Kompas.com - 31/08/2015, 12:42 WIB
EditorI Made Asdhiana

Mungkin karena kehangatannya itu, bubur gudeg Mbok Kedul memunculkan semacam mitos di kalangan konsumen fanatiknya. ”Kalau ada yang masuk angin, orang makan bubur di sini, katanya, bisa sembuh. Saya sendiri enggak tahu, tetapi sejak dulu orang percaya begitu,” kata Untari.

Keotentikan

Warung Mbok Kedul dulu buka sejak pagi hingga malam. Kini karena kemampuan fisik penjualnya, warung mulai buka pukul 13.00 sampai sekitar pukul 22.00. Kini Mbok Kedul juga tak hanya dikonsumsi warga sebagai sekadar pengisi perut. Ketika kuliner sudah menjadi gaya hidup, bubur gudeg, ketan bubuk kedelai/juruh, dan lontong opor hidangan Mbok Kedul menjadi konsumsi pemburu rasa dan keotentikan jajanan rakyat. Keotentikan itulah yang menjadi kekuatan Mbok Kedul.

Keotentikan tersebut dijaga antara lain dengan mempertahankan nama Mbok Kedul. Resep juga sesuai yang digunakan Mbok Kedul sejak awal.

Begitu juga cara memasak bubur yang tetap menggunakan kuali dari bahan tanah liat. Setelah masak, kuali itu pula yang digunakan sebagai tempat bubur. Kuali dari tanah liat tersebut, menurut Untari, memberi sentuhan rasa khas pada bubur Mbok Kedul. Dalam sehari, Mbok Kedul memasak bubur dua kali, yaitu pukul 13.00 ketika warung buka dan kuali kedua dihidangkan pada pukul 17.00

Menghadapi perubahan gaya hidup itu, Mbok Kedul tidak lantas berupaya sok ”memodernkan” diri. Dia tetap bersahaja, apa adanya. Warung Mbok Kedul menempati ruang berukuran selebar 13 tegel ukuran 20 sentimeter, atau sekitar 2,5 meter lebih sedikit. Ukuran panjang warung sekitar 8 meter. Di sana disediakan sejumlah meja bagi penyantap untuk menikmati hidangan.

Hidangan ditempatkan di bagian depan warung dalam ruang kaca. Pembeli bisa memesan dari depan kaca atau masuk ke dalam. Adapun Untari duduk menghadap hidangan untuk meracik hidangan. Ia dibantu asisten untuk melayani konsumen, serta sejumlah pekerja di dapur.

Dapur yang cukup luas terletak di bagian belakang warung.

Dapurnya terbilang masih ”konvensional” dengan jelaga hitam di sana-sini. Maklum, Warung Mbok Kedul menggunakan arang. Mengapa tidak menggunakan kompor gas? ”Wah medeni. Akeh lola-laline (menakutkan karena bisa lalai),” kata Untari.

Bisa dikatakan, dapur ini merupakan bentuk keotentikan lain dari Warung Mbok Kedul, yaitu kesederhanaan. Kebersahajaan yang justru memberi cita rasa yang membekas di memori rasa penikmatnya. (Frans Sartono)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.