Okupansi Hotel di Yogyakarta Mulai Naik

Kompas.com - 25/06/2020, 22:13 WIB
ILUSTRASI - Kamar Hotel Shutterstock/Dragon ImagesILUSTRASI - Kamar Hotel

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Okupansi hotel di Kota Yogyakarta perlahan-lahan mulai mengalami kenaikan terutama saat akhir pekan, meskipun jumlah tamu pada hari lainnya masih tergolong cukup rendah.

“Pada akhir pekan, mulai Jumat, Sabtu, dan Minggu, okupansi hotel bintang bisa mencapai 35 persen, terutama untuk sektor tengah. Ini terjadi pada akhir pekan lalu,” kata Ketua DPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Dedy Pranawa Eryana di Yogyakarta, Kamis (25/6/2020) seperti dikutip dari Antara.

Sedangkan untuk hotel nonbintang, okupansi pada akhir pekan masih cukup rendah yaitu lima hingga 10 persen.

Baca juga: PHRI Rilis Panduan New Normal untuk Karyawan Hotel, Simak Aturannya

Menurut Deddy, pengelola hotel kemudian menempuh berbagai upaya untuk menaikkan okupansi kamar, salah satunya memberikan harga promo pada akhir pekan, sehingga harga kamar pada akhir pekan justru lebih rendah dibanding hari lainnya.

“Kami sedang mencoba mengetes animo pasar pada masa sekarang ini. Meskipun okupansi belum membaik, tetapi kami mencoba untuk terus mem-branding bahwa ada hotel yang sudah mulai beroperasi kembali,” katanya.

PHRI DIY, lanjut dia, memahami jika okupansi hotel belum membaik karena banyak layanan transportasi umum yang belum beroperasi secara penuh, seperti kereta api dan pesawat terbang.

Penerapan new normal di hotel.Dok. Kemenparekraf Penerapan new normal di hotel.

“Tamu yang menginap pun rata-rata berasal dari wilayah di sekitar DIY. Bahkan banyak dari dalam DIY. Mungkin masyarakat ingin menghilangkan kejenuhan setelah beberapa waktu beraktivitas dari rumah,” katanya.

Namun demikian, Deddy mengatakan sudah banyak wisatawan dari luar daerah yang menanyakan apakah objek wisata dan hotel di DIY sudah kembali beroperasi.

Baca juga: Mau Menginap di Hotel? Ikuti Protokol New Normal Ini..

“Bahkan ada yang sudah mengajukan reservasi, misalnya dari Lampung, Sukabumi dan Kalimantan. Tetapi kami jelaskan bahwa belum banyak objek wisata yang buka sehingga mereka memundurkan jadwal kunjungan,” katanya.

Sebanyak 63 hotel kembali beroperasi

Saat ini, lanjut dia, dari 400 hotel dan restoran yang tergabung dalam PHRI DIY, sudah ada sebanyak 63 yang kembali beroperasi dengan menerapkan standar protokol kesehatan yang ketat.

“Jika tidak memenuhi protokol kesehatan, maka tempat usaha tersebut tidak boleh dibuka,” katanya.

Jika Pemerintah DIY memperpanjang masa tanggap darurat COVID-19, maka ia mengusulkan agar masih ada objek wisata yang bisa dibuka kembali. Masa tanggap darurat COVID-19 di DIY akan berakhir pada 30 Juni.

“Kami berharap ada dukungan dari pemerintah karena banyak pelaku usaha hotel dan restoran yang sudah 'pingsan' atau bahkan hampir mati. Kami ingin kegiatan ekonomi tetap berjalan seiring dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat,” katanya. (Eka Arifa Rusqiyati/Risbiani Fardaniah)

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X