Kompas.com - 17/01/2013, 08:15 WIB
EditorI Made Asdhiana

Tempat asal

Namun, rasanya kurang afdal jika belum mencoba ketupat kandangan di tempat asalnya, Kandangan. Kota Kandangan merupakan kota kecil ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Begitu memasuki kota itu, nuansa ketupat mulai terasa. Sejumlah bangunan tugu berbentuk ketupat berukuran besar semakin menandaskan bahwa dari kota itulah ketupat kandangan di Kalsel berasal.

Di Kandangan, salah satu warung ketupat yang sudah cukup lama berdiri adalah milik Titi (50) di Jalan Ahmad Yani, tepatnya dekat makam Tumpang Talu, pahlawan setempat. Warung kecil yang diberi nama Lailatul Husna itu sudah ada sejak 1970-an dan merupakan warisan orangtua Titi. Awal keberadaan ketupat kandangan sendiri tak ada yang tahu persis, tetapi diperkirakan sudah lama dan turun-temurun.

Sepiring ketupat kandangan pun meluncur ke dalam tenggorokan. Menikmati ketupat di tempat itu seakan telah menemukan orisinalitas rasa. Kuah ketupat ternyata lebih kental dan berwarna putih sedikit kuning. Rasa kuah sedikit manis dan gurih santannya sangat terasa. Begitu ditambahkan sambal ada nuansa pedas dan sedikit kecut akibat pengaruh lemon.

Untuk melengkapi menu ketupat biasanya ada lauk lain, yakni ayam atau telur itik (telur asin). Telur itik didatangkan langsung dari pusat itik di Kalsel, yakni dari Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jika dibelah, bagian kuning telurnya berwarna jingga dan masir rasanya.

Ikan haruan

Channa striata termasuk ikan populer. Berbagai budaya mengenal ikan ini. Apabila di Kalimantan Selatan di sebut ikan haruan, di Jawa ikan ini dikenal sebagai ikan kutuk. Orang Betawi menyebutnya ikan gabus. Tak hanya lezat sebagai santapan karena rasa dagingnya yang manis, lembut, dan tak banyak duri, ikan haruan juga mengandung protein tinggi.

Secara turun-temurun, khasiat ikan ini juga diketahui masyarakat penikmatnya. ”Ini ikan sehat. Orang kampung bilang, kalau makan haruan setelah operasi, nanti cepat kering lukanya dan tidak gatal,” ujar Nuraida.

Perempuan setelah melahirkan pun dianjurkan mengonsumsi ikan haruan untuk memulihkan kesehatannya. Nuraida pun mempraktikkan anjuran itu. ”Untuk obat habis melahirkan, ikannya di tim dengan bawang merah, bawang putih, kentang, dan wortel. Air susu ibu juga tambah banyak,” ujarnya.

Khusus untuk sajian ketupat kandangan, terkadang ikan haruan juga bisa diganti dengan jenis lain, yakni ikan tauman yang bentuk dan rasanya hampir sama. Bagi mereka yang terbiasa, akan bisa membedakan apakah ketupat itu menggunakan haruan atau toman. Perbedaannya terletak pada tekstur daging. Daging ikan haruan lebih lembut teksturnya.

Maklum harga ikan haruan dua kali lebih mahal daripada ikan tauman. Jika harga satu kilogram ikan tauman hanya Rp 35.000, saat ini haruan mencapai Rp 60.000-Rp 70.000. Tak heran jika di Kalsel ikan haruan menjadi salah satu komoditas pemicu inflasi terbesar selain beras. Sedemikian besarnya pengaruh ikan itu bagi masyarakat Banjar. Dan ketupat kandangan seolah menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan.

Ikuti twitter Kompas Travel di @KompasTravel

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.