Kompas.com - 28/12/2017, 08:14 WIB
Madjid Agung Baiturahman Banyuwangi di Jawa Timur yang tepat berhadapan dengan Taman Sritanjung Banyuwangi. KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATIMadjid Agung Baiturahman Banyuwangi di Jawa Timur yang tepat berhadapan dengan Taman Sritanjung Banyuwangi.
|
EditorI Made Asdhiana

Jika beruntung, wisatawan yang datang ke Pendopo Shaba Swagata Blambangan bisa bertemu langsung dengan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas untuk diajak selfie.

2. Masjid Agung Baiturahman

Masjid Agung ini bersebelahan dengan Pendopo Shaba Swagata Blambangan dan menjadi masjid terbesar dan tertua di Kabupaten Banyuwangi yang bisa menampung 5.000 orang. Masjid ini dibangun pada masa Bupati Banyuwangi pertama Mas Alit pada 7 Desember 1772 dan sudah mengalami beberapa kali renovasi.

Di setiap sudut Masjid Agung Baiturahman ini dipenuhi dengan kaligrafi yang cukup indah serta motif batik khas Banyuwangi Gajah Uling. Ada 11 kubah di masjid ini, dan kubah utamanya dapat digeser secara otomatis, sehingga dari dalam masjid bisa melihat langsung ke atas langit.

Selain itu ada juga Al Quran raksasa yang selalu digunakan untuk tadarus setiap bulan Ramadhan dan diletakkan di lantai dua. Tepat di depan masjid Agung Baiturrahman ada Taman Sritanjung untuk bersantai serta menikmati makanan dan minuman serta sering digunakan untuk berkumpul bersama kerabat atau keluarga

3. Kali Lo

Kali Lo adalah nama sungai yang membelah kota Banyuwangi. Letaknya tepat di belakang Masjid Agung Baiturrahman. Ada spot foto yang menarik dengan latar belakang pinggiran sungai yang dicat warna warni.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kali Lo, sungai warna warni yang bagus untuk dijadikan spot foto di Banyuwangi, Jawa Timur.KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Kali Lo, sungai warna warni yang bagus untuk dijadikan spot foto di Banyuwangi, Jawa Timur.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga membuat jembatan kecil yang melintasi Kali Lo agar pengunjung nyaman dan aman jika mengambil gambar. Kali Lo sering juga dijadikan tempat anak-anak bermain ban atau berenang.

Cerita tutur di masyarakat Banyuwangi, nama Lo berasal dari nama perempuan yang bernama Luh yang selalu menunggu suaminya pulang dari berperang. Dia sepanjang hari menunggu di tepi sungai besar yang mengalir ke Selat Bali.

Luh tidak pernah tahu jika suaminya telah gugur dalam peperangan. Hingga saat ini tempat itu dikenal dengan nama Luh Kanti atau dalam bahasa Indonesia berarti Luh yang menunggu

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X