Kompas.com - 04/10/2013, 13:28 WIB
EditorI Made Asdhiana
MATARAM, KOMPAS — Dari Kuta, Bali, kami melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa Besar, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kamis (3/10/2013). Tim Ekspedisi Sabang-Merauke: Kota dan Jejak Peradaban harian Kompas melaju ke Pelabuhan Padang Bai, Karangasem, untuk menyeberang ke Pelabuhan Lembar, Lombok.

Kami sungguh beruntung. Feri Muryati yang telah berisi truk barang, mobil penumpang, dan penumpang siap berangkat di dermaga 2. Petugas menutup palka kapal begitu dua mobil kami bersama tiga mobil penumpang lainnya masuk. Peluit kapal dibunyikan yang menandakan kapal siap berlayar.

Feri penyeberangan ibarat jantung bagi distribusi barang dan orang di kawasan timur Indonesia. Tanpa pelayanan PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) dan operator swasta seperti PT Pewete Bahtera Kencana dan PT Dharma Lautan di bawah kendali Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan, tentu mobilitas rakyat terhambat.

Dari Banyuwangi, Jawa Timur, ke Flores, Nusa Tenggara Timur, kita harus empat kali menyeberangi lautan. Mulai Pelabuhan Ketapang (Jatim)-Gilimanuk (Bali), lalu Padangbai (Bali)- Lembar (Lombok/NTB), Kayangan (Lombok/NTB)-Pototano (Sumbawa/NTB), dan Sape (Sumbawa/NTB)-Labuan Bajo (Flores/NTT). Jalur penyeberangan terdekat adalah Ketapang-Gilimanuk, sekitar 45 menit. Adapun jalur terpanjang yakni Sape-Labuan Bajo yang membutuhkan waktu sedikitnya 7 jam.

Penduduk di Pulau Flores, NTT, sangat bergantung pada pelayaran Labuan Bajo dan Sape yang menjadi jalur utama suplai kebutuhan pokok dari NTB. Kekhawatiran kami tidak kebagian tempat di kapal pupus karena ASDP kini melayani penyeberangan Sape-Labuan Bajo pukul 09.00 dan 16.00 setiap hari.

Memang, bagi penumpang yang tak biasa menumpang kapal laut, ayunan kapal yang ritmis mudah menyebabkan pusing dan mabuk laut. Dari Padang Bai ke Lembar, kami berlayar bersama 70 penumpang lain. Kapal berkapasitas 500 penumpang ini pun terasa sepi. Hiburan karaoke dangdut koplo yang disetel dengan volume penuh menemani perjalanan kami.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANA Feri di pelabuhan Lembar, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Feri melayani penumpang untuk rute Lembar (Lombok) dan Padangbai (Bali).
Sebagian penumpang memanfaatkan waktu 4 jam pelayaran untuk beristirahat dengan menyewa kasur seharga Rp 35.000. Ada juga yang tidur di sofa atau menonton film dari dua televisi plasma ukuran 42 inci.

”Kalau sudah mulai pusing, kami jalan-jalan keliling kapal atau tidur sekalian,” kata Ngakan Putu Megantara (27), warga Bali yang hendak berlibur ke Lombok bersama dua rekannya.

Sebelum gelap, Putu mengajak kami menuju anjungan kapal untuk menikmati sore. Sayangnya, mendung menutupi matahari sehingga rona jingga sore yang kami tunggu tak muncul.(mhf/bay/otw/ham)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.