Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ribuan Turis Ramaikan Ritual "Bakar Tongkang"

Kompas.com - 15/06/2014, 17:52 WIB
PEKANBARU, KOMPAS.com - Sedikitnya 40 ribu wisatawan domestik dan mancanegara menghadiri tradisi "Bakar Tongkang", sebuah ritual kuno etnis Tionghoa yang kini menjadi daya tarik pariwisata, di Kota Bagansiapi-api, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Sabtu (14/6/2014).

"Meski pelaksanaan tahun ini bersamaan dengan Piala Dunia, Bakar Tongkang tetap ramai karena diperkirakan lebih dari 40 ribu wisatawan yang datang," kata Asisten III Bidang Kesejahteraan Rakyat Setdakab Rokan Hilir, Azhar A., kepada Antara.

Ia mengatakan, mayoritas wisatawan merupakan warga keturunan Tionghoa asal Bagansiapi-api, yang khusus kembali ke tanah leluhur mereka untuk mengikuti acara tersebut.

"Wisatawan asing ada yang datang dari Singapura, Australia, Taiwan dan Malaysia. Sedangkan wisatawan lokal banyak datang dari Jakarta, Medan, Surabaya, Cirebon, dan daerah-daerah di Provinsi Riau sendiri," katanya.

Ia mengatakan, pemerintah daerah menilai tradisi Bakar Tongkang menjadi potensi pemasukan daerah dari sektor wisata. Acara tahunan itu memicu puluhan hotel baru dibangun di Bagansiapi-api yang terletak di pesisir Utara Riau itu.

"Sekarang ada puluhan hotel baru di daerah ini, berbeda jauh dari sebelumnya yang bisa dihitung dengan jari. Karena itu, sangat minim keluhan wisatawan yang sulit mendapat penginapan pada penyelenggaraan Bakar Tongkang tahun ini," ujarnya.

Tokoh masyarakat Tionghoa Bagansiapi-api, Tan Guan Tio (88), mengatakan sudah menjadi tradisi untuk warga setempat yang merantau untuk kembali ke Bagansiapi-api menghadiri Bakar Tongkang sebagai wujud syukur. Selain itu, ritual ini juga menjadi ajang memperkuat silaturahmi dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang bisa berpartisipasi langsung.

"Panggilan hati nurani mereka yang berhasil di perantauan, dan jadi kebanggaan ketika bisa pulang ke kampung halaman," ujarnya.

Puncak ritual tersebut digelar pada Sabtu petang (14/6) dengan membakar replika kapal tongkang yang merupakan puncak ritual Go Gwe Cap Lak atau Bakar Tongkang. Acara tersebut merupakan ritual warga Tionghoa Bagansiapi-api dalam mengekspresikan rasa syukur mereka kepada Dewa Laut atau Dewa Kie Ong Ya yang telah memberikan hidup lebih baik.

"Orang-orang tua masih percaya, arah tiang tongkang yang jatuh akan menunjukkan rezeki tahun ini. Kalau tiang jatuh ke laut, maka rezeki banyak di usaha di laut dan kalau ke darat maka sebeliknya rezeki banyak di darat," katanya.

Seorang warga setempat, Lonstam (50), mengatakan perputaran uang dalam ritual Bakar Tongkang cukup besar. Contoh paling kecil, lanjutnya, bisa dilihat dari persiapan ritual dilihat dari ratusan hio (dupa) raksasa, lilin dari ukuran kecil hingga setinggi 1,5 meter, hingga uang kuning untuk sembahyang yang disumbang oleh warga dari berbagai penjuru daerah.

"Semuanya itu disumbangkan oleh warga Bagansiapi-api yang merantau, agar mereka didoakan makin banyak rezeki dan untuk membantu saudara-saudara di Bagansiapi-api," kata Lonstam yang sudah delapan tahun terakhir mengurus perasapan hio di ritual Bakar Tongkang.

Ia mengatakan, ratusan hio raksasa disumbang warga untuk ritual tahun ini yang dibakar selama dua hari terakhir. Harganya yang paling murah Rp100 ribu dan yang ukuran raksasa setinggi dua meter harganya sampai jutaan Rupiah.

Bagi warga Bagansiapi-api, ritual ini jauh lebih sakral dibandingkan dengan perayaan Imlek maupun Cap Go Meh. Hampir seluruh warga Tionghoa kelahiran Bagansiapi-api pulang dari seluruh penjuru, baik dari berbagai kota dalam negeri maupun mancanegara.

Ritual ini bermula dari legenda perantauan 18 warga Tionghoa dari Fujian, dipimpin Ang Mie Kui, yang menyeberangi lautan dari daratan Tiongkok pada tahun 1820. Saat itu, Fujian tengah dilanda krisis pangan dan dikuasai oleh rezim Siam yang tiran. Mereka mengarungi samudra untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Mereka membawa serta patung Dewa King Ong Ya di atas kapal.

Para perantauan itu sempat kehilangan arah dan nyaris putus harapan sebelum akhirnya melihat cahaya dari daratan, yang akhirnya menjadi tempat tinggal baru mereka dan diberi nama Bagansiapi-api.

Kabarnya mereka lantas membakar kapal yang mereka bawa sebagai bentuk sumpah bahwa mereka akan menetap di Bagan. Sejak saat itu, replika perahu atau tongkang yang terbuat dari bambu, kayu, dan kertas dibakar sebagai bentuk syukur.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Travel Update
Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Travel Update
Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Travel Update
World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

Travel Update
Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Travel Update
Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Travel Update
5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Travel Update
Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Travel Tips
Turis Asing Beri Ulasan Negatif Palsu ke Restoran di Thailand, Berakhir Ditangkap

Turis Asing Beri Ulasan Negatif Palsu ke Restoran di Thailand, Berakhir Ditangkap

Travel Update
19 Larangan dalam Pendakian Gunung Lawu via Cemara Kandang, Patuhi demi Keselamatan

19 Larangan dalam Pendakian Gunung Lawu via Cemara Kandang, Patuhi demi Keselamatan

Travel Update
Harga Tiket Camping di Silancur Highland, Alternatif Penginapan Murah

Harga Tiket Camping di Silancur Highland, Alternatif Penginapan Murah

Travel Update
Harga Tiket dan Jam Buka Terkini Silancur Highland di Magelang

Harga Tiket dan Jam Buka Terkini Silancur Highland di Magelang

Travel Update
Awas Celaka! Ini Larangan di Waterpark...

Awas Celaka! Ini Larangan di Waterpark...

Travel Tips
BOB Downhill 2024, Perpaduan Adrenalin dan Pesona Borobudur Highland

BOB Downhill 2024, Perpaduan Adrenalin dan Pesona Borobudur Highland

Travel Update
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com