Itinerary Wisata Belitung 2 Hari 1 Malam, Rekomendasi Tempat dan Biaya

Kompas.com - 23/11/2019, 14:00 WIB
Mercusuar Pulau Lengkuas yang tampak tinggi menjulang di tengah-tengah bebatuan granit, Minggu (10/11/2019). Nicholas Ryan AdityaMercusuar Pulau Lengkuas yang tampak tinggi menjulang di tengah-tengah bebatuan granit, Minggu (10/11/2019).


BELITUNG, KOMPAS.com -  Belitung menjadi pilihan yang cocok untuk kamu jika ingin menikmati akhir pekan dengan nuansa pemandangan laut dan perbukitan.

Sebelum ke Belitung, pastikan kamu sudah mencari tahu informasi dan lokasi apa saja yang ingin kamu kunjungi di sana. Pastikan pula kamu sudah mempersiapkan transportasi, kamar hotel, uang saku dan lokasi wisata. 

Berikut ini adalah rekomendasi jadwal perjalanan atau itinerary Belitung selama dua hari satu malam:

Baca juga: 5 Spot Foto yang Wajib Dikunjungi di Bukit Peramun, Belitung

Hari pertama

Berkunjung ke Danau Kaolin

Kompas.com berkesempatan mengunjungi Belitung untuk memenuhi undangan 'Kafe BCA on the road', pada Sabtu (9/11/2019) hingga Minggu (10/11/2019). Kami berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Banten pukul 08.50 WIB dan tiba di Bandara Internasional HAS Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, Belitung pukul 09.52 WIB.

Sampai di Belitung, lokasi wisata pertama yang bisa dituju adalah Danau Kaolin yang berada di Desa Air Raya, Tanjung Pandang, Belitung. Untuk alat transportasi, kamu bisa menggunakan bus DAMRI dari bandara.

Tak usah khawatir biaya, karena sejak Belitung populer jadi kota wisata, bus ini tidak dipungut biaya atau gratis.

Danau Kaolin, hasil pengerukan tambang timah puluhan tahun lalu di Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Danau Kaolin, hasil pengerukan tambang timah puluhan tahun lalu di Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Danau Kaolin merupakan tempat wisata yang mirip dengan kawah Ciwidey Bandung. Meski begitu, tempat ini bukan danau yang merupakan kawah asli seperti di Ciwidey, melainkan danau bekas proyek tambang.

Danau ini berwarna biru muda, dan dapat berubah warna seiring berubahnya cuaca. Menurut pemandu wisata, Eksa, jika cuaca cerah, maka air akan berwarna biru muda. Namun jika sebaliknya cuaca mendung, warna air akan berubah hijau.

Baca juga: Mencicip Kopi Hitam Tanpa Ampas Khas Kedai Kong Djie di Belitung

Warna biru muda nan cantik itu tercipta karena debit air hujan yang bercampuir dengan kaolin.

Jangan lupa siapkan alat dokumentasi untuk berfoto di sekitar Danau Kaolin karena pemandangannya yang indah dilihat mata.

Pedagang batu satam yang berada di sekitar Danau Kaolin, Belitung. Batu ini merupakan batu meteor yang pecah dan jatuh di tambang timah. Dijual mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 200.000.Nicholas Ryan Aditya Pedagang batu satam yang berada di sekitar Danau Kaolin, Belitung. Batu ini merupakan batu meteor yang pecah dan jatuh di tambang timah. Dijual mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 200.000.

Bila kamu tertarik, kamu bisa membeli batu satam yang dijual di sekitaran danau dengan harga mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 200.000. Batu satam adalah batu meteor yang pecah dan jatuh ke tambang timah dan dipercaya bagus untuk terapi kesehatan.

Makan siang di Dapoer Belitung

Dari Danau Kaolin, kamu bisa beristirahat sejenak dan mengisi perut dengan makan siang di Dapoer Belitung. Restoran yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 63, Belitung ini menyajikan beragam menu masakan.

Kompas.com tiba di restoran ini pukul 11.08 WIB.

Pilihan utama dari Restoran Dapoer Belitung adalah hidangan seafood mulai dari ikan goreng terbang, ikan bakar hingga kepiting. Restoran ini juga menyajikan makanan lainnya yang bukan seafood seperi ayam goreng kremes.

