Kompas.com - 28/03/2021, 16:14 WIB

Masyarakat Desa Wisata Bagot menawarkan aneka sajian makanan dan minuman berbahan dasar nira. Ada pula sajian khas Samosir lainnya, seperti ayam napinadar yang merupakan ayam panggang Samosir yang khas dengan penggunaan rempah andaliman.

Wisatawan juga bisa mempelajari proses pembuatan bagot yang masih dilakukan secara tradisional oleh paragat, yakni orang yang memanen atau mengambil air nira langsung dari pohon enau. Wisatawan bisa bertanya langsung pada mereka.

“Jadi orang yang memanen, mengambil niranya itu berada di tempat dan kampung itu sendiri. Kita bisa saksikan setiap hari dia pergi ke pohonnya, jam berapa dia pulang. Bisa kita saksikan,” jelas Dumosch.

Tak hanya menikmati, wisatawan juga bisa membawa pulang olahan nira yang ada di Desa Parlondut ini sebagai oleh-oleh.

Wisatawan juga bisa menginap di Desa Wisata Bagot karena masyarakat telah menyediakan fasilitas homestay yang berkualitas baik dengan harga terjangkau.

Baca juga: Bukit Beta Tuktuk Samosir, Bisa Piknik di Atas Puncak Bukit

Rata-rata biaya yang kamu butuhkan untuk berwisata ke sana juga tak terlampau tinggi. satu gelas bagot biasa dibanderol dengan harga Rp 5.000. Sementara homestay-nya biasa memiliki tarif Rp 100.000–Rp 150.000 per kamar.

Desa Parlondut ini juga terletak di daerah yang cukup strategis, sehingga mudah dijangkau dari jalan raya utama. Hanya sekitar 600 meter dari jalan raya utama, terus mengarah ke perbukitan.

“Kemudian dia juga tidak terlalu jauh dari salah satu objek wisata kita di Pangururan, namanya hot spring atau pemandian air panas (Aek Rangat Pangururan),” ujar Dumosch.

Setelah puas berendam di pemandian air panas, kamu bisa melepas lelah dengan menginap di homestay Desa Wisata Bagot sekaligus menikmati minuman berbahan nira tersebut, sambil melihat pemandangan indah Danau Toba.

Kendala pengembangan Desa Wisata Bagot

Dalam pengembangannya, Dumosch tak memungkiri adanya kendala yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kesulitan masyarakat desa untuk memenuhi permintaan bagot dari para wisatawan.

Jumlah kunjungan wisatawan hingga kini memang sudah cukup tinggi, sehingga permintaan bagot pun juga cukup tinggi. Seringkali masyarakat kesulitan memenuhinya karena mereka masih melakukan sendiri proses produksi bagot tersebut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.