu seorang bapak yang menjalankan misi yang hampir mirip dengan Ramon. Namanya Bambang Pramudjianto yang bersepeda keliling Indonesia, mengampanyekan pelestarian lingkungan dan hidup sehat dengan bersepeda," papar Dimas.

Setelah itu, lanjut Dimas, tim tak menyiakan-nyiakan waktu untuk berkeliling Pematang Siantar. Mereka berkeliling kota dengan menggunakan becak motor BSA, sebuah motor yang termasuk dalam golongan motor langka. "Bahkan di Jawa BSA menjadi koleksi dengan harga yang mahal," kata Dimas.

Tim 100 Hari Keliling Indonesia melakukan perjalanan mengelilingi Indonesia dimulai dari Jakarta menuju Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Maluku. Setelah itu, tim bergerak ke Nusa Tenggara, Pulau Bali dan Jawa.

KOMPAS.COM/FITRI PRAWITASARI Tabo Cottage di Tuk Tuk, Pulau Samosir, Sumatera Utara.
Pada Rabu (3/7/2013) tim kembali ke Jakarta tepatnya di pelataran Gedung Kompas TV, Palmerah, Jakata Barat. Dalam melakukan misinya, tim tidak menggunakan jalur darat, laut, dan penerbangan perintis.

Beberapa kisah perjalanan tim telah ditayangkan di rubrik Travel Kompas.com. Sedangkan penayangan program di Kompas TV setiap Rabu jam 20.00.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X