Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 21/08/2018, 16:10 WIB
Markus Makur,
I Made Asdhiana

Tim Redaksi

Rombongan melintasi jalan rata di tengah rimba itu. Bagi yang sudah terbiasa ke Air Terjun Matayangu, jarak tempuh dari lokasi Manurara sekitar satu jam. Namun, bagi yang baru pertama kali pergi harus mempersiapkan diri dengan fisik yang prima.

Semangat untuk melihat langsung dan mendengarkan desiran air terjun itu membuat rombongan terus bergegas di tengah rimba tersebut.

Pemandu menginfarmasikan bahwa sebentar lagi menerobos jalan menurun serta licin karena hujan belum lama ini. Benarlah yang diinformasikan pemandu itu.

Syamsul Bukhori, Senin (6/8/2018) kepada KompasTravel menginformasi bahwa kita akan jalan menurun terus dikelilingi pohon-pohon raksasa serta dihibur suara akustik berbagai jenis burung endemik dan burung lain di rimba Manurara.

Satu per satu rombongan menuruni jalan licin dan basah. Seluruh peserta sangat hati-hati supaya tidak terpeleset. Beruntung semua peserta dan rombongan sudah terbiasa menerobos rimba dan naik gunung sehingga menyiapkan sepatu dan pakaian yang sesuai dengan medan.

Rasa penasaran itu terwujud, di mana dari kejauhan terdengar suara aliran Sungai Matayangu. Belum terdengar desiran air terjun Matayangu karena perjalanan masih panjang. Semangat terus berkobar dalam diri agar rasa penasaran dengan berbagai cerita itu terwujud dengan melihat langsung dan merasakannya.

Setelah melewati jalan menurun, pemandu menginformasikan bahwa kita memasuki jalan tanjakan menuju ke lokasi Air Terjun Matayangu. Dalam perjalanan peserta dihibur dengan suara burung di kawasan rimba itu.

Selain itu kami melihat berbagai jenis pohon-pohon raksasa yang tumbuh di kawasan Taman Nasional MataLawa Sumba di lokasi Manurara.

Akhirnya rasa penasaran terwujud dengan melihat Air Terjun Matayangu dari kejauhan. Satu per satu rombongan mengeluarkan peralatannya seperti kamera, drone, handphone android.

Selanjutnya peserta dan rombongan mengabadikan keunikan air terjun itu dengan cara teknik masing-masing. Peserta lain sibuk memotret burung yang ada di daerah aliran Sungai Matayangu.

Batu Bulat di Tebing Matayangu

Batu bulat yang berada di tebing Sungai Matayangu sebagai spot terbaik untuk mengambil gambar Air Terjun Matayangu tersebut. Siang itu secara bergantian peserta dan jurnalis mengambil gambar dan video dengan drone.

Daerah aliran Sungai Matayangu yang unik karena dipenuhi batu-batu besar di TN MataLawa Sumba, NTT, Senin (6/8/2018). Kompas.com/Markus Makur Daerah aliran Sungai Matayangu yang unik karena dipenuhi batu-batu besar di TN MataLawa Sumba, NTT, Senin (6/8/2018).
Sebuah kalimat yang keluar dari seluruh peserta dan jurnalis adalah sungguh luar biasa kekayaan alam di Pulau Sumba yang ada di dalam kawasan Taman Nasional MataLawa Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Pemandu lokal, Ngailu Ibinipiaku kepada Kompas Travel, Senin (6/8/2018) menjelaskan, wisatawan asing dan Nusantara selalu berwisata ke air terjun Matayangu. Biasanya turis yang berwisata di air terjun ini yang berasal dari Hotel Nihiwatu dan Liliwatu di Sumba Barat.

“Saya sering memandu tamu asing dan Nusantara ke air terjun ini. Biasanya turis berenang di kolang air terjun ini. Saat ini air terjunnya keluar dari lubang gua Matayangu saat debit airnya kecil, namun, apabila saat musim tiba air terjunnya keluar dari dua tempat, dari mulut tebing Matayangu dan lubang gua. Apabila airnya keluar dari mulut tebing Matayangu maka kita tak bisa berdiri di batu bulat ini,”jelasnya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com