Keliling Saksi Bisu G30S/PKI, Ada Museum yang Dulu Rumah Pahlawan Revolusi

Kompas.com - 30/09/2020, 15:30 WIB
Warga mengunjungi Monumen Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (30/9/2014). Monumen tersebut dibangun untuk menghormati para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan Tiga Puluh September atau G-30-S/PKI pada 1965. KOMPAS/ WAWAN H PRABOWOWarga mengunjungi Monumen Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (30/9/2014). Monumen tersebut dibangun untuk menghormati para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan Tiga Puluh September atau G-30-S/PKI pada 1965.

KOMPAS.com - Tepat 55 tahun lalu, tanggal 30 September, tujuh pahlawan revolusi mengalami penculikan, penyiksaan, hingga akhirnya wafat di Lubang Buaya.

Meski peristiwa tersebut sudah puluhan tahun, perjuangan mereka menegakan dan mempertahankan Pancasila masih bisa dikenang hingga kini. Salah satu

Tempat kejadian asli penculikan dan tempat penyiksaan mereka dijadikan museum.

Wisata Kreatif Jakarta  (WKJ) mengadakan virtual tour yang dipandu oleh pemandu wisata, Ira Lathief, berkeliling mengunjungi empat saksi bisu peristiwa G30S/PKI.

Adapun keempatnya yakni Museum Sasmitaloka Jenderal AH. Nasution, Museum Sasmitaloka Ahmad Yani, Kawasan Lubang Buaya, dan Tanam Makam Pahlawan.

Baca juga: Museum Ahmad Yani, Saksi Bisu Perjalanan Sang Jenderal Korban G30S/PKI

 

Kediaman Jendral Nasution yang sempat ditinggali oleh Kapten Pierre Tendean. Berlokasi di  Jl. Teuku Umar  no. 40, Jakarta Pusat, Jumat (6/10/2010)wikimedia.org Kediaman Jendral Nasution yang sempat ditinggali oleh Kapten Pierre Tendean. Berlokasi di Jl. Teuku Umar no. 40, Jakarta Pusat, Jumat (6/10/2010)

Museum Sasmitaloka Jenderal AH Nasution

Pemberhentian pertama berada di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, yakni kunjungan ke Museum Jenderal AH Nasution.

Museum ini dulu merupakan rumah kediaman Jenderal Nasution dan keluarga, dan menjadi saksi bisu kejadian Tjakrabirawa yang berusaha menangkap Pak Nas, panggilan akrab Nasution.

Saat itu, Nasution berhasil kabur melalui tembok belakang rumah. Ira menjelaskan, Nasution berhasil kabur berkat sang istri, Johana Soenarti.

Tjakrabirawa memasuki rumah mereka, dan Johana yang langsung sigap membuka pintu dan menyuruh Nasution untuk segera kabur.

Virtual tour juga dilengkapi dengan pemutaran film G30S/PKI. Melalui film, turut tampak bagaimana Kapten Tendean tertangkap Tjakrabirawa, dan mengaku dirinya sebagai Nasution.

Baca juga: Lettu Pierre Tendean yang Jadi Korban Peristiwa G30S/PKI

Rumah Jenderal Nasution dijadikan museum pada tahun 2008, dan dikelola oleh TNI pada zaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. 

Saat masuk ke dalam museum, pengunjung akan langsung melihat patung Nasution dengan nama beserta jabatannya pada bagian bawah patung. Selanjutnya, akan ada ruang kerja sang Jendral Besar.

Memasuki museum lebih dalam, ada ruang makan, dan juga diorama Johana yang sedang menggendong Ade Irma.

Baju Ade Irma dan juga Johana berlumur darah, karena Ade Irma terkena tembakan Tjakrabirawa.

Saat penangkapan, Kapten Tendean sedang berjaga di rumah Nasution. Surat cinta dari tunangannya yang bernama Rukmini juga menjadi kisah menarik dibalik kejadin G30S/PKI.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X