Jumat, 31 Oktober 2014

Travel / Travel Story

Eloknya Palangkaraya dari Bukit Tangkiling

Kamis, 22 Agustus 2013 | 12:20 WIB
KOMPAS/DWI BAYU RADIUS Wisatawan mendaki Bukit Tangkiling di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Pemandangan indah bisa dinikmati dari tempat yang termasuk Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling dengan jarak 34 kilometer dari pusat Kota Palangkaraya itu. Puncak bukit berketinggian 197 meter dari permukaan laut itu dapat dicapai setelah pendakian sekitar 30 menit. Bukit Tangkiling adalah tujuan wisata unggulan.
ADA rasa puas menyaksikan panorama utuh Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Napas yang memburu sirna saat usai mendaki dan tiba di puncak Bukit Tangkiling. Minuman dingin yang segar dan angin sepoi-sepoi menggenapkan mantapnya sensasi menikmati keindahan pemandangan indah itu.

Bukit Tangkiling yang berjarak 34 kilometer dari pusat Kota Palangkaraya sudah ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata terpadu unggulan. Para pengunjung juga bisa melihat beberapa jenis satwa, melakukan wisata religi, dan menikmati kegiatan outbound.

Namun, di antara berbagai pilihan, tentu pesona alam yang menjadi andalan Bukit Tangkiling. Pendakian sangat menyenangkan dilakukan pada pagi pukul 07.00-08.00. Rimbunnya pepohonan, seperti meranti, cempedak, pilau, dan rambutan, menyambut wisatawan yang menyusuri pendakian.

Udara pada pertengahan Agustus 2013 itu sangat sejuk. Gumpalan awan menutupi matahari sehingga sinarnya tak terik. Suasana sungguh pas untuk berwisata ke Bukit Tangkiling. Setelah 15 menit berjalan kaki, separuh dari hasil pendakian sudah bisa dinikmati.

Napas lumayan terengah, tetapi tak terasa saat melihat pemandangan berupa hutan di sekitar Palangkaraya, Sungai Rungan, dan Bukit Baranahu. Di lahan terbuka itu, bangku-bangku panjang dan meja kayu tersedia untuk duduk melepas lelah. Perjalanan lalu dilanjutkan dengan berjalan santai.

Tak perlu memaksakan diri berjalan tanpa henti. Setelah sekitar 30 menit saja sejak mulai mendaki, puncak Bukit Tangkiling sudah bisa dicapai. Di tempat yang termasuk Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Tangkiling itu, tampaklah ikon Palangkaraya, yakni Jembatan Kahayan, berwarna jingga.

Infrastruktur sepanjang 640 meter itu berada di atas Sungai Kahayan yang membelah Palangkaraya. Di sisi lain terlihat Bukit Baranahu, Kalalawit, Tabala, Tunggal, Bulan, Buhis, Lisin, dan Liau yang masih termasuk kawasan TWA Bukit Tangkiling. Tentunya, Tangkiling merupakan bukit paling populer di kawasan tersebut.

Wisatawan bisa naik sebongkah batu besar yang berada di puncak Bukit Tangkiling. Di sana, seantero Palangkaraya bisa dilihat dengan leluasa.

KOMPAS/DWI BAYU RADIUS Orangutan terlihat berkeliaran di Pulau Hampapak, di tengah Sungai Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, akhir Maret 2013. Aksi satwa dilindungi itu dapat disaksikan wisatawan yang menikmati paket wisata susur sungai. Paket-paket lain antara lain mengunjungi betang atau rumah khas Dayak, menjelajah Taman Nasional Sebangau, memancing, dan mengenal budaya masyarakat lokal.
Sensasi paling istimewa apa lagi kalau bukan menikmati bekal minuman dingin seraya menikmati panorama yang memukau. Di puncak Bukit Tangkiling dengan tinggi 197 meter di atas permukaan laut (mdpl), beberapa pedagang menjajakan minuman dan makanan ringan.

