Kupat Kenangan

Kompas.com - 22/04/2012, 08:08 WIB
EditorI Made Asdhiana

Satu porsi kupat tahu hanya terdiri dari sepotong ketupat dan sepotong tahu. Istimewanya, aroma gorengan tahu setengah matang benar-benar menantang rasa lapar. ”Selain bahannya dari tahu magelang, gorengnya juga pakai anglo, baranya itu yang memberi aroma berbeda,” kata Indri.

Selama buka pukul 09.30 sampai 21.00 warung ini menghabiskan setidaknya 150 buah ketupat dan 300 potong tahu. Setiap dua hari sekali, tutur Indri, setidaknya ia menggoreng 50 kilogram kacang sebagai bahan dasar kuah kupat tahu. ”Adonan kacang dan kecap yang sudah digiling dikentalkan. Kita siram dengan air panas untuk menjadikannya kuah,” ujar Indri.

Tahu Pojok sebagaimana umumnya warung-warung di Jawa menyajikan hampir seluruh menu di atas meja. Meja tempat para pembeli menyantap kupat tahu harus berbagi dengan deretan menu pelengkap makan seperti tempe goreng, tahu isi, sate udang, dan berbagai macam kerupuk.

Di meja sisi kanan, Tahu Pojok menyediakan seperangkat toples berisikan sirup, cendol, cincau hijau, potongan roti, dan santan. Seluruh menu ini bisa dikombinasikan menjadi es campur, es cendol, es cincau hijau, es roti, atau sekoteng yang hangat.

Dengan sajian menu seperti itu, untuk sekali makan paling-paling menghabiskan tak lebih dari Rp 15.000. ”Kan seporsi kupat tahu cuma Rp 9.000, barusan naik dari Rp 8.500. Naiknya dari dulu cuma berani Rp 500,” kata Indri. Pengeluaran Rp 15.000 itu sudah terhitung minum dan menu-menu tambahan lainnya.

Meski hanya berupa warung kecil dan tampak seadanya, Tahu Pojok terbiasa melayani pesanan dalam jumlah besar. Bahkan tak jarang, kata Indri, mereka menyiapkan pesanan untuk menu resepsi kawinan sampai ke Jakarta. ”Kalau di kota Magelang sudah sering kateringan, ke Jakarta ya beberapa kali, cuma pesanannya minimal 1.500 porsi,” katanya.

Kupat tahu punya keuntungan karena diperlakukan sebagai menu ”antara” kudapan dan makanan utama. Kalau makan, memang kenyang, tetapi cepat membuat lapar untuk rata-rata perut orang Indonesia. Lantaran itulah, tak jarang konsumen yang bolak-balik sampai tiga kali dalam sehari untuk menyantap kupat tahu. Itu mungkin juga soalnya memang masalah perut yang tak merasa kenyang jika tak makan nasi.

Tetapi sesungguhnya ada yang lebih penting dari itu. Kupat tahu ibarat menu yang tumbuh bersama geliat kota Magelang, yang berlembah-lembah di sekitar Kali Progo. Oleh karena itu, menyantap kupat tahu seperti mengunyah sejarah yang kemudian mengendap ke dalam kenangan setiap orang yang berkunjung ke Magelang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.