Pengembangan Pariwisata di Bali Harus Berlandaskan Budaya

Kompas.com - 20/07/2020, 20:12 WIB
Umat Hindu usai sembahyang di Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, Rabu (5/10/2011). Pura terbesar di Bali yang mengalami perkembangan sejak masa pra-hindu, ini berorientasi ke Gunung Agung yang dianggap sebagai tempat tinggal para dewata. KOMPAS.com/FIKRIA HIDAYATUmat Hindu usai sembahyang di Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, Rabu (5/10/2011). Pura terbesar di Bali yang mengalami perkembangan sejak masa pra-hindu, ini berorientasi ke Gunung Agung yang dianggap sebagai tempat tinggal para dewata.


JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan yang menjabat pada 2000-2004, I Gede Ardhika berpendapat, pembangunan kepariwisataan Bali harus berlandaskan kebudayaan.

Menurutnya, hal tersebut telah tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali nomor 2 tahun 2012. Namun, ia tak meyakini bahwa seluruh pelaku usaha sektor pariwisata di Bali pernah membaca Perda ini.

Baca juga: Kembangkan Pariwisata Bali Berdasarkan Zonasi Kearifan Lokal

"Jelas sekali di sini disebutkan bahwa Kepariwisataan Bali itu berlandaskan kepada kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu dengan falsafah Tri Hita Karana," kata Ardhika dalam acara webinar Road Map to Bali's Next Normal Webinar Session #7 yang diselenggarakan Bali Tourism Board dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, Jumat (10/7/2020).

Ia menjelaskan bagaimana kepariwisataan Bali harus berlandaskan kepada kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu. Ia mengatakan ada tiga kerangka dasar dalam agama Hindu Dharma yaitu Tatwa, Susila, dan Upacara.

Kerangka dasar pertama yaitu tatwa yang berarti filsafat, sedangkan susila berarti etika, dan upacara artinya ritual.

ILUSTRASI - Turis asing di Nusa Penida, Bali.Dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf ILUSTRASI - Turis asing di Nusa Penida, Bali.

Ia pun mengutip beberapa hal terkait susila atau etika yang berkaitan dengan Kepariwisataan Bali di antaranya Tat Twam Asi, Tri Hita Karana, Sad Ripu, Tri Warga, dan Tri Kaya Parisuda.

"Tat Twam Asi, itu adalah fundamen dari kegiatan sosial budaya masyarakat Bali yang melahirkan konsep kekeluargaan atau menyama braya. Kekeluargaan ini sudah menjadi landasan dasar dari NKRI, ini kan luar biasa nilai dasar ini," jelasnya.

Namun, ia menilai bahwa pariwisata Bali belum maksimal dalam menggunakan dan menjaga nilai kekeluargaan.

Baca juga: Pariwisata Bali Akan Dibuka untuk Wisatawan Nusantara pada 31 Juli

"Kemudian Tri Warga, begitu juga di dalam kaitan dengan mengelola kehidupan ini yang dilandasi oleh Dharma, Artha (harta), dan adanya kesenangan (kama). Tapi semua landasan itu harus sesuai Darma (kebajikan)," ungkapnya.

Terakhir yaitu Tri Kaya Parisudha (pikiran baik, perkataan baik, perbuatan baik) yang menurutnya menjadi tantangan luar biasa dalam kaitan Kepariwisataan Bali berbasis kebudayaan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X