Jika Mendaki Gunung Agung, Jangan Abaikan Pantangan Ini - Kompas.com

Jika Mendaki Gunung Agung, Jangan Abaikan Pantangan Ini

Wahyu Adityo Prodjo, Sri Anindiati Nursastri
Kompas.com - 29/09/2017, 08:03 WIB
Gunung Agung difoto dari udara, beberapa waktu lalu.KOMPAS.com/BAMBANG P. JATMIKO Gunung Agung difoto dari udara, beberapa waktu lalu.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gunung Agung adalah gunung tertinggi sekaligus yang paling disakralkan umat Hindu di Bali. Tak heran, banyak kisah mistis dan peraturan adat yang wajib ditaati pengunjung.

Terlebih lagi, Gunung Agung terbuka untuk pendaki dari manapun. Selain mendaftarkan diri di pos pendakian, pendaki juga wajib menaati peraturan adat serta menghindari pantangan-pantangan tertentu.

"Salah satu pantangannya, jika ada keluarga dekat atau sepupu yang meninggal tidak diperbolehkan mendaki gunung. Karena mereka dalam keadaan bersedih," tutur Koordinator Pemandu Pendakian Gunung Agung, Komang Kayun kepada KompasTravel

Pantangan lainnya, lanjut Komang, adalah saat haid atau datang bulan bagi wanita. 

"Pendaki juga tidak boleh membawa bahan makanan dari daging sapi, juga membawa perhiasan dari emas," tambahnya.

BACA: Status Awas Gunung Agung, Industri Pariwisata Bali Tak Terganggu

Lalu bagaimana jika keluarga dekat meninggal dan pendaki tetap ingin menaiki Gunung Agung? Komang Kayun menyebutkan bahwa ada jangka waktu tertentu, terutama bagi pendaki yang anaknya baru meninggal.

"Bagi yang anaknya baru meninggal, itu (bisa mendaki setelah) dihitung dari dikubur sampai 42 hari. Kalau mati biasa, itu 21 hari. Mati bunuh diri itu termasuk yang 42 hari," paparnya.

Lalu bagaimana jika orang tua yang meninggal? Komang Kayun menyebutkan bahwa masa berkabung adalah 11 hari. Dalam 11 hari itu, seseorang dilarang naik Gunung Agung.

BACA: Bila Gunung Agung Erupsi, Kota Denpasar Jadi Tempat Evakuasi Wisatawan

Lalu apa dampaknya jika pendaki mengindahkan peraturan adat tersebut? Komang Kayun menjelaskan beberapa kasus mistis, yang terjadi di luar nalar jika pendaki tidak mematuhi aturan.

"Saya sering lihat sendiri (hal mistis) muncul. Misalnya (pendaki) membawa daging sapi. Itu angin menghalangi kita naik. Seperti sampai tak bisa jalan," kisahnya.

Tak ada salahnya mengikuti aturan adat masyarakat setempat. Jika status Gunung Agung telah kembali normal, Anda bisa menikmati keindahan gunung tertinggi di Pulau Dewata ini ditemani pemandu lokal.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisWahyu Adityo Prodjo, Sri Anindiati Nursastri
EditorSri Anindiati Nursastri
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM