Kompas.com - 13/07/2017, 16:12 WIB
Sejumlah pengunjung terlihat di sekitar Kawah Sikidang yang berada tak jauh dari Kawah Sileri di kompleks obyek wisata Dieng Plateau, Banjarnegara, Jawa Tengah, pasca-semburan lumpur, Senin (3/7/2017). Kawah Sileri menyemburkan lumpur setinggi 200 meter pada Minggu, 2 Juli kemarin, sedikitnya 20 orang dilaporkan terluka. KOMPAS.com / M IQBAL FAHMISejumlah pengunjung terlihat di sekitar Kawah Sikidang yang berada tak jauh dari Kawah Sileri di kompleks obyek wisata Dieng Plateau, Banjarnegara, Jawa Tengah, pasca-semburan lumpur, Senin (3/7/2017). Kawah Sileri menyemburkan lumpur setinggi 200 meter pada Minggu, 2 Juli kemarin, sedikitnya 20 orang dilaporkan terluka.
|
EditorI Made Asdhiana

KOMPAS.com - Dataran Tinggi Dieng terbentuk akibat letusan Gunung Prahu Tua yang terjadi berabad-abad yang lalu. Meski sudah terpaut lama, aktivitas vulkanis di kawasan ini masih tetap terjadi. Salah satu buktinya adalah Kawah Sikidang.

Keunikan Kawah Sikidang dibandingkan kawah-kawah lain (baik yang ada di Dataran Tinggi Dieng maupun di tempat lain) adalah kawah utama di kawasan ini selalu berpindah-pindah.

Karena letak kawah utama yang berpindah-pindah inilah kawasan ini diberi nama ‘sikidang’, yang berasal dari ‘kidang’ (kijang). “Kawah utama yang berpindah-pindah hampir mirip dengan sifat kijang yang senang melompat kesana kemari,” kata Ibnu.

(BACA: Kawah Sileri Meletus, Ini Pilihan Wisata Dieng yang Aman Dikunjungi)

Selain itu, ada sebuah legenda mengenai kawah ini yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat sekitar.

Dari berbagai sumber yang dihimpun Kompas.com, cerita rakyat ini adalah tentang seorang gadis cantik yang bernama Shinta Dewi dan seorang pangeran kaya raya, Kidang Garungan. Namun jangan salah, walau kaya raya, ada yang tidak biasa pada pangeran ini.

Sesuai dengan namanya, Kidang Garungan memiliki tubuh manusia tapi kepalanya merupakan kepala kijang atau rusa.

(BACA: Sensasi Sauna Alami di Kawah Kamojang, Bandung)

Singkat cerita, Pangeran Kidang Garungan hendak meminang Putri Shinta Dewi. Namun karena paras pangeran yang sangat buruk, sang putri pun menolak pinangan itu. Diberikannya syarat yang mustahil kepada pangeran untuk membuat sumur besar seorang diri dalam waktu sehari.

Dengan syarat seberat itu, Putri Shinta Dewi berpikir bahwa Pangeran tidak mungkin bisa memenuhinya, sehingga pernikahan dapat dibatalkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X