Kompas.com - 19/09/2016, 14:06 WIB
Pengunjung menjajal sensasi berfoto di menara pandang di atas pohon (spot foto), Kamis (8/10/2015). Terlihat dalam latar foto itu Waduk Sermo, perbukitan Menoreh, serta Gunung Susukan dan Gunung Ijo. KOMPAS.COM/ERIS EKA JAYAPengunjung menjajal sensasi berfoto di menara pandang di atas pohon (spot foto), Kamis (8/10/2015). Terlihat dalam latar foto itu Waduk Sermo, perbukitan Menoreh, serta Gunung Susukan dan Gunung Ijo.
|
EditorNi Luh Made Pertiwi F

JAKARTA, KOMPAS.com - Kunjungan wisatawan ke Yogyakarta mengalami peningkatan, tren aktivitas wisatanya pun bervariasi. Hal itu terlihat dari permintaan kamar hotel yang meningkat dan penyebaran kunjungan wisatawan selama berada di Yogyakarta.

Chief Communication Officer & Co-Founder Tiket.com, Gaery Undarsa mengatakan tren kunjungan wisatawan ke Yogyakarta semakin populer khususnya dari segi permintaan hotel. Menurutnya, terjadi peningkatan permintaan yang signifikan dari wisatawan.

"Di Tiket.com, Yogyakarta menjadi kota utama untuk permintaan hotel. Bahkan sempat bersandingan dengan Bali dari segi pemesanan hotel. Tren dan tarif kamar hotel di Yogyakarta tergolong masih lebih kuat dibandingkan dengan Bali karena persaingan di Bali yang sangat sengit antar hotel (oversupply). Tren domestic travel yang semakin tinggi. Setelah Bali, Yogyakarta menjadi destinasi pariwisata utama," jelas Gaery kepada KompasTravel saat dihubungi, Sabtu (10/9/2016).

Gaery mengaku ada pula pengaruh film bioskop "Ada Apa dengan Cinta? 2" (AADC? 2) yang berlatar Yogyakarta terhadap kunjungan wisatawan.

"Ada sih, tapi itu niche market dan agak spesifik tahun ini kan. Itu efeknya ke perilaku orang ke Yogyakarta. Sekarang jadi banyak guest house dan sewa mobil," jelasnya.

Menurutnya, tren tersebut juga turut dipengaruhi oleh media sosial. Gaery mengatakan, destinasi wisata di sekeliling Yogyakarta saat ini banyak bisa dilihat di media sosial.

"Apalagi ditambah AADC. Banyak destinasi yang sekarang menjadi destinasi 'Instagram'. Orang banyak datang hanya untuk foto," ungkap Gaery.

Ketua Association of the Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta, Udhi Sudiyanto menambahkan tren kunjungan wisatawan ke Yogyakarta ke obyek-obyek wisata baru tengah dirasakan. Seperti contoh, lanjutnya, meski tak signifikan, terjadi permintaan paket-paket wisata "AADC?2" sekitar 10 persen.

"Untuk yang sudah beberapa kali yang ke Yogyakarta, mereka sudah mengunjungi tempat-tempat yang populer di Yogyakarta, mereka ingin mengunjungi obyek-obyek wisata yang baru. Untuk obyek wisata AADC 2 saja minimal sudah perlu satu hari sendiri," papar Sudiyanto saat dihubungi KompasTravel.

Penyebaran kunjungan wisatawan sangat dirasakan di daerah Kabupaten Gunung Kidul dan Kulon Progo. Menurutnya, obyek-obyek wisata seperti Goa Pindul dan Kalibiru berhasil menyedot kunjungan wisatawan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X