Rabbani Wahed, Tarian Khas Bireuen yang Perlu Diselamatkan

Kompas.com - 09/02/2014, 21:00 WIB
Personel satu grup Rabbani Wahed Pante Rheng Samalanga, Bireuen sedang mengikuti latihan rutin. KOMPAS.COM/DESI SAFNITA SAIFANPersonel satu grup Rabbani Wahed Pante Rheng Samalanga, Bireuen sedang mengikuti latihan rutin.
|
EditorI Made Asdhiana
BIREUEN, KOMPAS.com — Ini dia tarian khas Aceh bernuansa Islam kental asal Kabupaten Bireuen, Aceh. Ya, Rabbani Wahed, asal Desa Pante Rheng, Kecamatan Samalanga—berjuluk kota santri—yang banyak dikisahkan tari ini dilahirkan oleh Abu Syamsyah alias Abu Sab awal 1950-an.

Pantas saja, syair atau bacaan di dalam tarian yang hanya dimainkan oleh para lelaki ini semuanya berisi takbir, tasbih, salawat serta puji-pujian kepada Allah dan rasulnya. Kalaupun ada kalimat dalam bahasa Aceh itu juga merupakan kalimat pujian yang diterjemahkan ke dalam bahasa daerah tersebut sambil memadukan dengan gerakan yang unik namun penuh heroik melebihi Seudati maupun Saman.

Penuturan Ketua Sanggar Seni Rabbani, Desa Pante Rheng, Muzakkir, tarian Rabbani tersebut saat ini sudah dikenal hingga ke mancanegara, seperti Turki dan Malaysia. Bahkan mereka beberapa kali sudah diundang ke Malaysia untu mengisi acara-acara kenegaraan di sana.

“Tahun 2002 mewakili Indonesia ke Turki, selanjutnya 2011 pernah diundang TV Alhijrah Malaysia dalam acara pengambilan gambar titian ombak, serta beberapa acara baik di beberapa provinsi di Indonesia maupun luar negeri,” jelas Muzakkir, Minggu (9/2/2014).

Menurut Muzakkir, dalam penampilan ke luar negeri tersebut selalu mendapat pujian serta kekaguman dari para penonton yang menyimak syair maupun gerakan para penarinya. Sebanyak sembilan orang penari didampingi Syeh Radar sebanyak dua orang, mereka dilatih keras untuk bisa mahir menarikan tarian terbilang sulit itu.

Sekilas, saat klimaks tarian ini ditampilkan, ada gerakan-gerakan yang mana pada pada saat doa penutup para penari benar-benar larut dalam doa sehingga seperti tidak sadarkan diri, namun itu sebenarnya larut dalam doa atau benar-benar menyerahkan diri kepada Allah sambil mengucapkan tahlil atau Lailahaillallah terus menerus dengan kusyuk, sehingga mereka semua tergeletak seperti tak sadarkan diri.

Ditambahkan Muzakir, dirinya akan melakukan penyelamatan terhadap kesenian daerah ini agar tidak diklaim oleh pihak lain. “Kita akan mengurus perizinan seperti akte notaris dan lain sebagainya, agar rabbani wahed menjadi tarian khas asal Samalanga, Bireuen, sehingga diketahui masyarakat luas,” katanya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X