Kompas.com - 27/01/2022, 14:43 WIB

KOMPAS.com - Pernah merasa kesulitan tidur saat menginap di hotel, khususnya saat malam pertama? Ternyata, ada alasan ilmiah di baliknya. 

Melansir CNBC pada Rabu (26/1/2022), sebuah riset membuktikan bahwa bagian tertentu di otak tidak benar-benar berubah ke "mode tidur" saat seseorang menghabiskan malam pertama di lingkungan baru.

Peneliti telah lama mengetahui tentang "efek malam pertama", dan menganggap hal ini sebagai gangguan tidur sementara.

Bahkan, meski sebuah kamar hotel memiliki suhu yang tepat dan tempat tidur yang nyaman, seseorang kerap merasa grogi dan kurang istirahat ketika bangun jika dibandingkan dengan tidur di rumah sendiri.

Fenomena ini sering terjadi, sehingga para ilmuwan yang menjalankan riset terkait ketidaknyamanan saat tidur biasanya tidak memakai data pada malam pertama.

Kondisi ini umumnya juga hanya terjadi sementara, dan rata-rata hilang pada malam kedua di hotel atau penginapan.

Baca juga: Ketinggalan Barang di Kamar Hotel? Ini Prosedur Pengembaliannya

Alasan ilmiah di balik sulit tidur ketika menginap di hotel

Sekelompok peneliti dari Brown University dan Georgia Institute of Technology ingin mengetahui alasan dari "efek malam pertama" yang mengganggu tidur para tamu hotel. 

Mereka kemudian mengambil gambar otak seseorang yang sedang tidur dalam dua percobaan dan menemukan hasil yang mengejutkan.

Ternyata, otak seseorang yang tidur dengan "efek malam pertama" di hotel tidak menunjukkan aktivitas gelombang lambat yang biasanya ditunjukkan otak selama tidur nyenyak. Alih-alih, salah satu belahan otak tampak masih terjaga.

Para peneliti berpikir, penjelasan untuk fenomena tersebut mungkin terletak pada evolusi masa lalu manusia.

Baca juga: Catat, 5 Tips agar Barang Tidak Ketinggalan Saat Check-Out Hotel

“Hasil ini cukup mengejutkan," kata salah satu penulis riset bernama Masako Tamaki.

“Ketika seseorang tidur di tempat yang baru, ia tidak begitu yakin apakah ruangan itu aman atau tidak untuk tidur nyenyak. Mungkin saja ia menjaga belahan otak yang satu ini tetap waspada, sehingga bisa memantau dan mendeteksi sesuatu yang tidak biasa di sekitarnya," lanjut dia.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.