Kompas.com - 09/09/2014, 11:53 WIB
Para penari berpose setelah menari cakalele saat menyambut rombongan Kementerian Perhubungan di Bandar Udara Mali, Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (30/8/2014).

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQPara penari berpose setelah menari cakalele saat menyambut rombongan Kementerian Perhubungan di Bandar Udara Mali, Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (30/8/2014).
EditorI Made Asdhiana

Saat tiba di Alor, NTT, kami disambut dengan tari cakalele. Begitu pun saat kami mendarat di Bandara Frans Seda, Maumere, dan Bandara Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Persamaan tarian itu, para penari membawa pedang dan tameng. Mereka mengawal tamu yang datang.

Antonius Anton Sogelaka (81), guru sekaligus sesepuh Maumere, mengatakan, tari papak khas Maumere itu berarti sambutan dan penghormatan bagi tamu. Bagi warga, tamu ibarat pahlawan perang yang perlu dilindungi keselamatannya. Jika sesuatu terjadi pada tamu, tuan rumah harus bertanggung jawab sepenuhnya. Tari cakalele dari Alor dan tari papak dari Sumba pun maknanya lebih kurang sama.

Sikap ini rupanya membuat pendatang, terutama pelancong mancanegara, betah berada di NTT. Di Alor, kami menjumpai beberapa pelancong anak-anak menyantap mi instan di pintu masuk bandara. Sikap mereka seperti warga berada di kampungnya sendiri. ”Kami sudah sepekan di sini dan senang karena warganya baik-baik,” kata Kelly, ibu dari anak-anak bule itu.

Warga Alor menjuluki pulaunya sebagai ”Pulau Berkat”. ”Siapa pun yang pernah menginjakkan kakinya di Alor selalu mendapat berkat karena pulau ini pulau berkat,” kata Bupati Alor Amon Djobo. Berkat itu dapat diartikan bahwa warga Alor ramah, murah senyum, dan melindungi tamu sehingga pendatang merasa betah.

Menyinggahi daerah di Maluku dan NTT seperti melihat wajah lain Indonesia. Semangat Hatta, Soekarno, dan keindahan alam timur Indonesia belum cukup untuk mendongkrak wilayah itu maju. (Mohammad Hilmi Faiq/C Anto Saptowalyono)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.