Kompas.com - 18/12/2017, 20:30 WIB
Pagelaran Mapag Srengenge di RTH Singojuruh Banyuwangi Sabtu (16/12/2017) digagas oleh Prasasti yang berisi anak anak muda yang tinggal di wilayah Singonjuruh KOMPAS.COM/Ira RachmawatiPagelaran Mapag Srengenge di RTH Singojuruh Banyuwangi Sabtu (16/12/2017) digagas oleh Prasasti yang berisi anak anak muda yang tinggal di wilayah Singonjuruh
|
EditorWahyu Adityo Prodjo


BANYUWANGI, KOMPAS.com - Para pemuda di Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi yang tergabung dalam Prasasti menggelar drama kolosal yang berjudul "Mapag Srengenge" Sabtu (16/12/2017). Mapag adalah bahasa Using yang berarti menjemput, sedangkan Srengenge berarti matahari.

Drama yang melibatkan sekitar 80 anak muda tersebut menceritakan tokoh Singomanjuruh yang didampingi dengan Mpu Wiyu. Mereka mencari tempat untuk berkumpulnya para ahli yang mampu mengubah dunia yang gelap gulita menjadi terang benderang.

(Baca juga : Serunya Menyeberang dari Banyuwangi ke Pulau Menjangan Bali)

 

Pencarian Singomanjuruh terhalang oleh hawa nafsu dan angkara murka dari manusia yang tinggal di bumi. Mpu Wiyu kemudian meminta Singomanjuruh untuk bermeditasi dan mendapatkan petunjuk untuk mengubah dunia menjadi terang benderang dia harus mencari "Sang Surya".

Mapag srengenge menceritakan tentang pencarian Sang Surya oleh Singomanjuruh dan MPU Wiyu. Pagelaran tersebut di gelar di RTH Singojuruh Sabtu (16/12/2017)KOMPAS.COM/Ira Rachmawati Mapag srengenge menceritakan tentang pencarian Sang Surya oleh Singomanjuruh dan MPU Wiyu. Pagelaran tersebut di gelar di RTH Singojuruh Sabtu (16/12/2017)

Di tengah perjalanan mencari Sang Surya, Singomanjuruh bertemu dengan Putri Kala, penjaga hutan belantara. Putri cantik tersebut berjanji membantu Singomanjuruh mencari Sang Surya dengan syarat jika berhasil menemukan Sang Surya, Singomanjuruh harus membuat prasasti untuk menyatukan seluruh umat manusia.

Dengan bantuan Putri Kala, akhirnya Singomanjuruh berhasil menemukan Sang Surya dan juga tempat yang luas berkumpulnya para ahli yang mampu merubah dunia yang gelap gulita menjadi terang benderang dengan hadirnya Sang Surya.

(Baca juga : Mampir ke Banyuwangi, Wajib Cicipi 5 Kuliner Ini)

Adlin Mustika (21) penata gerak sekaligus penata musik pagelaran drama kolosal Mapag Srengenge kepada Kompas.com, Sabtu (16/12/2017) menjelaskan, drama tersebut memang sengaja mengambil tema mencari surya atau matahari karena selama ini keberadaan matahari sering terlupakan oleh umat manusia.

Seorang penari Gandrung yang tampil di drama kolosal mapag srengenge Sabtu (16/12/2017)KOMPAS.COM/Ira Rachmawati Seorang penari Gandrung yang tampil di drama kolosal mapag srengenge Sabtu (16/12/2017)

"Padahal matahari adalah salah satu elemen penting agar kehidupan ini seimbang. Jadi pesan itu yang ingin kita sampaikan. Saling menghargai dan menghormati sesama isi bumi," jelas Adlin.

Sementara, prasasti yang dijadikan sebagai wujud janji yang dibuat oleh Singomanjuruh kepada Putri Kala adalah simbol persatuan dan kesatuan.

(Baca juga : Menikmati Kili-kili, Hutan Mangrove Cantik di Banyuwangi)

"Jika semua bersatu maka akan banyak kebaikan yang bisa dirasakan," jelasnya.

Selama 60 menit, pagelaran yang diadakan di ruang terbuka hijau Kecamatan Singonjuruh menyajikan berbagai fragmen yang membuat decak kagum penonton.

Pagelaran Mapag Srengenge di RTH Singojuruh Banyuwangi Sabtu (16/12/2017)KOMPAS.COM/Ira Rachmawati Pagelaran Mapag Srengenge di RTH Singojuruh Banyuwangi Sabtu (16/12/2017)

Musik dan gerakan yang dinamis mendominasi hampir sepanjang pertunjukkan. Bahkan di tengah-tengah pertunjukan juga disajikan fragmen"Meras Gandrung", yaitu wisuda penari muda menjadi penari gandrung profesional yang piawai menari dan bernyanyi.

