Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Leroban, Makanan Desa Rasa Istimewa Khas Banyuwangi

Kompas.com - 11/07/2017, 08:03 WIB
Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati

Penulis

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki banyak makanan istimewa. Selain sego tempong, rujak soto dan pecel pitik, ada satu lagi yang kuliner yang wajib dicicipi jika berkunjung ke kabupaten paling timur Pulau Jawa ini. Namanya  Jangan Leroban dan Sambel Blotong.

Sayangnya, tidak banyak warung yang menjual makanan tersebut. Kedua makanan tersebut termasuk langka karena pembuatannya rumit dan butuh ketelatenan. Jika beruntung, Anda bisa menikmati Jangan Leroban dan Sambal Blotong di rumah warga Suku Using di Banyuwangi.

BACA: Diaspora Banyuwangi, Kulinernya Mengobati Rasa Rindu...

Salah satunya adalah di Desa Licin, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. Ratih Puspa, warga Desa Licin kepada Kompas.com menjelaskan bahwa pembuatan Jangan Leroban biasanya berbarengan dengan pembuatan minyak kelapa murni dari santan kelapa atau disebut "minyak kelentik" oleh masyarakat Suku Using.

Santan murni dari kelapa akan dipanaskan hingga keluar bagian minyaknya. Bagian minyak dan ampasnya kemudian diangkat dan disaring.

"Bagian air setelah diambil ampas dan minyaknya itulah yang dijadikan jangan loroban, sedangkan ampas kelapanya disebut blotong yang dibuat sambal," jelas Ratih.

Jangan leroban, makanan khas Suku Using yang mulai terlupakan.KOMPAS.COM/Ira Rachmawati Jangan leroban, makanan khas Suku Using yang mulai terlupakan.

Tidak ada bumbu khusus yang digunakan untuk memasak Jangan Leroban. Tinggal menambahkakan potongan lengkuas yang digeprek, batang serai, cabai kecil yang utuh seta gula dan garam dalam air sisa pembuatan minyak kelentik.

Untuk isiannya, biasanya menggunakan jantung pisang yang masih muda atau ontong, sayur pakis, dan daun singkil.

"Jangan loroban tidak perlu pakai bawang merah atau bawang putih. Hanya lengkuas, serai dan cabai yang utuh. Isi sayurnya boleh apa saja tapi yang sering ya pakai jantung pisang. Tapi yang tidak boleh dilupakan ya daun singkil. Ini penyedap rasanya. Fungsinya sama seperti daun salam hanya daun singkil bentuknya seperti daun sirih tapi lebih lemas daunnya dan tumbuh liar di sekitar sini," jelas Ratih.

BACA: Barong Ider Bumi, Ritual Bersih Kampung di Desa Kemiren Banyuwangi

Semua sayur tinggal dipotong-potong, lalu dimasukkan ke dalam air dari sisa pembuatan minyak kelapa. Kemudian dimasak hingga sayur matang.

"Jadi bukan pakai santan kelapa tapi air sisa pembuatan minyak kelapa," jelasnya.

Sambel blotong yang terbuat dari ampas pembuatan minyak dari santan kelapaKOMPAS.COM/Ira Rachmawati Sambel blotong yang terbuat dari ampas pembuatan minyak dari santan kelapa

Sementara untuk Sambal Blotong, Ratih mengatakan ampas minyak kelapa yang berwarna coklat kehitaman tinggal dicampur dengan cabai dan batang serai yang sudah dihaluskan.

"Lebih nikmat kalau disajikan dengan nasi hangat dan lauk pepes ikan laut, tahu tempe serta gimbal jagung," jelas Ratih.

Kuah Jangan Leroban berwarna cenderung putih dan tidak terlalu pekat karena tidak menggunakan santan, tapi rasa gurih dari kelapa masih sangat dominan. Sayangnya, menurut Ratih, sudah jarang orang memasak jangan leroban karena masyarakat sekarang lebih memilih menggunakan minyak kelapa di pasaran dari pada membuat sendiri di rumah.

"Saya buat jangan leroban kalau pas ada yang pesan minyak kelentik atau minyak kelapa murni dari santan. Kalau dulu sering, tapi sekarang orang lebih banyak milih pake minyak yang beli di pasar. Jangan leroban juga kalah populer sama rujak soto, pecel pitik sama sego tempong. Padahal ya jangan leroban ini yang khas makanan Using. Makanan dari desa tapi rasanya istimewa," jelas Ratih.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Itinerary Seharian di Danau Maninjau, Bisa Kemana Aja?

Itinerary Seharian di Danau Maninjau, Bisa Kemana Aja?

Itinerary
Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka: Lokasi, Jam Buka, Harga Tiket Terkini

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka: Lokasi, Jam Buka, Harga Tiket Terkini

Jalan Jalan
Wahana Baru Garden Trem di Wisata Selecta Kota Batu Diserbu Pengunjung

Wahana Baru Garden Trem di Wisata Selecta Kota Batu Diserbu Pengunjung

Travel Update
Bukit Paralayang, Favorit Baru Saat Libur Lebaran di Gunungkidul

Bukit Paralayang, Favorit Baru Saat Libur Lebaran di Gunungkidul

Travel Update
85.000 Orang Berkunjung ke Pantai Anyer Selama 2 Hari Libur Lebaran

85.000 Orang Berkunjung ke Pantai Anyer Selama 2 Hari Libur Lebaran

Travel Update
KAI Tambah Kereta Yogyakarta-Gambir PP untuk Arus Balik Lebaran 2024

KAI Tambah Kereta Yogyakarta-Gambir PP untuk Arus Balik Lebaran 2024

Travel Update
Sri Sultan HB X Gelar 'Open House' untuk Umum Pekan Depan

Sri Sultan HB X Gelar "Open House" untuk Umum Pekan Depan

Travel Update
5 Agenda TMII Hari Ini: Atraksi Bakar Batu Papua dan Air Mancur Menari Spesial

5 Agenda TMII Hari Ini: Atraksi Bakar Batu Papua dan Air Mancur Menari Spesial

Travel Update
Bandara Ngurah Rai Layani 69.000 Penumpang Hari Ini, Puncak Arus Balik 

Bandara Ngurah Rai Layani 69.000 Penumpang Hari Ini, Puncak Arus Balik 

Travel Update
10 Kereta Api Jarak Jauh Favorit untuk Angkutan Lebaran 2024

10 Kereta Api Jarak Jauh Favorit untuk Angkutan Lebaran 2024

Travel Update
6 Aktivitas di Wisata Panorama Boyolali, Mandi di Air Terjun

6 Aktivitas di Wisata Panorama Boyolali, Mandi di Air Terjun

Travel Tips
Libur Lebaran, Wisatawan di Gunungkidul Sudah Mencapai 60.000 Orang

Libur Lebaran, Wisatawan di Gunungkidul Sudah Mencapai 60.000 Orang

Hotel Story
 Viral Video Turis Indonesia Rusak Pohon Sakura di Jepang, Ini Etikanya

Viral Video Turis Indonesia Rusak Pohon Sakura di Jepang, Ini Etikanya

Travel Update
8 Syarat Mendaki Gunung Slamet usai Lebaran 2024, Wajib Surat Sehat

8 Syarat Mendaki Gunung Slamet usai Lebaran 2024, Wajib Surat Sehat

Travel Update
6 Tempat Wisata di Cicalengka Dekat Stasiun, Naik Motor 10 Menit

6 Tempat Wisata di Cicalengka Dekat Stasiun, Naik Motor 10 Menit

Jalan Jalan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com