Kompas.com - 20/01/2021, 14:51 WIB
Tandem Paralayang di kawasan Gunung Banyak Dok. Instagram @tandemparalayangTandem Paralayang di kawasan Gunung Banyak

KOMPAS.com – Pelopor paralayang Indonesia yang juga anggota Asosiasi Penerbangan Tandem dan Paralayang Indonesia (APTIPI) Gendon Subandono mengatakan, Indonesia memiliki lebih dari 100 spot paralayang untuk semakin dikembangkan.

“Sampai akhir 2020, setidaknya ada lebih dari 100 spot istimewa untuk paralayang yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Baik di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Papua,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut disampaikan olehnya dalam webinar Indonesia Adventure Travel Trade Association (IATTA) bertajuk “Membangkitkan Kembali Pariwisata Indonesia Melalui Wisata Petualangan” pada Kamis (14/1/2021).

Baca juga: Spot Sunset di Yogyakarta, Kunjungi Bukit Paralayang Watugupit

Dari jumlah tersebut, menurut Gendon hanya ada 15 lokasi saja yang menjadi tulang punggung perkembangan wisata paralayang dengan enam lokasi berada di Bali dan dipegang oleh empat operator wisata paralayang.

“Di Puncak, Jawa Barat sendiri menjadi salah satu spot yang masif juga untuk perkembangan wisata. Sulawesi, di Manadao, dan di Sulawesi Tengah juga perkembangannya bagus,” tuturnya.

Ada juga lokasi wisata paralayang di Kemuning, Sidomukti, dan Gunung Banyak. Gendon mengatakan, Gunung Banyak di Jawa Timur menjadi lokasi wisata paralayang karena diawali dari Pekan Olahraga Nasional (PON) XV.

Lokasi lain yang bisa semakin dimajukan

Gendon menyatakan bahwa Sumatera Barat (Sumbar) memiliki cukup banyak spot paralayang untuk semakin dikembangkan.

Atlet paralayang yang tengah berlatih di Bukit Paralayang Watugupit, Bantul, Yogyakarta, Kamis (23/1/2020). Selain menjadi tempat wisata, Bukit Paralayang sebelumnya merupakan tempat berlatih atlet paralayang dari berbagai daerah.Paskalis Dwiwanda Atlet paralayang yang tengah berlatih di Bukit Paralayang Watugupit, Bantul, Yogyakarta, Kamis (23/1/2020). Selain menjadi tempat wisata, Bukit Paralayang sebelumnya merupakan tempat berlatih atlet paralayang dari berbagai daerah.

Meski spot paralayang yang ada tidak sebanyak di Gunung Banyak, Puncak, atau Bali, namun Sumbar dikatakan oleh Gendon memiliki potensi yang besar.

“Di Danau Toba punya tempat yang banyak dan sangat berpotensi untuk dikembangkan, termasuk di Sumbar ada di Danau Maninjau, Danau Singkarak, dan ada di beberapa tempat lain yang cukup jadi andalan terkait lokasi,” ujarnya.

Menurutnya, semakin dikembangkannya lokasi wisata paralayang, maka semakin maju lokasi tersebut dan dapat dijadikan sebagai destinasi wisata baru.

Baca juga: Bakal Ada Wisata Paralayang di Sukabumi, Bisa Lihat Geopark Ciletuh dari Atas

Sebab, lanjut Gendon, paralayang merupakan atraksi wisata yang menarik mata banyak pengunjung dan berbeda dengan wisata olahraga lainnya.

“Paralayang bisa jadi atraksi tambahan agar pengunjung di destinasi wisata bisa lebih banyak yang datang,” ucapnya.

Mulai gencar sejak 1995

Kegiatan paralayang semakin gencar dipromosikan sebagai salah satu wisata petualangan sejak 1995 meski belum secara masif diketahui masyarakat.

Meski begitu, Gendon mengatakan bahwa wisata petualangan tersebut mulai dikenal dan mengalami peningkatan peminat sejak 2005 hingga sekarang.

Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat untuk melakukan wisata paralayang merupakan hasil dari para pelaku paralayang yang selalu gencar mengembangkan lokasi penerbangan agar semakin banyak.

“Kegiatan kita berkembang secara hobi dan olahraga saja. Tapi mulai dari 2000-an, dari sisi prestasi ada lonjakan tajam karena masuk PON,” kata Gendon.

“Tahun 2000-2019 itu prestasi paralayang Indonesia cukup meningkat tajam. Dari sisi pariwisata, kegiatan wisata sudah mulai sejak 1995. Hanya memang jadi masif setelah mulai 2005-2019,” lanjutnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X