Sehari Tanpa Piring Pabrik di Nagekeo Flores...

Kompas.com - 31/12/2018, 08:27 WIB
Warga Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis, (27/12/2018), menikmati hidangan pangan lokal saat syukuran atas pemimpin baru Kabupaten Nagekeo. Semua makanan bagi seluruh rakyat Nagekeo adalah pangan lokal. KOMPAS.com/MARKUS MAKURWarga Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, Kamis, (27/12/2018), menikmati hidangan pangan lokal saat syukuran atas pemimpin baru Kabupaten Nagekeo. Semua makanan bagi seluruh rakyat Nagekeo adalah pangan lokal.

“Setelah dilantik di Kupang, saya diajak diskusi oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat di ruang kerjanya. Program dan konsep pembangunan yang diwacanakannya sejalan dengan apa yang diimpikannya selama ini yakni mengembalikan membangkitkan produksi lokal,” katanya.

Uskup Agung Ende, Mgr Vinsensius Potokotta kepada Kompas.com seusai misa perutusan Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo yang baru menjelaskan, gerakan kebangkitan produksi lokal yang diprogram Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do dan Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja memotivasi rakyat Nagekeo untuk kembali mencintai produk warisan leluhur di seluruh kampung di Nagekeo.

“Ini merupakan sebuah gerakan baru yang diprogramkan Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo. Pihak Gereja Katolik sangat mendukung dengan gerakan yang membangkitkan kearifan lokal serta program pemberdayaan masyarakat lokal yang sangat ramah lingkungan,” katanya.

Uskup Potokotta menjelaskan, pemimpin sudah saatnya tidak banyak teori dalam meningkatkan perekonomian rakyat atau pemberdayaan rakyat. Namun, penerapan nyata dan langsung menyentuh rakyat sesuai dengan sumber daya alam di suatu daerah harus mulai di gerakkan serta menyediakan pasar.

“Saya tersentuh dengan hadiah dari kaum perempuan Nagekeo seusai misa perutusan Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo. Hadiahnya itu bukan berasal dari olahan pabrik melainkan hasil anyaman kaum perempuan Nagekeo, yakni wadah ' wati' dan gelas bambu. Ini sangat menyentuh nurani saya sebagai pemimpin gereja Katolik lokal,” ucapnya.

Ketua DPRD NTT yang juga putra asli Nagekeo, Anwar Pua Geno, Kamis (27/12/2018) menjelaskan dirinya pertama kali makan dengan wadah “wati” dan gelas bambu yang dianyam kaum perempuan dan laki-laki Nagekeo.

"Bahkan, saat saya mau kembali ke rumah seusai misa perutusan ini, kaum perempuan menghadiahkan wadah 'wati' dan gelas bambu untuk dipakai saat makan di rumah. Sebagai pimpinan DPRD NTT, saya sangat mengapresiasi gerakan kebangkitan produksi lokal yang diprogramkan Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do dan Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja,” katanya.

Pua Geno menjelaskan, gerakan itu sudah dimulai dimana saat misa perutusan pemimpin baru Kabupaten Nagekeo sudah menganyam 10.000 wadah “wati” dan 10.000 gelas bambu serta 10.000 daun pisang untuk alas wadah tersebut saat menu makanan lokal dihidangkan.

Seorang warga Nagekeo sedang menadah air minum bersih dengan gelas bambu untuk dihidangkan kepada tamu yang sedang mengikuti syukuran pemimpin baru Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT, Kamis (27/12/2018). KOMPAS.com/MARKUS MAKUR Seorang warga Nagekeo sedang menadah air minum bersih dengan gelas bambu untuk dihidangkan kepada tamu yang sedang mengikuti syukuran pemimpin baru Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT, Kamis (27/12/2018).
“Ini sebuah gerakan baru yang dilakukan pemimpin baru Kabupaten Nagekeo. Untuk itu seluruh Aparat Sipil Negara Kabupaten Nagekeo bersama rakyat Nagekeo harus mendukung penuh program dari Bupati yang memprioritas peningkatan ekonomi rakyat,” kata Pua Geno.

Perajin wadah “ Wati”, Yosefina Muda kepada Kompas.com menjelaskan, program yang disampaikan Bupati Nagekeo dan Wakil Bupati Nagekeo yang baru sangat menyentuh kaum perempuan dan laki-laki yang memiliki keterampilan menganyam wadah “wati” dan gelas bambu dengan gerakan kebangkitan produksi lokal dan konsumsi pangan lokal.

“Bupati dan Wakil Bupati baru dilantik 23 Desember 2018. Bupati meminta rakyat Nagekeo menyediakan produk lokal dan konsumsi lokal saat misa syukur atau pesta rakyatnya. Dengan waktu singkat itu kami mengerahkan kaum perempuan untuk menganyam wadah 'wati' dan gelas bambu. Warga Nagekeo penuh semangat dengan gerakan yang dilakukan pemimpin baru Nagekeo,” kata Yosefina Muda.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X