Kompas.com - 25/07/2015, 13:07 WIB
EditorI Made Asdhiana
DI ruang belakang rumah rusak itu, di bawah cahaya bulan purnama, empat pria berbaris menyusun formasi. Hanya desah suara ombak yang terdengar saat mereka mulai mengatur kuda-kuda.

Salah satu pria di barisan depan, yang terlihat paling senior, menyerukan aba-aba, dan jurus pertama pun dilancarkan. Tangan kanan meluncur memukul ke depan, tangan kiri ditarik ke belakang.

Jurus demi jurus mengalir. Sekilas gerakan-gerakannya mengingatkan pada jurus silat betawi yang sering dipertunjukkan di Jakarta. ”Memang hampir sama, tetapi sebenarnya berbeda. Ini dasarnya silat yang sudah turun-temurun diajarkan di pulau ini,” tutur Marhawi alias Sanggo (50), pria pemberi aba-aba yang tak lain adalah guru silat anak-anak muda di Pulau Kelapa, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Di tengah makin terkikisnya berbagai tradisi asli Orang Pulo (sebutan untuk warga pulau-pulau di Kepulauan Seribu), minat anak-anak muda belajar seni bela diri setempat ini memberikan harapan pelestarian kekayaan budaya di wilayah itu.

”Saya dulunya tak tertarik. Tetapi, saat makin banyak anak-anak SMA dan SMP yang berlatih, saya jadi ingin ikut belajar. Saya pikir saya butuh bekal untuk jaga diri saat merantau nanti,” ujar Ahmad Badrutamam (24), salah satu pemuda yang berlatih malam itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.