Sejarah Kalimantan di Mata Leupold

Kompas.com - 24/04/2014, 16:02 WIB
Pengunjung menyaksikan salah satu foto dalam Pameran Foto Memori dari Kalimantan karya ahli geologi asal Swiss, Wolfgang Leupold, tahun 1921-1927 dan koleksi foto bersejarah Kalimantan dari Lembaga Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV), Rabu (23/4/2014), di Erasmus Huis, Jakarta. Pameran yang digelar tanggal 22 April 2014 hingga 6 Mei 2014 ini menampilkan karya-karya foto bersejarah yang diabadikan selama masa kolonial. KOMPAS/ALOYSIUS BUDI KURNIAWANPengunjung menyaksikan salah satu foto dalam Pameran Foto Memori dari Kalimantan karya ahli geologi asal Swiss, Wolfgang Leupold, tahun 1921-1927 dan koleksi foto bersejarah Kalimantan dari Lembaga Kerajaan Belanda untuk Kajian Asia Tenggara dan Karibia (KITLV), Rabu (23/4/2014), di Erasmus Huis, Jakarta. Pameran yang digelar tanggal 22 April 2014 hingga 6 Mei 2014 ini menampilkan karya-karya foto bersejarah yang diabadikan selama masa kolonial.
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS — Dengan sangat rapi, ahli geologi Swiss, Wolfgang Leupold, mengabadikan momen-momen kenangan saat dia tinggal di Pulau Kalimantan pada 1921-1927. Lewat dokumentasi fotonya, sejarah kolonialisme mendapatkan pembuktian. Karya Leupold dipamerkan pada 22 April 2014 hingga 6 Mei 2014 di Erasmus Huis, Jakarta.

Sejak duduk sebagai mahasiswa geologi Swiss pada 1920-an, Leupold tertarik dengan Hindia Belanda atau Indonesia. Bahkan, Leupold sengaja belajar bahasa Belanda dan Melayu karena ingin melamar kerja ke Kementerian Kolonial Belanda yang saat itu tak memiliki ahli geologi untuk kebutuhan pengeboran minyak di Indonesia.

Pada November 1921, Leupold bersama istrinya, Erika Bleuler, bertolak dari Antwerpen, Belanda, menumpang kapal barang Djokia. Sebulan kemudian, pasangan itu tiba di Batavia dan mulai menetap di Kalimantan pada 1922.

Bersenjatakan kamera merek Contessa Nettel, Leupold mengabadikan obyek-obyek khas Borneo masa itu, seperti pembuatan perahu, sungai-sungai Kalimantan, masyarakat Suku Dayak, termasuk tradisi unik mereka, salah satunya tato tubuh secara manual. Dia juga memotret eksplorasi kuno tambang batubara dan minyak bumi di Tanjung Panjang, Pulau Bunyu, dan Tarakan. Bagi Leupold dan Erika, enam tahun di Indonesia sangat berkesan. Dalam catatan hariannya, Erika pernah menuliskan: ”Aku tahu, dengan melalui kehidupan di Hindia Belanda, aku tercerabut dari kehidupan Eropa,” ujar dia.

Dalam buku Memori dari Kalimantan, yang diterbitkan Museum Etnografi Universitas Zurich, cucu Leupold, Ursula Ohnewein-Leupold, menyatakan, selama di Indonesia, kakeknya gemar memotret dan mengumpulkan artefak-artefak bersejarah.

”Ayah saya, Urs Leupold, anak tertua kakek yang lahir di Indonesia, usul agar benda-benda yang dikumpulkan dari Indonesia diserahkan ke museum,” katanya. Akhirnya, cucu-cucu Leupold menyerahkan benda-benda koleksi kakeknya, termasuk foto-foto, ke museum. Hingga kini, barang-barang itu tersimpan di Museum Etnografi Universitas Zurich.

Pada pembukaan pameran ”Berbagai Singkapan Borneo” di Swiss pada 2011, Direktur Museum Etnografi Universitas Zurich Mareile Flitsch mengatakan, karya Leupold merupakan kesaksian dari perjalanan, ekspedisi, peninggalan usaha perdagangan, hingga kolonialisme. (ABK)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X