6 Desa dengan Kearifan Lokal di Indonesia

Kompas.com - 03/08/2019, 15:49 WIB
Exciting Banten on Seba Baduy 2019, Sabtu (4/5/2019). Dok Humas KemenparExciting Banten on Seba Baduy 2019, Sabtu (4/5/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan beragam budaya dan tradisi.

Kekayaan ini salah satunya kekhasan sejumlah wilayah di Indonesia yang masih menjaga kearifan lokal.

Berikut ini beberapa desa dengan kearifan lokal yang ada di Indonesia:

1. Desa Penglipuran

Desa Penglipuran merupakan desa yang ada di Bangle, Bali.

Penglipuran adalah salah satu desa tua di Bali.

Keberadaan desa ini sudah ada sejak abad ke-18. Di Desa Penglipuran, ada akulturasi masyarakat Bali Aga dengan Bali Majapahit.

Desa ini terbentuk dari gabungan Desa Bayung Gede (Komunitas Bali Aga) dan Kerajaan Bangli (komunitas Bali Majapahit).

Baca juga: Mengenal Kearifan Lokal Laut Selatan, Tempat Legenda Nyi Roro Kidul

Keunikan Desa Penglipuran adalah adanya keseragaman pada bagian depan rumah dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa.

Keunikan lain adalah adanya lorong dari satu rumah ke rumah lain yang saling berhubungan sebagai tanda keharmonisan kehidupan masyarakat.

2. Desa Sade Lombok

Desa ini berada di Rembitan, Kecamatan Puju, Lombok Tengah.

Ketika mendatangi desa ini, wisatawan akan menemui rumah-rumah warga asli Lombok yang merupakan suku Sasak.

Rumah-rumah di Desa Sade Lombok berupa rumah yang berdinding anyaman kayu, dan beratap alang-alang kering.

Keunikan lain dari tempat ini adalah setiap beberapa waktu sekali, lantainya dilumuri dengan kotoran kerbau.

Di Desa Sade juga ada tradisi perkawinan di mana ketika akan menikah pasangan harus diculik terlebih dahulu.

Warga desa ini masih sangat menjaga tradisi mereka. Anda akan mendapatkan sensasi tersendiri saat berkunjung ke desa ini.

3. Desa Wae Rebo

Keunikan Desa Wae Rebo adalah terdapatnya 7 rumah adat yang memiliki bentuk kerucut.

Dari sisi pariwisata, Desa Wae Rebo sudah terkelola dengan baik.

Jika berada di sini, wisatawan hanya akan menemukan penginapan yang terdiri dari 7 rumah adat.

Baca juga: Kearifan Lokal Petani Magetan, Pakai Burung Hantu untuk Basmi Hama Tikus

Rumah adat tersebut sudah bertahan selama 19 generasi yang disebut Mbaru Niang.

Bangunan rumah adat ini terbuat dari kayu dengan atap dari ilalang yang dianyam.

Bentuk Mbaru Niang mengerucut ke atas. Arsitektur masih tradisional dan sangat unik.

4. Desa Baduy

Desa Adat Baduy atau Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten adalah desa yang masih sangat menjaga tradisi.

Ada 65 kampung di Desa Kanekes yang terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Baduy Dalam terdiri dari 3 kampung yakni Cikartawana, Cibeo, dan Cikeusik.

Saat berkunjung ke Desa Baduy, wisatawan bisa menikmati keindahan alam dan kearifan lokalnya yang ada.

Di Baduy Dalam, terdapat beberapa peraturan, yakni halaman tak boleh dilewati, tidak boleh ambil foto dan video, dan selama bulan Kawalu tertutup selama tiga bulan.

Jadi, pengunjung tidak boleh masuk ke Baduy Dalam saati bulan Februari hingga April.

Desa Baduy Dalam juga melarang para turis asing untuk masuk ke dalam.

5. Desa Trunyan

Jika umumnya masyarakat Bali memperlakukan jenazah dengan cara dibakar, maka warga Desa Trunyan, Bali tak melakukannya.

Trunyan adalah salah satu desa yang terletak di pinggir Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Di Desa ini, jenazah tidak dikubur atau pun dibakar.

Tradisi unik yang mereka lakukan sejak turun temurun adalah membaringkan jenazah di atas tanah yang disebut Sema Wayah.

Jenazah dibiarkan hingga membusuk di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang.

Posisi jenazah berjejer bersanding dengan yang lainnya, lengkap dengan pembungkus kain sebagai pelindung tubuh di waktu prosesi dan hanya menampakkan bagian muka dari celah bambu "Ancak Saji".

Ancak Saji merupakan anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas.

6. Kampung Pitu

Kampung Pitu Nglanggeran, Gunungkidul , Yogyakarta, tergolong unik karena di kampung ini hanya terdapat 7 kepala keluarga.

Inilah yang membuat kampung ini berjuluk Kampung Pitu.

Kampung Pitu Nglanggeran hanya berjumlah 7 kepala keluarga karena ada kepercayaan bahwa setiap lebih dari 7 kepala keluarga, akan terjadi bencana atau peristiwa yang mengakibatkan jumlah KK kembali ke angka 7.

Hal inilah yang membuat masyarakat setempat percaya bahwa jumlah KK di Kampung Pitu harus  berjumlah 7.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X