Makau, Pertemuan Barat dan Timur

Kompas.com - 19/11/2013, 10:31 WIB
Sejumlah wisatawan, Jumat (20/9/2013), memenuhi kawasan wisata reruntuhan Gereja St Paul yang merupakan bagian depan bekas Gereja Mater Dei di Makau.
 KOMPAS/INGKI RINALDISejumlah wisatawan, Jumat (20/9/2013), memenuhi kawasan wisata reruntuhan Gereja St Paul yang merupakan bagian depan bekas Gereja Mater Dei di Makau.
EditorI Made Asdhiana
MAKAU, yang kini menjadi wilayah ”special administrative region” di bawah China, setelah diserahkan dari Portugal pada tahun 1999, adalah pertemuan antara dunia Barat dan Timur. Sejumlah artefak kebudayaan, seperti sejumlah bangunan dan bahasa yang digunakan, menggambarkan hal tersebut.

Inilah yang menarik para turis dari sejumlah negara untuk datang, seperti pasangan Luis Vaguer dan Doris Vic dari Spanyol, yang sejak Jumat (20/9) pagi keluar dari hotel di kawasan Cotai Central untuk menjelajahi Makau. Padahal, Luis dan Doris, bersama anak-anak mereka, Pablo Vaguer (9) dan Javier Vaguer (11), sudah sejak malam sebelumnya berjalan-jalan menyusuri Cotai Central yang terhubung dengan The Venetian itu.

Sehari-hari mereka berdomisili di Shenzhen, China, dan sebelumnya lebih dahulu mengunjungi Hongkong.

”Kami belum pernah ke Makau,” kata Luis.

Namun, Luis dan keluarganya tidak punya rencana untuk berlama-lama di Makau. Setelah menyeberang dari Hongkong dengan menggunakan feri cepat, mereka menurut rencana segera kembali setelah satu hari itu bermalam.

Apa yang dicari keluarga itu di Makau? Terutama adalah memenuhi rasa penasaran setelah tiba di Hongkong. ”Ini lokasi yang menjadi tempat percampuran dengan (kebudayaan) Portugis,” kata Luis soal Makau.

Tentu saja, ia juga menyimpan rasa penasaran untuk menjajal beragam permainan judi yang tersebar di sejumlah kasino. ”Tetapi, saya tidak suka itu (judi),” kata Doris.

Bukan hanya Luis yang penasaran dengan beragam permainan judi kasino. Dua rekan jurnalis, Rodrigo Rivas dari Singapura dan Elena Sanchez Nagore yang berasal dari Spanyol, juga tergoda menjajalnya.

Rodrigo menjajal permainan rolet dan dadu pada Rabu (18/9) malam, sementara Elena mencoba permainan rolet, Kamis (19/9) malam. Rodrigo memulai dengan beberapa puluh dollar Hongkong saja sebelum menang hingga lebih dari 100 dollar Hongkong untuk kemudian kalah tanpa sisa.

”Memang ada rasa ingin terus dan terus mencoba. Tetapi, walaupun akhirnya kehilangan semua uang, itu bukan masalah karena sejak awal niat saya memang untuk menghabiskan uang tersebut,” kata Rodrigo.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X