Tarik Wisman, Bantul Andalkan Desa Wisata

Kompas.com - 26/03/2016, 10:51 WIB
Wisatawan menikmati suasana Hutan Pinus Mangunan di Kecamatan Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (23/12/2015). Hutan yang berjarak 23 kilometer dari pusat kota Yogyakarta itu menjadi tempat wisata alternatif bernuansa alam. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOWisatawan menikmati suasana Hutan Pinus Mangunan di Kecamatan Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Rabu (23/12/2015). Hutan yang berjarak 23 kilometer dari pusat kota Yogyakarta itu menjadi tempat wisata alternatif bernuansa alam.
EditorI Made Asdhiana

BANTUL, KOMPAS.com - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengandalkan sejumlah desa wisata di wilayah setempat untuk menarik minat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

"Kalau kita mau menarik wisatawan mancanegara itu hanya di desa wisata, karena selama ini tamunya rata-rata dari luar negeri, sehingga pengembangan desa wisata juga menjadi prioritas," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bantul, Bambang Legowo di Bantul, Sabtu (26/3/2016).

(BACA: Masa Depan Bantul di Sektor Pariwisata)

Dia mengatakan Bantul yang meliputi 75 desa sampai saat ini sudah ada 36 desa wisata yang terbentuk sesuai potensi dan keunggulan daya tarik masing-masing.

Desa wisata itu dibagi menjadi tiga kategori, yakni desa wisata embrio, desa wisata berkembang, dan desa wisata mandiri.

KOMPAS.com/Adhika Pertiwi Festival Gerobak Sapi 2015 diikuti oleh 227 peserta di Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta..jpg
Bambang mengatakan dari semua desa wisata itu, hanya beberapa desa wisata yang sudah mandiri dan sering menerima tamu asing atau wisman, di antaranya Desa Kebonagung dan Desa Wisata Wukirsari, Imogiri, Desa Wisata Tembi Sewon, serta Desa Wisata Krebet, Pajangan yang terkenal dengan sentra batik kayu.

"Kami juga membantu promosi desa wisata, sehingga harapannya dalam hal tujuan wisata tidak hanya pilihan kedua, tetapi pilihan pertama, karena mereka bisa menikmati hidup lebih nyaman di desa, ini cocok bagi wisatawan yang ingin mencari ketenangan," katanya.

(BACA: 5 Warung Paling Top di Yogya untuk Penggemar Olahan Kambing)

Menurut Bambang, pihaknya berharap para pengelola desa wisata atau kelompok sadar wisata (pokdarwis) dapat meningkatkan kualitas pelayanan terhadap wisman dengan menyediakan homestay atau tempat menginap yang representatif serta fasilitas dan sarana penunjang pariwisata yang memadai.

"Sedangkan untuk meningkatkan kapasitas pokdarwis, kita menggandeng perguruan tinggi untuk mengadakan pelatihan-pelatihan serta menyelaraskan pemahaman pengembangan desa wisata. Kita juga mengajak tokoh-tokoh masyarakat wisata untuk diskusi," katanya.

KOMPAS/HARIS FIRDAUS Sugeng Handoko, menggerakkan warga untuk mengembangkan pariwisata di Gunung Api Purba Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Bambang memaparkan, di seluruh desa wisata tersebut tidak terdapat tempat pemungutan retribusi untuk mengetahui data valid tingkat kunjungan.

Namun, hal itu bisa dilihat dari catatan pengurus desa wisata, mengingat tamu mayoritas berkunjung secara rombongan.

"Namun kita akan coba data kunjungan wisatawan ke desa-desa wisata, termasuk daya tampung homestay dan jumlah pengurus. Karena itu nanti berhubungan dengan program pengembangan maupun publikasi. Ini sudah kita mulai tahun kemarin," katanya.



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X