Kompas.com - 08/12/2013, 19:45 WIB
EditorI Made Asdhiana
SUATU ketika, saat menginjakkan kaki di luar negeri, I Ketut Rina yang berambut gondrong ditanya petugas imigrasi tentang asal-usul dan pekerjaannya. Saat menyebut dirinya berasal dari Bali dan berprofesi sebagai penari, si petugas langsung berkomentar sambil mengangkat tangan, ”Wow..., kecak dance, right?”

Pengalaman semacam itu sering dialami Ketut Rina (50) jika ia sedang melawat ke luar negeri. ”Meskipun saya datang ke luar negeri untuk menari yang lain, mereka tahunya Bali, ya kecak,” kata Rina saat ditemui sebelum pentas di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kecak adalah tari kolosal yang semua pemainnya laki-laki. Usia tarian tersebut diperkirakan ratusan tahun. Menurut Rina, kecak semula merupakan pengiring tari Sanghyang, sebuah tari ritual yang dipercaya untuk mengusir roh jahat yang mengganggu desa. Gangguan roh jahat diyakini muncul dalam bentuk wabah penyakit, seperti kolera atau malaria.

”Teriakan cak-cak-cak yang dikeluarkan penari kecak terus-menerus dipercaya bisa menakuti roh jahat,” kata Rina.

Hingga kini, tari kecak masih menjadi ritual yang dimainkan pada hari-hari tertentu, menurut hitungan hari orang Bali. Prosesi kecak sebagai ritual bersih desa dimulai dari pura, lalu berkelilling desa, dan ke rumah-rumah warga.

Namun, bagi Rina, kecak bukanlah sekadar tarian pengusir roh. Kecak tidak kaku yang hanya patuh mengikuti pakem-pakem tertentu. Bagi Rina, kecak adalah sebuah keindahan koreografi. Dari seorang penari kecak anak, Rina konsisten mengembangkan kecak dengan koreografi indah.

Kecak Rina berbeda dengan kecak lainnya karena melibatkan banyak anak-anak dari usia dini. Kelompoknya berjumlah 150 orang, dari jumlah itu seperempatnya adalah anak-anak. ”Saya melibatkan anak-anak untuk proses regenerasi,” kata Rina yang dikenal mengajar kecak dengan disiplin keras. Di sanggarnya, puluhan anak silih berganti berlatih tari kecak dan tari bali lainnya.

Rina juga mengembangkan kecak dengan prinsip lentur. Kalau kecak kelompok lain lebih banyak duduk melingkar, kecak Rina dibuat beragam formasi, seperti berbaris, bersilangan, atau mengikuti bentuk tertentu atau bahkan tidak beraturan. Cerita yang ditampilkan hanya kisah Sugriwa dan Subali. Kecak Rina juga hanya menggunakan obor sebagai penerangan dan menampilkan permainan bola-bola api.

Pada pentas peresmian Garuda Wishnu Kencana di Bali lalu, misalnya, Rina membawahkan 400 penari kecak. Ia membuat formasi ular naga menuruni tangga. Visualisasi ular naga pada malam hari itu ia munculkan dengan ratusan obor di tangan penari. Suara-suara hewan, seperti katak, monyet, dan jangkrik, muncul dari mulut-mulut penari kecak anak.

Tarian kecak Rina juga merespons lingkungan di sekitarnya. Ia tidak berbatas pada areal yang ada. Suatu ketika, para penari kecak Rina masuk ke kolam renang sambil menari untuk berinteraksi dengan penonton. Ada pula beberapa penari yang memanjat pohon sambil terus meneriakkan, ”Cak-cak-cak...!”

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kapal Wisata Tenggelam di Labuan Bajo, Aturan Keamanan Akan Diperketat

Kapal Wisata Tenggelam di Labuan Bajo, Aturan Keamanan Akan Diperketat

Travel Update
Wisata ke Venesia Italia Bakal Dikenai Tiket Masuk, Segini Harganya

Wisata ke Venesia Italia Bakal Dikenai Tiket Masuk, Segini Harganya

Travel Update
Piala Dunia 2026, Jarak Antar Stadion Terjauh Capai 5.000 Km

Piala Dunia 2026, Jarak Antar Stadion Terjauh Capai 5.000 Km

Travel Update
Vaksin Booster Akan Jadi Syarat Perjalanan dan Kegiatan Masyarakat

Vaksin Booster Akan Jadi Syarat Perjalanan dan Kegiatan Masyarakat

Travel Update
Australia Cabut Aturan Vaksinasi Covid-19 untuk Turis Internasional, Per 6 Juli 2022

Australia Cabut Aturan Vaksinasi Covid-19 untuk Turis Internasional, Per 6 Juli 2022

Travel Update
2 Rute Internasional Tambahan di Bandara Ngurah Rai Bali, ada Singapura dan Manila

2 Rute Internasional Tambahan di Bandara Ngurah Rai Bali, ada Singapura dan Manila

Travel Update
Solo Car Free Day Libur Saat Hari Raya Idul Adha 10 Juli 2022

Solo Car Free Day Libur Saat Hari Raya Idul Adha 10 Juli 2022

Travel Update
Liburan 2 Hari 1 Malam ke Kulon Progo, Butuh Bujet Berapa?

Liburan 2 Hari 1 Malam ke Kulon Progo, Butuh Bujet Berapa?

Travel Tips
Naik Maskapai Ini, Bisa Gratis Masuk Gedung Tertinggi di Dunia

Naik Maskapai Ini, Bisa Gratis Masuk Gedung Tertinggi di Dunia

Travel Promo
Thai Lion Air Layani Rute Bali-Bangkok PP, Tiket Mulai Rp 2,6 Juta

Thai Lion Air Layani Rute Bali-Bangkok PP, Tiket Mulai Rp 2,6 Juta

Travel Update
Calon Jemaah Haji Furoda Dideportasi karena Tidak Resmi, Hati-hati Pilih Jasa Travel Haji

Calon Jemaah Haji Furoda Dideportasi karena Tidak Resmi, Hati-hati Pilih Jasa Travel Haji

Travel Update
Rute ke Candi Plaosan di Klaten, Tidak Jauh dari Candi Prambanan

Rute ke Candi Plaosan di Klaten, Tidak Jauh dari Candi Prambanan

Travel Tips
Jemaah Haji Furoda Batal Berangkat, Bagaimana Pencegahan di Kemudian Hari?

Jemaah Haji Furoda Batal Berangkat, Bagaimana Pencegahan di Kemudian Hari?

Travel Update
7 Tips Traveling bagi Orang Tua Agar Nyaman di Perjalanan 

7 Tips Traveling bagi Orang Tua Agar Nyaman di Perjalanan 

Travel Tips
Monas Buka Kembali, Bisa Naik ke Puncak Tugu

Monas Buka Kembali, Bisa Naik ke Puncak Tugu

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.