Merasakan Kehidupan Kyoto di Great Asia Afrika Bandung, Wajib Coba

Kompas.com - 20/01/2020, 10:15 WIB
Replika Gerbang Torii di Kyoto, Jepang yang dapat kamu kunjungi di Great Asia Afrika, Bandung, Jumat (17/1/2020). kompas.com / Nabilla RamadhianReplika Gerbang Torii di Kyoto, Jepang yang dapat kamu kunjungi di Great Asia Afrika, Bandung, Jumat (17/1/2020).

BANDUNG, KOMPAS.com - Kuil Fushimi Inari yang terletak di Kyoto, Jepang terkenal sebagai tempat yang khas akan deretan pilar merah bernama Gerbang Torii.

Tentunya ketika berkunjung ke Jepang, kamu tidak ingin melewati kesempatan untuk berfoto di jalur yang menjuntai hingga hutan sakral di pegunungan Inari.

Namun, kini kamu tidak perlu jauh-jauh berkunjung ke Kyoto hanya untuk berfoto di Gerbang Torii. Sebab, kamu bisa memanfaatkan hari liburmu untuk datang ke miniatur kota Kyoto yang berada di Great Asia Afrika.

Baca juga: Tempat Wisata di Bandung Terbaru, Foto-foto di The Great Asia Afrika Lembang

1. Gerbang Torii

Menelusuri Gerbang Torii khas Great Asia Afrika, kamu akan langsung mendengar alunan musik Jepang yang diputar untuk meramaikan area Jepang.

Setelah sampai ke penghujung jalan, kamu bisa coba menjelajahi jalur kecil tepat di sebelah gerbang tersebut.

Jalur kecil tersebut memiliki nuansa kayu yang unik. Jika kamu tidak sempat berfoto di dalam Gerbang Torii, kamu bisa berfoto di jalur kecil ini seperti salah satu pengunjung bernama Muslih yang datang dari Jakarta.

Baca juga: Sebuah Kuil di Jepang Larang Turis Berkunjung, Ada Apa?

"Sebenarnya saya tidak tahu kalau ini juga termasuk bagian dari Jepang. Setelah dicek sama anak saya ternyata ini (jalur kecil) bersebelahan dengan gerbang merah," kata Muslih kepada Kompas.com, Bandung, Jumat (17/1/2020).

"Saya sekalian foto di sini karena gerbang merah ramai, jadi nunggu dulu," lanjutnya.

Empat alat pengambil air khas Jepang yang dapat dilihat di area Jepang dekat Gerbang Torii, Great Asia Afrika, Bandung, Jumat (17/1/2020).kompas.com / Nabilla Ramadhian Empat alat pengambil air khas Jepang yang dapat dilihat di area Jepang dekat Gerbang Torii, Great Asia Afrika, Bandung, Jumat (17/1/2020).
Muslih mengatakan, Gerbang Torii yang ada di sana memang mirip seperti yang ada di Kyoto. Oleh karena itu, dia bersama adik dan kedua anaknya berkunjung untuk berfoto. Namun apa daya, sepanjang jalan gerbang tersebut sangat ramai.

Maka dari itu, Muslih memilih untuk berfoto-foto di jalur kecil di samping Gerbang Torii yang hanya dimanfaatkan sebagai spot berfoto oleh beberapa orang saja.

2. Kincir air

Apabila kamu berjalan lebih lanjut ke dalam area miniatur Kyoto, kamu akan disambut oleh empat kincir air atau alat pengangkut air tradisional khas Jepang yang terbuat dari kayu bambu.

Baca juga: 5 Wisata ala Jepang di Malang, Bamboo Forest sampai Onsen

 

Kamu juga bisa melihat sebuah jembatan kecil yang mengarah ke taman kecil yang aksesnya masih belum dibuka.

Tidak jauh dari sana, kamu bisa melihat sebuah taman khas Jepang yang luas dengan hiasan batu berwarna putih.

Namun, kamu tidak bisa masuk ke area taman karena akses ditutup oleh pagar kayu. Kamu hanya bisa berfoto di dekat taman tersebut.

Baca juga: 37 Negara Bebas Visa untuk WNI, Jepang dan Jeju Island Termasuk

3. Rumah Jepang

Selanjutnya, kamu akan melihat sebuah gapura khas Jepang berwarna merah yang dilengkapi dengan sebuah jalanan kecil menuju rumah khas Jepang. 

Replika jembatan merah yang khas di Jepang, Great Asia Afrika, Bandung, Jumat (17/1/2020).kompas.com / Nabilla Ramadhian Replika jembatan merah yang khas di Jepang, Great Asia Afrika, Bandung, Jumat (17/1/2020).
Meskipun tidak dapat masuk ke sana, namun kamu jangan khawatir. Sebab, terdapat satu bangunan khas Jepang yang bisa kamu kunjungi.