Mereka juga memainkan alat musik tradisinoal, mulai angklung, gamelan yang dimainkan secara langsung oleh musisi-musisi muda di Singojuruh. Pagelaran melibatkan 150 pemain terbang atau rebana yang dikenal oleh masyarakat Banyuwangi sebagai kesenian hadrah.

Baca juga : Perayaan 1 Suro di Banyuwangi...

"Walaupun pagelaran ini diadakan di lapangan terbuka kecamatan namun kita tidak ingin menampilkan sesuatu yang biasa-biasa saja. Pagelaran yang berkualitas juga bisa dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di desa-desa tidak harus mereka yang tinggal di kota," jelas Muhammad Lutfi, Camat Singojuruh kepada Kompas.com, Sabtu (16/12/2017).

Pemeran Putri Kala sedang membantu Singomanjuruh mencari keberadaan Sang Surya dalam pagelaran mapag srengengeKOMPAS.COM/Ira Rachmawati Pemeran Putri Kala sedang membantu Singomanjuruh mencari keberadaan Sang Surya dalam pagelaran mapag srengenge

Selama kurang dari satu bulan, menurut Lutfi, anak-anak muda di Singojuruh berlatih untuk menampilkan yang terbaik untuk penonton.

Pagelaran melibatkan mahasiswa STKW Surabaya, hampir 50 persen lebih anak muda yang terlibat dalam pementasan tersebut berasal dari wilayah Singojuruh dan sekitarnya.

(Baca juga : Seblang, Ritual Tari Mistis Berusia Ratusan Tahun di Banyuwangi)

"Ini bukan hanya sekedar pagelaran tapi juga sebagai sarana untuk mengenalkan Singojuruh serta menambah kepercayaan diri para pemuda di sini bahwa mereka bisa berkarya. Dan ini akan menjadi wadah untuk anak-anak muda berkarya dalam bentuk seni tari, drama dan musik tradisional," pungkas Lutfi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lomba untuk Desa Wisata, Total Hadiah Rp 150 Juta

Lomba untuk Desa Wisata, Total Hadiah Rp 150 Juta

Travel Update
Pemerintah Spanyol Ubah Aturan Berjemur di Pantai Wajib Bermasker

Pemerintah Spanyol Ubah Aturan Berjemur di Pantai Wajib Bermasker

Travel Update
Festival Songkran di Chiang Mai Thailand Batal

Festival Songkran di Chiang Mai Thailand Batal

Travel Update
 5 Hotel Instagramable di Jakarta, Asyik buat Staycation

5 Hotel Instagramable di Jakarta, Asyik buat Staycation

Jalan Jalan
Kabar Gembira, Disney World Izinkan Turis Lepas Masker Saat Berfoto di Area Tertentu

Kabar Gembira, Disney World Izinkan Turis Lepas Masker Saat Berfoto di Area Tertentu

Jalan Jalan
Fans Marvel! Avengers Campus di Disneyland akan Dibuka 4 Juni 2021

Fans Marvel! Avengers Campus di Disneyland akan Dibuka 4 Juni 2021

Travel Update
Ada Toilet Umum yang Unik di Tokyo, Terlihat Seperti Mengambang

Ada Toilet Umum yang Unik di Tokyo, Terlihat Seperti Mengambang

Jalan Jalan
Tahun 2021 Ini, Turis Bisa Piknik di Taman Istana Buckingham

Tahun 2021 Ini, Turis Bisa Piknik di Taman Istana Buckingham

Jalan Jalan
Pascagempa, Seluruh Wisata Kelolaan Jatim Park Group Tetap Buka

Pascagempa, Seluruh Wisata Kelolaan Jatim Park Group Tetap Buka

Travel Update
Harga Rapid Test Antigen di Stasiun Turun Jadi Rp 85.000

Harga Rapid Test Antigen di Stasiun Turun Jadi Rp 85.000

Travel Update
5 Kafe Rooftop Instagramable di Jakarta, Cocok untuk Santai Sore Hari

5 Kafe Rooftop Instagramable di Jakarta, Cocok untuk Santai Sore Hari

Jalan Jalan
Resmi! Ada Gondola Baru untuk Wisatawan di Dusun Girpasang Klaten

Resmi! Ada Gondola Baru untuk Wisatawan di Dusun Girpasang Klaten

Travel Update
Larangan Mudik, Hotel Diharapkan Beri Paket Staycation Bonus Hampers Isi Produk Lokal

Larangan Mudik, Hotel Diharapkan Beri Paket Staycation Bonus Hampers Isi Produk Lokal

Travel Update
Pertama di Asia: Travel Bubble Taiwan-Palau Dimulai, Ini Aturannya

Pertama di Asia: Travel Bubble Taiwan-Palau Dimulai, Ini Aturannya

Travel Update
Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Accor Luncurkan Paket Staycation Unik untuk Berwisata Lokal, Tertarik?

Travel Promo
komentar di artikel lainnya
Close Ads X