Kompas.com - 09/11/2013, 11:29 WIB
EditorI Made Asdhiana
RAWA kecoklatan, hijau rimbun dedaunan, dan biru langit menyambut kami di Asmat, Papua. Beberapa kali terlihat elang terbang mengitari sarang. Itulah panorama Asmat yang menyegarkan mata, mendamaikan pikiran.

Kami menyusuri potong Famborep di Kabupaten Asmat, Papua, Agustus lalu. Sungai itu terasa teduh oleh kanopi dedaunan. Kami pun terlindung dari sengatan matahari. Longboat yang dikemudikan Nelson, motoris Keuskupan Agats, meliuk-liuk mengikuti aliran kali. Tikungan tajam, pohon tumbang, dan dangkalnya air menjadi tantangan. Air terbelah saat mesin 55 PK menderu kencang. Beberapa kali Nelson mengurangi laju perahu saat berpapasan dengan perahu lain.

Sensasi keteduhan dan ketenangan kali potong itu kemudian berganti arus bergelombang saat kami memasuki Sungai Jetsy yang lebih lebar. Kami langsung melipat tangan dan badan agar terlindung dari sengatan matahari. Setelah melaju dengan longboat selama 4 jam, kami tiba di Dermaga Atsj di pinggir Sungai Bets. Riuh anak sekolah berebut permen menyambut kami.

Sama seperti di Agats, warga Atsj juga jarang menginjakkan kaki ke tanah. Jalan, lapangan, halaman, dan rumah semuanya dibangun di atas tanah rawa berlumpur yang tebal. Hamparan papan kayu besi sekitar 1,5 meter di atas tanah bagaikan karpet merah bagi tamu yang datang ke Atsj.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Hutan bakau di sepanjang Kali Potong Famborep, Kabupaten Asmat, Papua.
Entah berapa banyak pohon yang ditebang untuk membangun Atsj dan daerah lain di Asmat. Hampir tidak ada bangunan semen dan batu bata, semuanya dari kayu. Namun, mulai tahun 2011, di Agats yang menjadi ibu kota Kabupaten Asmat, pemerintah membangun jalan beton beraspal sepanjang 1 kilometer. Tidak seberapa memang jika dibandingkan total jaringan jalan di Agats yang mencapai 17 kilometer.

Butuh penyesuaian saat mulai menyusuri jalanan tanpa pagar pengaman. Walaupun selebar 2 meter, tetap saja mata terpaku ke jalanan, takut terperosok dan jatuh ke lumpur. Apalagi, ditambah dengan bunyi berderit dan kayu beradu setiap kali kaki melangkah.

Sore itu, kami berjalan menyusuri hamparan papan kayu besi menuju Paroki Atsj, tempat kami menginap. Sapaan ”selamat sore” terucap dari semua orang yang berpapasan sepanjang perjalanan kami menuju tempat menginap. Aneh juga rasanya karena tiada hentinya membalas ”selamat sore” kepada orang yang belum kenal.

Memang, orang Asmat terkenal akan keramahannya. Siapa pun kita, pasti akan mendapat sapaan serupa dari warga. Bahkan, sepanjang perjalanan dari Agats menuju Atsj, banyak warga yang melambaikan tangan ke arah kami. Kami membalas dengan lambaian tangan.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Melintas di Kali Potong Famborep, Kabupaten Asmat, Papua, saat senja datang.
Gelap mulai datang, lampu-lampu senter milik warga mulai menerangi jalanan. Listrik memang terbatas di Asmat dan hanya tersedia dari jam enam sore hingga tengah malam. Kami memasak ikan kerapu di dapur pastoran. Ikan itu kami beli dari penduduk dalam perjalanan menuju Atsj.

Ukiran dan perahu

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.