Pernikahan Agung Keraton Simbol Kebangkitan Pariwisata DIY

Kompas.com - 26/10/2013, 16:38 WIB
GKR Hayu melaksanakan upacara pondhongan, yakni dia dibopong oleh pamannya, GBPH Suryodiningrat (kiri), dan suaminya KPH Notonegoro dalam acara panggih di Keraton Yogyakarta, Selasa (22/10/2013). AFP PHOTO / LALA
AFP PHOTO / LALAGKR Hayu melaksanakan upacara pondhongan, yakni dia dibopong oleh pamannya, GBPH Suryodiningrat (kiri), dan suaminya KPH Notonegoro dalam acara panggih di Keraton Yogyakarta, Selasa (22/10/2013). AFP PHOTO / LALA
EditorI Made Asdhiana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pernikahan agung putri keempat Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Hayu dan KPH Notonegoro, Rabu (23/10/2013) menjadi simbol kebangkitan pariwisata Yogyakarta.

"Peristiwa pernikahan agung tersebut menjadi simbol kebangkitan pariwisata, tidak hanya Yogyakarta, tetapi juga pariwisata secara nasional," kata Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Tazbir, di Yogyakarta, Jumat (25/10/2013).

Menurut dia, peristiwa langka tersebut dampaknya luar biasa, karena tidak hanya hotel dan restoran di Yogyakarta penuh tamu. Peristiwa yang diliput ratusan media asing tersebut, juga mengangkat nama Indonesia di dunia pariwisata.

"Dalam beberapa kali menggelar pesta pernikahan agung putri Keraton Ngayogyakarta selalu mendapat respon luar biasa dari berbagai liputan media asing," katanya.

Hal tersebut, menurut dia, menandakan bahwa budaya Keraton Ngayogyakarta Hadinigrat selama ini menjadi daya tarik wisata budaya yang tidak bisa ditemukan di negara mana pun di dunia.

Peristiwa besar kirab pasangan pengantin keraton, lanjut Tazbir, sangat menarik perhatian wisatawan mancanegara yang kebetulan berkunjung ke Yogyakarta. Bagi pariwisata Yogyakarta pernikahan agung puteri keraton ini memiliki dampak luar biasa antara lain bisnis jasa travel dan hotel diuntungkan, termasuk pusat belanja dan rumah makan.

Apalagi, tamu yang datang di acara pernikahan agung GKR Hayu-KPH Notonegoro adalah tamu VVIP, di antaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Boediono, para menteri dan pejabat negara lainnya.

"Dan yang paling penting, simbol budaya Indonesia yaitu keberadaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga sebagai simbol kebangkitan pariwisata DIY dan nasional," tambah Tazbir.



Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X