Trenggiling Diduga Penyebar Virus Corona, Mengapa Orang China Makan Trenggiling?

Kompas.com - 09/02/2020, 18:23 WIB
Trenggiling dewasa. shutterstock.com/positivesnapshotTrenggiling dewasa.

 

JAKARTA, KOMPAS.com - Pada Februari 2017, seorang wanita yang disebut sebagai “ Pangolin Princess” ditangkap oleh kepolisian China. Menurut laman Dailymail, wanita tersebut ditangkap lantaran mengunggah cerita dirinya memakan sup dan nasi goreng trenggiling melalui akun Weibonya.

Baca juga: Tradisi Orang China Makan Trenggiling sampai Cula Badak, Ini Alasannya

Selama beberapa minggu belakangan, ular dan kelelawar dianggap sebagai penyebar wabah virus corona di Wuhan, China ke manusia.

Namun, melalui investigasi lebih lanjut, peneliti dari China mengatakan bahwa ada kemungkinan trenggiling juga turut andil dalam penyebaran virus berbahaya tersebut.

Baca juga: Gara-gara Diburu untuk Makan, Trenggiling Terancam Punah

Salah satu hal yang membuat trenggiling memiliki kemungkinan menjadi perantara virus corona adalah karena hewan tersebut merupakan salah satu hewan paling laris dalam pasar penjualan hewan liar secara ilegal di Asia. Terlebih lagi di China.

Seperti daging ayam

Mengutip buku “Global Delicacies: Diversity, Exotic, Strange, Weird, Relativism” yang ditulis oleh Andrew Nyakupfuka terbitan Balboa Press, daging trenggiling yang juga dijadikan sebagai santapan di Zimbabwe memiliki rasa cukup gurih dan seperti daging ayam.

Sementara itu, menurut laman Vice, daging trenggiling memiliki bau yang tidak biasa yang dapat memenuhi seluruh rumah. Untuk tekstur sendiri, dagingnya sama seperti daging hewan pada umumnya.

Warna daging trenggiling cenderung lebih gelap. Tidak hanya itu, daging juga sedikit lengket dan memiliki tekstur seperti benang.

Untuk penyajiannya, biasanya daging trenggiling akan dipotong terlebih dahulu sebelum direbus dan disajikan dengan saus jintan. Daging trenggiling juga bisa disantap dengan nasi.

Baca juga: Mengenal Trenggiling, Hewan Langka yang Dituduh Penyebar Virus Corona

Mengutip buku “Medicine and Health Cuisine” yang ditulis oleh Mei Wei terbitan DeepLogic, trenggiling yang juga disebut sebagai “penjaga hutan” juga dimanfaatkan sisiknya sebagai bahan dasar makanan tradisional di area pegunungan Fujian, China.

Dikombinasikan dengan beberapa bahan lain seperti jahe, bawang bombay, gula putih, dan anggur merah, daging trenggiling dianggap memiliki tekstur yang halus dan sedikit lembek.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lion Air Kembali Terbang, Ini Syarat Wajib Penumpangnya

Lion Air Kembali Terbang, Ini Syarat Wajib Penumpangnya

Travel Tips
10 Camilan ala Disney Park Gampang Dibuat di Rumah, Pernah Bikin yang Mana?

10 Camilan ala Disney Park Gampang Dibuat di Rumah, Pernah Bikin yang Mana?

Makan Makan
Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Makan Makan
Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Makan Makan
Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Makan Makan
Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Whats Hot
Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Makan Makan
Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Whats Hot
Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Whats Hot
Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Jalan Jalan
Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Jalan Jalan
Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Whats Hot
Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X