Harta Budaya di Tebing Terjal Kyoto

Kompas.com - 19/12/2013, 15:41 WIB
Kuil Kiyomizu di kawasan perbukitan Kyoto, Jepang, Minggu (10/11/2013). Salah satu keunikannya adalah bangunan terasnya yang menganjur ke luar dari bibir tebing sedalam lebih kurang 50 meter. Teras itu jadi area strategis untuk menikmati kemegahan Kyoto.
KOMPAS/FRANS SARONGKuil Kiyomizu di kawasan perbukitan Kyoto, Jepang, Minggu (10/11/2013). Salah satu keunikannya adalah bangunan terasnya yang menganjur ke luar dari bibir tebing sedalam lebih kurang 50 meter. Teras itu jadi area strategis untuk menikmati kemegahan Kyoto.
EditorI Made Asdhiana
KYOTO disebut pula sebagai Prefektur (setingkat provinsi) 2000 Kuil. Harta budaya itu selalu terjaga. Salah satu di antaranya adalah Kuil Kiyomizu di Higashiyama-ku, kawasan lereng bukit sebelah timur Kyoto. Kuil yang kini berusia sekitar 14 abad itu, selain sarat sensasi juga berdaya tarik tinggi sehingga selalu padat dikunjungi wisatawan dari berbagai pelosok dunia.

Kunjungan ke Kuil Kiyomizu pada petang itu adalah rangkaian pelancongan tim media Garuda Indonesia, termasuk Kompas, ke sejumlah obyek wisata di Sakai, Kobe, Kyoto, dan Osaka (Jepang), 8-12 November lalu.

Selain kalangan media, pelancongan yang terselenggara atas kerja sama dengan Badan Pariwisata Jepang juga melibatkan perwakilan perusahaan jasa pariwisata nasional, Bambang Mirawan (Astrindo) dan Felicia Tanjaya (Wita Tour). Tur itu menjadi lebih semarak karena bersama dua artis, Ben Joshua dan Wenda Tan.

Dalam panduan serius Kiyotaka Kondo, pelancongan yang dipimpin Luqmanul Hakim dan Tjahyadi (keduanya dari Garuda Indonesia) mengunjungi belasan obyek wisata. Setidaknya ada empat yang berdaya tarik tinggi. Selain Kuil Kiyomizu, tiga lainnya adalah Museum Istana Osaka, Studio Universal Jepang, dan Jembatan Akashi Kaikyo.

Bagi sebagian anggota tim, terutama mereka yang kini berusia di atas kepala lima, pelancongan dengan jadwal ketat dan padat terasa menguras energi. Ketika kami hendak menyambangi kawasan Kuil Kiyomizu pada petang hari ketiga, sejumlah pelancong ”usia lanjut” sempat melontarkan niat untuk batal bergabung hingga puncak Kiyomizu.

Kondo menantang. ”Kuil Kiyomizu sangat unik. Jangan mengaku pernah melancong ke Kyoto jika belum sempat mengunjungi Kuil Kiyomizu,” kata pemandu itu, memotivasi anggota tim ”berusia lanjut”.

Tantangan itu seperti energi baru. Semuanya langsung bergabung, menapaki jalan agak menanjak hingga kawasan kuil. Benar saja, Kuil Kiyomizu memang unik dan sangat memesona!

Di bagian teras kuil bertengger sekitar bibir tebing terjal berkedalamam sekitar 50 meter. Area teras kayu itu secara khusus memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk menikmati kemegahan kota Kyoto.

Kuil yang menjadi warisan budaya dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), daya tariknya terasa sejak dari tempat parkir bus. Jaringan yang dilalui hanya bagi pejalan kaki dan selalu dipadati pengunjung. Sepanjang tepi jalan dipadati pertokoan suvenir, toko makanan ringan, dan restoran.

Menurut Kondo, Kuil Kiyomizu adalah rumah ibadah Buddha sekte Hosso, satu dari empat sekte Buddha di Jepang. Kuil itu berdiri tahun 789 dan baru dipugar 844 tahun kemudian. Keberadaannya konon menginspirasi bentuk bangunan kuil-kuil susulan di Kyoto, bahkan di Jepang.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X