Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Candi Muarajambi, Pusat Pembelajaran Buddha yang Terkenal di Jambi

Kompas.com - 07/02/2024, 15:21 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Mungkin tak banyak yang tahu, kompleks Candi Muaro Jambi atau Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muarajambi termasuk kawasan cagar budaya Buddhisme tertua dan terluas di Asia Tenggara.

Berlokasi di tepi Sungai Batanghari, Provinsi Jambi, kawasan tersebut memiliki luas 3.981 hektar dengan 11 candi utama. Akan tetapi, diperkirakan ada 82 reruntuhan yang masih terkubur.

Baca juga: Cagar Budaya Muaro Jambi dalam Upaya Pengakuan UNESCO 

"Muarajambi tidak hanya kaya akan sejarah tetapi juga menjadi bukti nyata terciptanya peradaban, terjadinya proses edukasi, dan inovasi penting di masa lalu," ucap Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Fitra Arda lewat keterangan resmi yang Kompas.com terima, Senin (5/2/2024).

Ia melanjutkan, desain dan tata letak KCBN Candi Muarajambi ini mirip Nalanda, pusat pembelajaran utama di India. 

"Yang menunjukkan bahwa Muarajambi pernah menjadi pusat pembelajaran dan latihan spiritual Buddha yang signifikan," tambahnya.

Ilustrasi Candi Kedaton di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muarajambi di Jambi.Dok. Indonesian Heritage Agency Ilustrasi Candi Kedaton di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muarajambi di Jambi.

Menurut Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) wilayah V, Agus Widiatmoko, kawasan ini aktif digunakan dari abad ketujuh sampai abad ke-13. 

Hal tersebut berdasarkan penggalian arkeologis dan analisis penanggalan karbon di kawasan Muarajambi, termasuk di Candi Kotomahligai yang termasuk di dalamnya. 

Tidak hanya itu, kawasan ini terdiri dari kanal kuno, kolam penyimpanan air, dan gundukan yang memperlihatkan struktur batu bata kuno. 

Terdapat pula sejumlah artefak bersejarah, antara lain patung Prajnaparamita, Dwarapala, dan Gajahsimha. Temuan tersebut, ditambah prasasti dan peninggalan lainnya, menegaskan pentingnya KCBN Candi Muarajambi sebagai pusat pembelajaran.

"Kawasan cagar budaya ini tidak hanya memiliki nilai sejarah dan arkeologi yang tinggi namun juga terus berfungsi sebagai tempat berkumpulnya para cendikiawan yang memperdalam pengetahuan kebijaksanaan," jelas Agus.

Baca juga:

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Kompas Travel (@kompas.travel)

Menarik cendekiawan dari seluruh Asia

Candi Tinggi di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muarajambi di Jambi.Dok. Indonesian Heritage Agency Candi Tinggi di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muarajambi di Jambi.

Pada zaman dahulu, kawasan yang berdiri sejak masa Kerajaan Sriwijaya ini berkembang menjadi pusat penting ajaran Buddha.

Hal tersebut menarik sejumlah tokoh dan cendekiawan dari seluruh Asia untuk datang. Salah satunya guru Buddha ternama, Atisha Dipamkara Srijnana.

Perjalanan Atisha ke Suvarnadvipa (Sumatera) saat itu menjadi penanda betapa pentingnya wilayah tersebut sebagai penghubung pembelajaran dan praktik Buddhisme.

Atisha disebut menghabiskan 12 tahun belajar di bawah bimbingan Serlingpa, salah seorang guru tersohor pada abad ke-10. 

Periode tersebut tidak hanya memperkaya perjalanan spiritual Atisha, tapi juga menjadi dasar dari pengaruh besar terhadap Buddha Mahayana di Tibet dan sekitarnya.

Baca juga:

Revitalisasi KCBN Candi Muarajambi

KCBN Muaro Jambi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi JambiKompas.com/Aisyah Sekar Ayu Maharani KCBN Muaro Jambi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi

Pada Senin (5/2/2024), Indonesian Heritage Agency (IHA) menyatakan bahwa upaya revitalisasi KCBN Candi Muarajambi telah dimulai. 

Menurut keterangan dari badan layanan umum di bawah Kemendikbudristek ini, upaya ini menjadi bagian dari misi IHA untuk mengembalikan peran kawasan tersebut sebagai pusat pendidikan dan spiritual bagi masyarakat.

(Plt.)  Kepala  BLU  Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB), Ahmad Mahendra menyatakan, tujuannya adalah meremajakan fungsi sejarah kawasan tersebut.

"Tujuan kami adalah untuk meremajakan fungsi sejarah Muarajambi sebagai pusat pembelajaran dan pendidikan spiritual sehingga menegaskan signifikansinya sebagai situs warisan global," tutur Ahmad.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com