Penerapan Protokol Kesehatan, Desa Wisata Perlu Studi Banding ke Hotel

Kompas.com - 10/05/2020, 22:11 WIB
Salah satu homestay yang ada di Desa Wisata Nglinggo yaitu Rimbono Homestay, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (4/11/2017). KOMPAS.COM/Anggita MuslimahSalah satu homestay yang ada di Desa Wisata Nglinggo yaitu Rimbono Homestay, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (4/11/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelaku desa wisata disarankan melakukan studi banding ke hotel-hotel.

Hal ini terkait penerapan standar operasional prosedur (SOP) protokol kesehatan dalam rangka mencegah penyebaran pandemi Covid-19 sekaligus meraih kepercayaan turis.

Baca juga: Hadapi Booming Pariwisata, Desa Wisata Milik Masyarakat Perlu Dikembangkan

"Kalau menurut saya untuk teman-teman desa wisata mungkin yang pertama bisa melakukan studi banding dengan hotel-hotel terkait bagaimana SOP-SOP yang diterapkan dan mungkin beberapa poin pentingya bisa diimplementasikan oleh teman-teman di desa wisata," ujar VP Sales Marketing Loyalty Distribution Accorhotels Indonesia Malaysia Singapura, Adi Satria dalam diskusi daring di Jakarta pada Sabtu (9/5/2020) seperti dikutip dari Antara.

Langkah berikutnya menurut Adi adalah para pelaku pariwisata desa wisata harus konsisten dan pola pikirnya harus berubah dengan lebih rajin, teliti, dan bisa melihat apa saja yang dibutuhkan untuk menaikkan kepercayaan para turis karena aspek kepercayaan sangat penting bagi turis.

Desa Penglipuran yang berada di Bali masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia bersama tiga desa wisata di Indonesia lainnya.(Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf) Desa Penglipuran yang berada di Bali masuk dalam Top 100 Destinasi Berkelanjutan Dunia bersama tiga desa wisata di Indonesia lainnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa setelah berhasil menaikkan kepercayaan turis,  langkah selanjutnya adalah membuat branding awareness terkait hal-hal apa saja yang sudah dilakukan serta diterapkan, aplikatif bagi produk mereka dan yang terpenting adalah konsistensi.

"Kalau sudah ada konsisten, brand identity dan meraih kepercayaan turis, mungkin itu menjadi salah satu basic yang bisa diterapkan oleh teman-teman di desa wisata," katanya.

Sebelumnya Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengatakan bahwa jika ada destinasi super prioritas semestinya harus ada destinasi alternatif. Desa wisata, menurutnya, adalah destinasi alternatif yang menjadi penyangga dari destinasi prioritas tersebut.

Program desa wisata yang sedang bergaung di sejumlah daerah merupakan hal yang positif dan sangat potensial untuk dijadikan sebagai alternatif dari destinasi atau tujuan utama dari berbagai lokasi pariwisata Tanah Air.

Untuk itu, ujar dia, berbagai pihak termasuk pelaku usaha pariwisata hingga BUMN juga harus membantu terlaksananya desa wisata. (Aji Cakti/Budi Suyanto)

Baca tentang


Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X