6 Tradisi Unik Jelang Ramadhan - Kompas.com

6 Tradisi Unik Jelang Ramadhan

Kompas.com - 12/05/2018, 13:32 WIB
Pedagang mengelar dagangan saat tradisi Dandangan di ruas jalan Sunan Kudus, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (26/5/2017) sore.Tradisi menyambut bulan Ramadan dengan berjualan di pusat Kota Kudus ini diikuti ratusan pedagang dari berbagai kota itu merupakan tradisi sejak masa Sunan Kudus.KOMPAS.com/Puthut Dwi Putranto Pedagang mengelar dagangan saat tradisi Dandangan di ruas jalan Sunan Kudus, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (26/5/2017) sore.Tradisi menyambut bulan Ramadan dengan berjualan di pusat Kota Kudus ini diikuti ratusan pedagang dari berbagai kota itu merupakan tradisi sejak masa Sunan Kudus.

KOMPAS.com — Dalam hitungan hari, warga Muslim di Indonesia akan menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Biasanya, di sejumlah daerah ada tradisi turun-temurun yang dilakukan menjelang bulan puasa.

Meski dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, tujuannya sama: ungkapan rasa syukur atas datangnya bulan penuh berkah, Ramadhan.

Ini sejumlah tradisi unik menyambut Ramadhan yang ada di sejumlah daerah di Indonesia:

1. Tradisi Dandangan di Kudus

Menurut sejarah, "dandangan" diambil dari suara bedug Masjid Kudus yang berbunyi "dang, dang, dang" saat ditabuh untuk menandai awal Ramadhan.

Tradisi Dandangan telah mengakar kuat bagi masyarakat Kudus. Awalnya, Dandangan adalah tradisi berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus setiap menjelang Ramadhan. Mereka menunggu pengumuman Syeikh Jafar Shodiq tentang penentuan awal puasa.

Seiring berjalannya waktu, tradisi Dandangan juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di sekitar masjid. Akhirnya, Dandangan dikenal masyarakat sebagai pasar malam yang ada jelang Ramadhan.

Kirab Dandangan dilakukan dengan mengitari alun-alun kota sejauh 1 kilometer dengan berjalan kaki. Ketika sampai di depan pendopo kabupaten, mereka melakukan atraksi di depan bupati Kudus beserta jajarannya.

Kisah selengkapnya soal tradisi dandangan:
Tradisi Warga Kudus Menyambut Ramadhan

2. Pembagian kue apem di Surabaya

Di Surabaya, kue apem dibagikan kepada tetangga dan kerabat bersama makanan dan kue lainnya. Banyaknya kue apem yang dibagikan berdasarkan angka pada tahun hijriah.

Istilah apem berasal dari kata bahasa Arab, afwun, yang berarti maaf. Pembagian kue apem menjadi simbol permohonan maaf sesama manusia saat memasuki Ramadhan.

Sebelum dibagikan, kue apem itu disusun seperti gunungan di halaman Masjid Al-Akbar, Surabaya.

Baca juga:
Pembagian Kue Apem Jadi Tradisi Sambut Ramadhan di Surabaya 

3. Tradisi Megengan di Demak

Masyarakat di pesisir Pantai Utara ini menyambut Ramadhan dengan tradisi Megengan.

Istilah "Megengan" dalam bahasa Jawa bermakna menahan. Artinya, umat Islam diingatkan untuk menahan hawa nafsu.

Tradisi Megengan dimeriahkan dengan menampilkan acara kesenian rakyat, serta aneka kuliner tradisional. Kuliner tersebut disajikan di sepanjang Simpang Enam hingga kawasan Pecinan Demak.

Berikut kisah lebih jauh soal tradisi Megengan:
Sambut Ramadhan, Warga Demak Gelar Tradisi "Megengan" 

4. Resik Lawon di Banyuwangi

Warga Banyuwangi mempunyai tradisi unik jelang Ramadhan yaitu mencuci dan mengganti kain kafan penutup petilasan Ki Buyut Cungking.

Kain kafan ini memiliki panjang mencapai 110,75 meter.

Buyut Cungking dipercaya sebagai orang sakti dan penasehat Prabu Tawangalun pada masa kerajaan Blambangan yang merupakan cikal bakal Kabupaten Banyuwangi.

Ritual tersebut digelar antara tanggal 10-15 Ruwah dalam kalender Jawa pada Kamis atau Minggu.

Ritual Resik Lawon diawali dengan melepas kain putih yang menutup cangkup makam.

Kemudian, kain-kain tersebut dibawa ke Dam Krambatan Banyu Gulung untuk dicuci. Semua prosesi dalam ritual ini dilakukan oleh laki-laki.

Baca kisah soal Resik Lawon:
Resik Lawon, Tradisi Cuci Kain Putih Jelang Ramadhan di Banyuwangi 

5. Tradisi Bajong Banyu di Magelang

Bajong Banyu adalah tradisi yang digelar rutin setiap tahun yang diikuti oleh warga Dawung, mulai anak-anak sampai orang tua.

Tradisi ini bermakna membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa.

Warga berkumpul di lapangan desa sejak pagi hingga sore hari. Kemudian, mereka berjalan kaki menuju sumber air yang berjarak sekitar 500 meter dari lapangan dusun.

Selanjutnya, dilakukan prosesi pengambilan air dari sumber air Tuk Dawung oleh puluhan warga serta tokoh dan perangkat desa setempat.

Tuk Dawung merupakan sumber mata air yang telah ‘menghidupi’ seluruh warga Dawung dan sekitarnya.

Sebagai sumber pengairan lahan pertanian, air minum, membersihkan diri, dan kebutuhan lainnya.

Air yang sudah dimasukkan ke dalam kendi dibawa kembali menuju lapangan dusun, kemudian disatukan dalam kendi besar yang secara simbolis diberi doa oleh sesepuh Dusun Dawung.

Perang air diawali dengan warga saling melempar plastik yang berisi air. Mereka membaur menjadi satu. Semua bersuka cita.

Baca juga:
Bajong Banyu, Tradisi Perang Air Sambut Ramadhan di Magelang 

6. Tradisi Malamang dan Marandang di Padang

Tradisi Malamang dan Marandang biasanya dilakukan warga Padang, Sumatera Barat, untuk menyambut Ramadhan.

Malamang adalah membuat penganan lemang. Tradisi ini memasak penganan yang terbuat dari beras ketan itu biasanya dilakukan sepekan hingga sehari menjelang hari-hari besar dan bulan puasa.

Sementara, Marandang adalah memasak rendang. Hal ini dilakukan karena menganggap Ramadhan adalah bulan baik. Oleh karena itu, sebagai wujud rasa syukur, disajikan menu istimewa untuk sahur.

Bahkan, tak jarang, mereka yang berada di perantauan meminta dikirimkan rendang dari kampung halaman sebagai sajian perdana menjalani santap sahur di bulan Ramadhan.

Ingin tahu lebih jauh soal dua tradisi ini, baca juga:
Unik, Tradisi Malamang untuk Sambut Ramadhan 
Marandang, Tradisi Unik Sambut Ramadhan


Kompas TV Remaja masjid di Ambon Maluku, memiliki tradisi tahunan setiap menjelang bulan Ramadhan, yakni dengan membersihkan masjid.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Close Ads X