Saat itu baru terasa mendaki pada pagi hari lebih mengasyikkan. Sebab, sinar matahari kian menyengat saat hari semakin siang. Hawa kembali terasa nyaman pada sore hari mulai pukul 16.00. Namun, wisatawan tentu diburu waktu karena sebelum gelap mereka sudah harus turun.

Jalur menuju puncak bisa ditempuh melalui dua rute utama. Karena itu, jalur pulang dan pergi bisa dilalui tidak dengan trek yang sama agar bisa melihat suasana berbeda. Jalur-jalur itu masih berdekatan dengan pelataran parkir kendaraan bermotor sehingga wisatawan tak perlu berjalan jauh saat mulai mendaki.

Kebun binatang

Bukit Tangkiling ditetapkan sebagai daerah tujuan wisata terpadu unggulan karena di sana juga terdapat tujuan wisata religi. Biara Pertapaan Karmel dan Pura Hindu Kaharingan dibangun di kawasan itu. Pesona alam kian lengkap dengan kebun binatang mini.

Berbagai satwa bisa dilihat, antara lain binturung, landak, dan kera. Tak jauh dari Bukit Tangkiling berdiri Hotel Rungan Sari yang berkelas. Banyak turis asing menginap di hotel itu. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng mengelola TWA Bukit Tangkiling dengan luas 533 hektar.

Menurut Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Kalteng Berdodi Samuel, wisatawan yang hendak ke Bukit Tangkiling tetapi ingin mencari informasi lebih banyak bisa datang ke kantor resor BKSDA Kalteng atau Anak Himba Outbound. Tempat-tempat itu masih berada di TWA Bukit Tangkiling.

Berdodi menambahkan, di balik keindahan Tangkiling terdapat legenda menarik. Konon, pada zaman dulu hidup seorang anak bernama Tangkiling. Suatu hari, anak kecil itu merengek-rengek kepada ibunya karena kelaparan. Lama kelamaan, sang ibu tak tahan dan naik pitam.

Ia memukul kepala Tangkiling sehingga anak itu berteriak-teriak. Tak kuasa menahan sakit, Tangkiling menangis dan berlari. Ia baru berhenti saat sampai di pelabuhan dan bertemu saudagar kaya yang menaruh kasihan. Nasib baik membuat saudagar itu mengajak Tangkiling berkelana dengan kapalnya.

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Jembatan Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Keberuntungan Tangkiling berlanjut hingga ia menjadi anak angkat saudagar. Tangkiling pun memiliki kapal sendiri. Saat Tangkiling dewasa, kapal besarnya berlabuh di suatu daerah. Ia berjumpa dengan perempuan bernama Bawi Kuwu dan mereka jatuh hati.

Tangkiling pun mengajak menikah yang diiyakan Bawi Kuwu. Suatu waktu, Tangkiling dan Bawi Kuwu sedang berduaan. Namun, betapa terkejutnya Bawi Kuwu saat menemukan bekas luka di kepala Tangkiling. Setelah menyimak kisah masa kecil pemuda itu, sadarlah Bawi Kuwu bahwa Tangkiling adalah anaknya.

Dewa-dewa menjadi murka dan mengirimkan kutukan kepada Tangkiling. Ia berubah menjadi batu. Nasib sama menimpa bahtera Tangkiling yang kini menjadi Batu Banama. Batu itu kini bisa dilihat di Bukit Tangkiling. Kisah mengenai asal-usul Bukit Tangkiling mirip dengan Sangkuriang di Jawa Barat.

Wisatawan dari Pontianak, Kalimantan Barat, Rudy Soeratno (30), kagum akan pemandangan dari puncak Bukit Tangkiling. Namun, masih terdapat kekurangan, yakni tidak ada bangunan untuk berteduh. Saat cuaca panas, wisatawan hanya bisa berlindung di balik batu besar.
Editor : I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK