Kompas.com - 23/01/2014, 13:10 WIB
Seorang anak bermain sepeda bersama orangutan didampingi keeper di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur, Kamis (5/12/2013). KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRASeorang anak bermain sepeda bersama orangutan didampingi keeper di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur, Kamis (5/12/2013).
EditorI Made Asdhiana
SURABAYA, KOMPAS — Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen menerapkan standar internasional dalam mengelola dan memperbaiki Kebun Binatang Surabaya. Pemerintah Amerika Serikat, China, dan Jepang dikabarkan siap membantu, terutama dalam bentuk pendampingan.

”Saya mengajak negara lain ikut bekerja sama,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Rabu (22/1/2014), di Surabaya. Pemerintah Kota Surabaya mendapat izin sebagai lembaga konservasi dari Kementerian Kehutanan untuk mengelola KBS.

Ketiga negara yang siap membantu itu memiliki kantor konsulat jenderal di Surabaya sehingga mudah digandeng. Pemerintah AS, misalnya, siap mendatangkan tenaga ahli konservasi dan memasok suplai makanan satwa. Semua dilakukan sukarela demi kepentingan konservasi.

Menurut Rismaharini, dengan menerapkan standar internasional, semua prosedur pengelolaan KBS mengacu aturan kebun binatang di dunia, terutama aspek pengamanan satwa dan kondisi kandang. Negara-negara maju yang diajak bekerja sama diharapkan memberi masukan berdasarkan pengalaman mereka.

”Upaya awal yang harus dilakukan saat ini mengevaluasi sumber daya manusia di KBS bersama tim dari Universitas Airlangga Surabaya,” kata Rismaharini. Penyegaran juga dengan mencari pegawai baru.

Menyejahterakan satwa

Evaluasi jumlah dan kondisi satwa segera dilakukan. Hasilnya jadi pertimbangan Pemkot Surabaya menyusun anggaran perbaikan fasilitas agar kesejahteraan satwa lebih terjamin.

Keamanan kandang yang direncanakan, antara lain pemasangan kaca pada dinding kandang bagi satwa tertentu agar pengunjung tak memberi makan sembarangan. Perbaikan kandang mendesak sehingga satwa terlindungi, kematian ditekan.

Berdasarkan data Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS, sepanjang 2013 ada 229 ekor satwa mati. Angka itu turun dibanding tahun 2012 dengan 292 ekor, 2011 (315), dan 2010 (269). Kematian terbanyak pada 2007, yakni 528 ekor.

Menurut Manajer Humas KBS Agus Supangkat, hewan koleksi KBS ada 3.484 ekor dari 203 jenis. Meskipun sejumlah spesies lebih populasi, seperti pelikan dan komodo, KBS kehilangan beberapa spesies, yakni bison dan jaguar karena mati.

Awal Januari 2014, pengelolaan KBS kembali disorot karena kematian tiga satwa, yakni gnu, singa, dan kambing gunung. Pihak KBS melaporkan kematian singa jantan bernama Michael kepada Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya. Michael yang mati tergantung tali sling timah di kandang dinilai tak wajar.

Dua pekan sejak kematian satwa itu belum ada tersangka yang ditetapkan. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya AKBP Farman mengatakan, pihaknya masih menunggu keterangan saksi ahli dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jatim untuk menentukan wajar tidaknya kematian itu. ”Kami sudah panggil saksi, tapi belum datang. Penyelidikan juga menunggu hasil laboratorium patologi Universitas Airlangga,” kata Farman. (DEN/ILO)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

15 Wisata Bantul Yogyakarta dengan Pemandangan Alam Instagramable

15 Wisata Bantul Yogyakarta dengan Pemandangan Alam Instagramable

Jalan Jalan
Pemerintah Kota Yogyakarta Siapkan Jalur Skuter Listrik di Kotabaru

Pemerintah Kota Yogyakarta Siapkan Jalur Skuter Listrik di Kotabaru

Travel Update
Wisata ke Rowo Bayu Banyuwangi, Diduga Lokasi Asli KKN di Desa Penari

Wisata ke Rowo Bayu Banyuwangi, Diduga Lokasi Asli KKN di Desa Penari

Jalan Jalan
Rahasia Ruangan yang Terkunci di Taj Mahal, Benarkah Ada Kuil Hindu?

Rahasia Ruangan yang Terkunci di Taj Mahal, Benarkah Ada Kuil Hindu?

Jalan Jalan
8 Motif Batik Betawi dari Jakarta yang Bernilai Sejarah dan Budaya

8 Motif Batik Betawi dari Jakarta yang Bernilai Sejarah dan Budaya

Jalan Jalan
Festival Dugong di Alor NTT, Upaya Pemulihan Ekonomi lewat Pariwisata

Festival Dugong di Alor NTT, Upaya Pemulihan Ekonomi lewat Pariwisata

Travel Update
11 Tempat Wisata di Jepang buat Pecinta Anime dan Manga

11 Tempat Wisata di Jepang buat Pecinta Anime dan Manga

Jalan Jalan
Sederet Fasilitas Baru TMII Setelah Revitalisasi, Ada Trem Listrik

Sederet Fasilitas Baru TMII Setelah Revitalisasi, Ada Trem Listrik

Travel Update
Sandiaga Sebut Industri Seni Lokal Bisa Belajar dari K-Pop, Ini Alasannya

Sandiaga Sebut Industri Seni Lokal Bisa Belajar dari K-Pop, Ini Alasannya

Travel Update
Aturan Perjalanan Dilonggarkan, Harga Tiket Pesawat Diharapkan Ikut Turun

Aturan Perjalanan Dilonggarkan, Harga Tiket Pesawat Diharapkan Ikut Turun

Travel Update
Daftar Visa on Arrival Kunjungan Wisata Ditambah, Jadi 60 Negara

Daftar Visa on Arrival Kunjungan Wisata Ditambah, Jadi 60 Negara

Travel Update
Siapkan SDM Pariwisata, Labuan Bajo Akan Bangun Poltekpar

Siapkan SDM Pariwisata, Labuan Bajo Akan Bangun Poltekpar

Travel Update
Syarat Perjalanan Tak Perlu Tes Covid-19, Ini Kata Pelaku Industri Pariwisata

Syarat Perjalanan Tak Perlu Tes Covid-19, Ini Kata Pelaku Industri Pariwisata

Travel Update
10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

10 Museum Paling Angker di Dunia, Ada Koleksi Mumi

Jalan Jalan
Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Rute Menuju Plunyon Kalikuning, Jadi Lokasi Syuting KKN di Desa Penari

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.