Bangunan tersebut terletak tepat di seberang Gerbang Torii. Untuk menuju ke sana, kamu bisa menyusuri dua kolam besar yang dipisah oleh Jembatan Merah.

Setelah menyusuri jalanan tersebut, kamu bisa langsung menemukan bangunan yang memiliki tiga gentong besar di halamannya. Bangunan tersebut terlihat seperti sebuah rumah Jepang tua di zaman dahulu.

Baca juga: Seekor Ikan Tuna di Jepang Laku Dijual Rp 25 Miliar

Sebelum kamu masuk ke bangunan tersebut untuk melihat barang-barang khas Jepang, kamu harus melepaskan alas kaki terlebih dahulu demi menjaga kebersihan bagian dalam rumah.

"Tadi sempat masuk, tapi tidak lihat tulisan peraturan di pintu karena kecil. Makanya pakai sepatu tapi untung ibu-ibu yang pada duduk di sana (tempat duduk dekat beberapa gentong besar untuk menaruh ubi Jepang) manggil saya untuk kasih tahu. Tapi sudah terlanjur (pakai sepatu ke dalam),” kata salah satu pengunjung asal Bandung bernama Matthew.

Terkait pengalamannya di dalam bangunan tersebut, Matthew mengatakan bahwa apa yang ditampilkan sangat menarik. Sebab, selama ini dia tidak pernah tahu bagaimana bentuk rumah orang Jepang.

Baca juga: Hotel Kapsul di Jepang Tawarkan Kucing Jadi Teman Tidur

Oleh karena itu, meskipun pencahayaan bangunan sedikit gelap, dia tetap bersikukuh untuk berfoto di sana.

Salah satu hal yang membuatnya sangat tertarik akan bangunan tersebut adalah tampilan tempat untuk memasak yang ada di tengah ruangan.

4. Plakat Ema

Berjalan-jalan di Little Japan milik Great Asia Afrika dapat dikatakan sebagai sebuah wisata edukasi. Sebagai salah satu miniatur negara Asia paling luas dan ramai, wisatawan tidak hanya diberikan pemandangan rumah khas Jepang tetapi juga budaya mereka.

Baca juga: Codafood Jual Soto Betawi di Jepang, Bagaimana Prosesnya?

Salah satunya adalah barisan plakat Ema yang berada di dekat jajaran toko makanan Jepang. Plakat Ema adalah potongan kayu kecil yang digunakan orang beragama Buddha dan Shinto untuk menuliskan doa dan harapan mereka.

Replika plakat Ema yang terkenal digunakan oleh orang beragama Buddha dan Shinto di Jepang. Biasanya, plakat terbuat dari potongan kayu. Akan tetapi plakat Ema yang ada di Great Asia Afrika terbuat dari kertas, Bandung, Jumat (17/1/2020).kompas.com / Nabilla Ramadhian Replika plakat Ema yang terkenal digunakan oleh orang beragama Buddha dan Shinto di Jepang. Biasanya, plakat terbuat dari potongan kayu. Akan tetapi plakat Ema yang ada di Great Asia Afrika terbuat dari kertas, Bandung, Jumat (17/1/2020).
Di sini, wisatawan dapat menulis dan menggantung doa dan harapan mereka di plakat Ema yang telah disediakan.

Plakat Ema tidak terbuat dari potongan kayu kecil melainkan kertas tebal. Namun, nilai kebudayaan khas Jepang tersebut tentu sangat penting untuk diperkenalkan kepada para wisatawan.

Wisata Edukatif

Terkait budaya edukatif, Public Relations And Promotion Great Asia Afrika Intania Setiati mengatakan, pihak mereka juga sudah beberapa kali mengadakan seminar kecil-kecilan.

Baca juga: Mengapa Tidak Boleh Bertato Saat Masuk Onsen di Jepang?

 

Seminar tersebut dilakukan dalam rangka mengedukasi pengunjung perihal kebudayaan Jepang.

"Waktu itu kami pernah membuat pelatihan seputar pembuatan origami, budaya minum teh, dan beberapa makanan Jepang seperti onigiri. Kami juga mengundang orang asli Jepang untuk workshop tersebut,” kata Intania saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (18/1/2020).

Seminar tersebut dilakukan agar pengunjung tidak hanya datang dan berkunjung untuk wisata foto, tetapi juga agar mereka mendapatkan informasi terkait miniatur bangunan dan negara yang sedang dikunjungi.

Baca juga: Wajib Berendam Tanpa Busana, 7 Aturan Masuk Onsen di Jepang

Jika kamu ingin berkunjung, Great Asia Afrika terletak di Jalan Raya Lembang – Bandung No 71, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Tempat wisata tersebut buka setiap hari mulai dari pukul 08:00 – 20:00 WIB dengan harga tiket Rp 50.000 untuk semua usia. Tiket dapat ditukar dengan minuman atau sosis.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X