Kompas.com - 03/10/2016, 16:35 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Mulai Langka

Dulu, hampir semua rumah di Kota Binjai pasti punya pohon rambutan. Kalau sudah musim buah, sepanjang jalan akan memerah dengan buah rambutan. Semua orang bisa makan sepuasnya, untuk oleh-oleh saja bisa bergoni-goni. Tidak seperti sekarang yang dihargai mahal dengan isi buah yang sudah ditentukan.

"Saya dulu, kalau rambutan berbuah, satu pohon buat saya. Adik saya dua orang, mereka juga dapat seorang satu pohon. Makan sepuasnya, saya sampai satu harian sepulang sekolah bertengger di pohon. Petik makan, petik makan, begitu terus sampai buahnya habis, sampai kami bosan," kenang Rosty Loebis, warga Bandar Senembah, Binjai.

Perempuan berusia 68 tahun ini ingat betul masa-masa kecilnya. Masa-masa rambutan Binjai begitu terkenal dan jaya-jayanya. Sampai-sampai semua orang yang memakan buah legit ini, mengumpulkan biji-biji lalu menanam di tempat dia tinggal.

"Orang Jakarta datang, makan rambutan, bijinya tak dibuang. Dikumpulkan dan mereka tanam di Jakarta, orang mana lagi datang, begitu juga, akhirnya rambutan Binjai ada di mana-mana. Tapi ada juga yang nakal, saya beli rambutan di Jakarta, saya tanya ini rambutan mana pedagangnya bilang rambutan Binjai. Begitu saya makan asam, bohong dia," kata nenek 11 cucu ini.

Tapi sekarang, kalau musim rambutan, Kota Binjai tak semerah dulu lagi. Satu per satu pohonnya ditebang. Untuk kayu bakar atau perluasan lahan karena manusia semakin banyak.

Saat ini, orang-orang yang dulunya pemilik menjadi pembeli. Di pusat kota dan pinggiran jalan-jalan utama, sudah jarang ditemui pohon rambutan. Kita harus masuk ke sudut-sudut kampung untuk bisa menemukan pohon yang akarnya terkenal sangat mengganggu ini.

"Sekarang saya kalau pengen makan rambutan, ya beli lah. Kalau gak, main-mainlah ke kampung, ke rumah saudara yang masih ada pohon rambutannya, itu pun biasanya sudah dijual sama penggalas. Lama-lama, tak ada lagi pohon rambutan di Binjai ini, tinggal nama aja," ucap Rosty pelan.

KOMPAS.com/MEI LEANDHA Begitu memasuki Kota Binjai, Sumatera Utara, sepanjang Jalan Soekarno Hatta berjejer pedagang rambutan yang buka hingga malam hari.
Dia berharap, Pemkot Binjai menanam kembali pohon ini di pingir-pinggir jalan, sekeliling Lapangan Merdeka Binjai, di sepanjang pinggiran sungai-sungai atau di semua rumah warga yang masih punya halaman. Bibitnya gratis dan disediakan, siapa saja boleh ambil dan tanam.

"Kan, cantik kalo Binjai bisa kayak dulu lagi. Kalau musim rambutan merah di mana-mana, lagian bagus buat lingkungan, pohonnya bisa buat pelindung panas dan penahan air kalau di pinggir sungai. Biar cucu-cucu kita masih bisa liat dan tau, inilah pohon dan rambutan Binjai itu," pungkas Rosty.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.