Kompas.com - 24/01/2015, 13:16 WIB
EditorI Made Asdhiana

Istana Kuning berdiri pada lahan seluas lebih kurang 2.000 meter persegi di pusat kota Pangkalan Bun. Di salah satu sisinya berderet rumah kayu yang dihuni kerabat kesultanan. Karena berada di pusat kota, istana mudah dijangkau dengan angkutan umum (taksi, ojek, mikrolet) dan kendara pribadi.

Area parkir cukup luas. Di sini ada papan informasi tata cara masuk istana. Di papan itu dicantumkan nomor telepon seluler pemandu. Pemandunya bernama Gusti M Nasar Halil, Bahransyah, dan M Syairani. Tanpa pemandu, pengunjung tidak bisa masuk menikmati istana.

Pemandu amat ramah dan dengan sabar menerangkan seluruh aspek Istana Kuning. Tak ada tarif atau retribusi untuk masuk kawasan ini. Juga tak ada tarif bagi pemandu. Jika ingin memberi, berilah dengan ikhlas dan sukarela untuk perawatan istana dan honor pemandu.

Filosofi

Tiang-tiang dalam istana penuh ukiran. Salah satu motif ialah daun dan bunga teratai dan pakis di guci atau belanga. Guci adalah simbol hati. Dalam guci ada air yang memberi kehidupan. Bentuk daun teratai dan pakis yang keluar dari guci menyerupai air mancur.

Hati menyerap darah kotor dan mengeluarkan darah bersih. Air menyangga kehidupan tumbuhan yang menyerap udara kotor (karbondioksida) dan mengeluarkan udara bersih (oksigen). Motif itu mungkin ingin menunjukkan Kesultanan Kutaringin mengupayakan kehidupan indah, serasi, dan damai.

Di dalam salah satu lemari di ruang karaton lawang tersusun piring kecil, sedang, dan besar. Menurut Syairani, piring kecil untuk rakyat, piring sedang untuk bangsawan, dan piring besar untuk sultan. ”Jika semua makanan dalam piring besar itu habis dimakan oleh sultan, itu pertanda kerakusan,” katanya.

Untuk itu, dalam piring besar memang disajikan banyak makanan. Namun, sultan hanya mengambil yang diperlukan. Selebihnya dibagikan kepada rakyat. Makanan yang dibagikan itu bukan sisa, melainkan berkat dari sultan kepada rakyat. Pada prinsipnya, manusia makan dari piring kecil atau porsi cukup.

Di ruang itu juga ada kereta kencana, gong, dan alat musik kesultanan. Jangan lupa cermati benda-benda pusaka seperti tombak, panji, payung, dan bendera. Amati juga deretan lukisan Sultan I sampai Sultan XIV, foto Sultan XV, foto-foto lama Istana Kuning, foto-foto kerabat kesultanan, dan manekin berpakaian adat kesultanan.

Kota beringin

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.