Apa Benar Kualitas Turis Asing di Bali Menurun?

Kompas.com - 14/08/2019, 07:48 WIB
Wisatawan menikmati pemandangan gunung dan danau di kawasan wisata Geopark Gunung Batur, Kintamani, Bali, Selasa (5/9/2017). ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF Wisatawan menikmati pemandangan gunung dan danau di kawasan wisata Geopark Gunung Batur, Kintamani, Bali, Selasa (5/9/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa bulan belakangan, media sosial dijejali video kelakuan negatif turis asing di Bali. Mulai dari yang mengemis, merampok, menabrakkan diri ke mobil, mengusir warga lokal dari kawasan pantai, dan yang paling terakhir sepasang turis melecehkan pelinggih air suci di kawasan Monkey Forest Ubud.

Viralnya video-video tersebut membuat banyak netizen di media sosial beranggapan bahwa kualitas wisatawan khususnya turis asing menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Baca juga: Kasus Viral Turis Asing Lecehkan Air Suci dan Refleksi Pariwisata Bali

Apa benar sebenarnya turis asing yang datang ke Bali adalah mereka yang tak senonoh dan cuma bisa jadi biang onar?

"Untuk mengukur kualitas turis, menurut saya sebagai akademisi ada beberapa ukuran yang dapat digunakan. Pertama ada spending power (jumlah transaksi), kedua ada respect to nature (perlakuan hormat pada alam), dan ketiga respect to social cultural aspect (perlakuan hormat kepada aspek sosial budaya)," kata Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana Bali, I Gede Pitana dihubungi KompasTravel, Selasa (13/8/2019).

Pura di area Monkey Forest Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, tercatat dibangun pada abad 14.KOMPAS.com/SILVITA AGMASARI Pura di area Monkey Forest Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, tercatat dibangun pada abad 14.

Lebih lanjut Pitana menjelaskan spending power adalah besaran belanja wisatawan di suatu destinasi atau atraksi.

Baca juga: Etika dan Informasi Penting Sebelum Masuk Pura di Bali

Rescpet to nature adalah perlakuan wisatawan terhadap alam, apakah ia suka merusak alam seperti mematahkan terumbu karang, membuang sampah sembarangan, mencoret pohon, atau justru melindungi alam, membantu orang lokal mengolah sampah, menanam terumbu karang, dan perbuatan baik lainnya.

Kemudian ada respect to social cultural aspect, perlakuan wisatawan terhadap kehidupan sosial dan budaya dengan menghormati tempat peribadatan, membantu desa miskin, atau sebaliknya melakukan pelecehan di tempat ibadah dan tidak menghormati penduduk lokal.

Sejumlah wisatawan mengunjungi kawasan Pura Besakih di Karangasem, Bali, Senin (2/7/2018).  ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF Sejumlah wisatawan mengunjungi kawasan Pura Besakih di Karangasem, Bali, Senin (2/7/2018).
"Dari kriteria di atas itu tidak bisa disimpulkan apakan ada penurunan atau justru kenaikan kualitas turis, karena belum ada kajian yang komprehensif untuk itu," jelas Pitana.

Kekuatan Media Sosial Menyebar Perilaku Turis

Berbagai kasus negatif wisatawan asing di Bali yang viral di media sosial, menurut Pitana, sangat mudah beredar lantaran adanya media sosial.

"Saya lihat sifatnya adalah kasus-kasus negatif selalu cepat beredar dibanding kasus positif. Kalau kasus negatif warga lokal tersinggung sehingga jadi lebih cepat disebarluaskan. Ini berlaku tidak cuma di Bali tetapi juga di berbagai tempat," katanya.

Padahal jika dilihat lebih jelas, lanjut Pitana, sebenarnya ada juga wisatawan asing di Bali yang memiliki perilaku positif dan patut dipuji.

Pitana mencontohkan beberapa waktu lalu ada video wisatawan asing yang menolong orang tenggelam dengan sigap di Nusa Penida. Padahal saat itu banyak orang lokal yang ikut melihat kejadian.

Ada juga wisatawan asing yang membantu mengambil sampah di pantai, melepas tukik atau anak penyu bersama operator tur, dan wisatawan asing yang berkunjung memberi bantuan ke desa miskin.

Turis asing mengabadikan keindahan Pura Taman Ayun di Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Senin (15/8/2016). Wisata ke Bali kini dapat dilakukan siapa pun dengan biaya terjangkau.KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Turis asing mengabadikan keindahan Pura Taman Ayun di Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, Senin (15/8/2016). Wisata ke Bali kini dapat dilakukan siapa pun dengan biaya terjangkau.
"Dari 6,5 juta wisatawan yang berkunjung ke Bali, ambilah 50 persennya sekitar 3,5 juta bule. Berapa banyak bule yang melakukan perilaku negatif?" kata Pitana.

Ia sendiri tidak berani menyimpulkan kualitas wisatawan asing di Bali turun. Sebab jika ukurannya total pengeluaran wisatawan pada 2018 pengeluaran wisatawan asing di Bali rata-rata 1.240 dollar AS, meningkat terus dari tahun-tahun sebelumnya.

"Kalau indikatornya kesejahteraan, penduduk Bali lebih tinggi daripada (provinsi) tetangganya. Kalau indikatornya kebahagiaan, tingkat kebahagiaan penduduk Bali paling tinggi (se-Indonesia) dari data BPS. Tidak tahu apakah dari sektor lain seperti perikanan, pertambangan, atau perhutanan. Hanya saja Bali tidak punya sektor perikanan yang maju, pertambangan, atau hutan yang bisa ditebang," tutup Pitana.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Makan Makan
Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Makan Makan
Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Makan Makan
Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Whats Hot
Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Makan Makan
Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Whats Hot
Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Whats Hot
Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Jalan Jalan
Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Jalan Jalan
Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Whats Hot
Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Whats Hot
Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Whats Hot
Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X