7 Profesi yang Hilang Seiring Modernisasi Jakarta

Kompas.com - 23/06/2019, 11:08 WIB
Pengojek sepeda ontel di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (28/5/2018). KOMPAS.com/NURSITA SARIPengojek sepeda ontel di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, Senin (28/5/2018).

Zaman dahulu kamera adalah barang mewah. Untuk itu jasa tukang foto sangat dibutuhkan, apalagi untuk momen istimewa seperti pernikahan. Pada era 1950-an bahkan tercatat hanya ada dua studio foto, yakni di daerah Pasar Tanah Abang dan Pasar Karet. Keduanya dimiliki oleh Tionghoa. Sedangkan toko kamera hanya ada satu, yakni di Pasar Baru.

Jika ada yang ingin menikah biasanya diantar dahulu naik delman ke studio foto sebelum resepsi pernikahan. Pada akhir 1950-an mulai muncurl toko afdruk atau cetak film, orang hanya perlu membawa film foto mereka. Pada 1960-an, studio foto sudah bisa mencetak film.

7. Tukang ramal

Pada 1950-an sampai 1960-an melihat tukang ramal di jalan ternyata hal yang biasa. Tukang ramal bisa melihat dari berbagai medium, misal dari garis telapak tangan, tulisan atau tanda tangan, sampai tanggal lahir. Kini tukang ramal tak lagi menjajakan jasanya di jalanan umum seperti dahulu.

Sebenarnya masih banyak profesi yang hilang atau mulai sedikit di Jakarta. Contohnya tukang patri (solder) yang membawa lembaran kaleng disusun melambai untuk dibunyikan, tukang cukur keliling yang suka mangkal di bawah pohon, tukang reparasi atau mengisi kasur kapuk, tukang minyak tanah, dan berbagai profesi lainnya.

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X