Kompas.com - 20/12/2013, 12:37 WIB
Rel lama yang melintasi jurang di wilayah Kabupaten Pangandaran pernah beroperasi pada masa kolonial, dan kini sudah terhenti menjadi besi tua di antara monumen yang tersisa dari warisan sejarah kereta api. KOMPAS/DODY WISNU PRIBADIRel lama yang melintasi jurang di wilayah Kabupaten Pangandaran pernah beroperasi pada masa kolonial, dan kini sudah terhenti menjadi besi tua di antara monumen yang tersisa dari warisan sejarah kereta api.
EditorI Made Asdhiana

Padahal, di kota sekecil Cibatu ini pernah ada hampir 1.000 pegawai/buruh kereta api saja (700 orang pegawai depo, dan ratusan lainnya pegawai Stasiun KA Cibatu), yang niscaya memberikan dampak ekonomi tidak sepele.

Kalaupun ada catatan tentang sejarah sosial di buku itu adalah catatan perusakan aset PT KA oleh masyarakat saat era reformasi, yang disebut ”penjarahan rel besi”. Tidak ada counter balance tulisan tentang bagaimana perusahaan kereta api Belanda pada zaman dulu tidak hanya menjarah tanah-tanah penduduk untuk pembuatan bangunan stasiun dan jalur kereta api, tetapi juga mengorbankan kaum pribumi untuk kerja paksa.

Cibatu masa kini seperti sebuah desa kecil. Blog pribadi ada yang membahas tentang Stasiun Cibatu. Blog di Kompasiana itu menyebutkan, pada tahun 1980-an, saat penulis blog masih remaja, Stasiun Cibatu seperti sebuah pasar rakyat.

Pada saat itu, stasiun berperan ganda dalam komunitasnya. Tidak sekadar titik jumpa dalam jalur transportasi. Stasiun bukan sekadar moda transportasi belaka, melainkan juga berkembang sebagai pusat peradaban, khususnya ekonomi, pastilah juga titik pertemuan antarkerabat jauh yang kini bertemu.

”Suasana malam di Stasiun Cibatu waktu itu sungguh hidup. Bajigur hangat, bandrek panas dan pedas, ketimus, leupeut, dan tahu merupakan menu yang menemani mereka yang menunggu si Gombar (kereta api lokomotif uap Bandung-Cibatu) menjelang subuh. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan,” kisah Iskandar Zulkarnain, penulis kisah nostalgia di Kompasiana (2013).

Ada bangunan besar yang sama besarnya dengan Stasiun Cibatu berada di sisi timur. Di situlah dipo perawatan lokomotif uap berada dan kini sepenuhnya menganggur. Di sebuah ruangan tampak sejumlah peralatan bubut untuk membuat baut, drat, dan aneka komponen mesin kereta api. Masih tampak jelas pada salah satu mesin ada label berukir logam tertulis angka tahun 1931.

Tak dioperasikan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Stasiun lama dan tua yang sebagian sudah tak dioperasikan inilah yang kini tengah jadi sasaran Unit Konservasi Warisan dan Desain Arsitektur (UKWD) di bawah manajemen Direktur Komersial PT KAI. Jumlahnya ratusan, bangunan dan benda. PT KAI menggolongkannya dalam dua kategori, bangunan dan nonbangunan.

”Unit ini mengumpulkan rekaman sejarah sebisa mungkin dan berusaha merawatnya, dan jika mungkin dimanfaatkan untuk tujuan komersial sebagai daya tarik wisata,” kata Tranggono Adi dari UKWD PT KAI Pusat di Jakarta yang menemani kami di Bandung.

Semoga UKWD tidak hanya terjebak ”merayakan” warisan kolonial, tetapi juga merekam pengorbanan dan derita pribumi. Sebab, mustahil tidak ada pribumi yang telah ikut menggerakkan industri kereta api sebagai ”sejarah sosial” yang nyata ada, meski catatannya mungkin tak ada, tersingkirkan, dibuang, atau diabaikan. Sebab, merekalah para kakek nenek generasi masa kini pewaris republik yang sebenarnya. (Dody Wisnu Pribadi)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Korea Selatan Terapkan Karantina 10 Hari untuk Seluruh Kedatangan Internasional

Korea Selatan Terapkan Karantina 10 Hari untuk Seluruh Kedatangan Internasional

Travel Update
Borobudur Marathon Bisa Jadi Contoh Pengembangan Sport Tourism di NTB

Borobudur Marathon Bisa Jadi Contoh Pengembangan Sport Tourism di NTB

Travel Update
Thailand Tetap Wajibkan Tes PCR untuk Turis Asing

Thailand Tetap Wajibkan Tes PCR untuk Turis Asing

Travel Update
Budayawan Sebut Lombok NTB Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Budaya

Budayawan Sebut Lombok NTB Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Budaya

Travel Update
Akademisi Sebut Kemajuan Pariwisata Mandalika Jangan Bikin Daerah Lain Dilupakan

Akademisi Sebut Kemajuan Pariwisata Mandalika Jangan Bikin Daerah Lain Dilupakan

Travel Update
Swiss Larang Penerbangan dari 7 Negara akibat Omicron

Swiss Larang Penerbangan dari 7 Negara akibat Omicron

Travel Update
Cara Perancis Manfaatkan Acara Olahraga untuk Promosi Produk Lokal

Cara Perancis Manfaatkan Acara Olahraga untuk Promosi Produk Lokal

Travel Update
Berpotensi Gelar Sport Tourism, Pemprov NTB Bisa Tiru Perancis

Berpotensi Gelar Sport Tourism, Pemprov NTB Bisa Tiru Perancis

Travel Update
Kamboja Batasi Kedatangan dari 10 Negara untuk Antisipasi Varian Omicron

Kamboja Batasi Kedatangan dari 10 Negara untuk Antisipasi Varian Omicron

Travel Update
9 Negara Masuk Daftar Merah Inggris akibat Varian Omicron

9 Negara Masuk Daftar Merah Inggris akibat Varian Omicron

Travel Update
Lion Air Buka Rute Surabaya-Labuan Bajo PP, Harga Mulai Rp 1 Juta

Lion Air Buka Rute Surabaya-Labuan Bajo PP, Harga Mulai Rp 1 Juta

Travel Update
Lama Karantina WNI dan WNA di Indonesia Bakal Diperpanjang hingga 10 Hari

Lama Karantina WNI dan WNA di Indonesia Bakal Diperpanjang hingga 10 Hari

Travel Update
MotoGP 2022 Bakal Bikin Untung Pariwisata NTB, tapi...

MotoGP 2022 Bakal Bikin Untung Pariwisata NTB, tapi...

Travel Update
Turis Asing Lebih Tahu Gunung Rinjani Ketimbang Gunung Bromo?

Turis Asing Lebih Tahu Gunung Rinjani Ketimbang Gunung Bromo?

Travel Update
Australia Tunda Buka Perbatasan akibat Varian Omicron

Australia Tunda Buka Perbatasan akibat Varian Omicron

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.