Kompas.com - 10/04/2014, 15:50 WIB
Ahok dan istrinya, Desi, menunjukkan produk lempuk durian buatan mereka di kediamannya di Desa Selatan Baru, Kabupaten Bengkalis, Riau. Lempuk durian menjadi ikon pulau itu. KOMPAS/SYAHNAN RANGKUTIAhok dan istrinya, Desi, menunjukkan produk lempuk durian buatan mereka di kediamannya di Desa Selatan Baru, Kabupaten Bengkalis, Riau. Lempuk durian menjadi ikon pulau itu.
EditorI Made Asdhiana
NALURI bisnis Selamat (33), yang lebih dikenal dengan panggilan Ahok, sudah terasah sejak masih remaja. Saat anak-anak seusianya masih mengenyam bangku pendidikan, Ahok justru sudah berkecimpung dalam usaha yang masih dijalaninya sampai saat ini. Usahanya bahkan sudah semakin maju dan terus berkembang hingga kini.

Pilihan usaha Ahok bermula dari kecintaannya pada buah durian. Maklum, buah favorit itu melimpah di tempatnya. Pulau Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, Riau, memiliki musim durian yang dapat dipanen dua kali dalam setahun. Pada puncak musim, harga buah berduri itu dapat menyentuh angka yang sangat murah.

Bermula pada tahun 1991, melihat berlimpahnya durian, memunculkan ide Ahok untuk memulai bisnis makanan menggunakan bahan dasar ”Buah Raja” itu. Ide itu kemudian dibicarakannya dengan ibunya, Aing (70), yang memang gemar membuat kue.

Aing mengusulkan agar Ahok membuat lempuk durian karena komposisi resepnya sederhana. Buah durian hanya perlu dilepas dari bijinya, kemudian ditambah gula dan campuran resep keluarga. Adonan itu kemudian dimasak sampai menjadi kental berupa gumpalan kenyal tetapi lembut.

”Lempuk durian kami sama sekali tidak memakai bahan pengawet. Kami kapok memakai pengawet karena merusak rasa atau mutu lempuknya,” ujar Desi Aryati (26), istri Ahok saat dikunjungi di kediamannya di Desa Selat Baru, Kecamatan Bantan, Bengkalis, beberapa saat lalu.

Lempuk buatan Ahok dan ibunya mulanya hanya di pasarkan di seputaran Bengkalis. Ahok pun tidak membuat kemasan sendiri. Dia hanya memasarkan lempuk matang yang disimpan dalam kaleng kedap udara. Lempuk itu dijual secara kiloan kepada toko makanan, yang kemudian mengemasnya dengan merek dagang si pemilik toko.

Keunggulan rasa lempuk buatan Ahok, yang sangat gurih dan empuk, akhirnya sampai ke Kota Pekanbaru, Riau. Toko Mega Rasa, Pekanbaru, salah satu pusat jajanan dan oleh-oleh khas Riau mulai memesan pada Ahok. Mulanya pesanan itu hanya satu sampai dua kaleng (ukuran 25 kilogram) atau 50 kilogram, tetapi lama-kelamaan pesanan meningkat sampai mencapai 2 ton per bulan.

Toko sejenis lainnya milik Haji Amin juga memesan dalam jumlah besar. Toko makanan di Dumai, Selatpanjang, Duri, sampai Batam, Kepulauan Riau, juga meminta pesanan serupa. Ahok sering kali kewalahan dan tidak bisa mengirimkan pesanan karena bahan baku tidak tersedia.

Merek dagang

Tahun 2010, setelah Ahok menyunting Desi sebagai pendamping hidupnya, pola bisnis lempuk duriannya mulai diubah. Pasangan ini bertekad membuat merek dagang sendiri dengan label Citra Rasa. Dengan label baru, mereka memulai pemasaran baru. Tidak lama kemudian, lempuk Citra Rasa yang sejak awal dikenal dengan merek lain beredar di hampir seluruh wilayah Riau, seperti Pekanbaru, Dumai, Duri, Selatpanjang menyeberang sampai ke Batam, Tanjung Pinang, bahkan ke Tangerang, Banten.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.