Restoran Dapoer Belitung yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 63 Belitung ini menyajikan beragam jenis makanan. Namun yang paling utama adalah makanan seafood.Nicholas Ryan Aditya Restoran Dapoer Belitung yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Nomor 63 Belitung ini menyajikan beragam jenis makanan. Namun yang paling utama adalah makanan seafood.

Namun akan lebih nikmat apabila kamu datang pada malam hari karena setiap Malam Minggu dan Minggu, pihak restoran menghadirkan live music. Datang lebih awal jika ingin makan di restoran ini karena pada malam hari akan selalu ramai pengunjung.

Baca juga: Menikmati Makan Bedulang, Tradisi Turun-temurun Khas Belitung

Main di Pantai Tanjung Tinggi

Puas menikmati santap siang, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Tinggi yang terletak di Kecamatan Sijuk, Kabupaten Belitung. Kompas.com tiba di pantai ini pukul 13.06 WIB.

Pantai ini berada di sebelah utara pulau Belitung, jaraknya sekitar 37 kilometer dari pusat kota Tanjung Pandan.

Pantai yang memakan waktu 45-60 menit dari bandara HAS Hanandjoeddin ini dikenal sebagai lokasi syuting dari film Laskar Pelangi tahun 2008.

Pantai Tanjung Tinggi identik dengan batu granit besar di sekelilingnya. Nama Tanjung Tinggi sendiri berasal dari dua kata yaitu tanjung berarti semenanjung, dan tinggi berarti pantai yang memiliki bebatuan yang tinggi.

Pengunjung berfoto di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, Sabtu (9/11/2019). Pantai ini pernah dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi.Nicholas Ryan Aditya Pengunjung berfoto di Pantai Tanjung Tinggi, Belitung, Sabtu (9/11/2019). Pantai ini pernah dijadikan lokasi syuting film Laskar Pelangi.

Meski tak dikelola pemerintah daerah, pantai ini tetap memiliki fasilitas pendukung bagi para pengunjung yang ingin menikmati pantai, seperti sewa perahu karet, ban pelampung, warung makan, dan toilet.

Kamu bisa berfoto ala-ala pemeran film Laskar Pelangi dengan adegan berenang di pantai yang dikelilingi batu granit, atau sekadar berlari di antara kokohnya batu granit Pantai Tanjung Tinggi.

Kamu hanya perlu membayar biaya parkir jika berkunjung ke pantai ini. Belum ada tiket masuk pantai yang resmi, semua masih dikelola oleh warga sekitar.

Baca juga: Penggemar Laskar Pelangi, Jangan Lewatkan Museum Kata Saat ke Belitung

Lihat pemandangan bukit di Bukit Peramun

Usai berfoto-foto dan menikmati alam pantai Tanjung Tinggi, kamu bisa menuju ke Bukit Peramun atau desa yang dikenal dengan Desa Wisata Digital Bukit Peramun. Kompas.com tiba di tempat ini pukul 14.47 WIB.

Meskipun identik dengan wilayah yang dikelilingi lautan, Belitung juga punya hutan yang masih asri. Salah satu hutan tersebut yang juga jadi destinasi wisata di Pulau Belitung adalah Bukit Peramun.

Bukit ini memiliki keunikan akan ragam jenis tanaman. Beragam tanaman yang ada ini kemudian diramu oleh warga sekitar dan dijadikan obat-obatan.

Pengunjung berfoto di puncak Bukit Peramun dengan membawa papan bertuliskan Bukit Peramun Keren. Inilah spot foto paling atas di Bukit Peramun. Jika ingin berfoto tidak boleh lebih dari 6 orang karena untuk keselamatan.Nicholas Ryan Aditya Pengunjung berfoto di puncak Bukit Peramun dengan membawa papan bertuliskan Bukit Peramun Keren. Inilah spot foto paling atas di Bukit Peramun. Jika ingin berfoto tidak boleh lebih dari 6 orang karena untuk keselamatan.

Selain beragam jenis tanamannya, keunikan juga ada pada konsep digital yang dibangun pengelola. Konsep digital yang dimaksud yaitu karena keberhasilan pengurus desa dalam mengaplikasikan sistem QR Code.

Kamu bisa mengenal jenis dan manfaat tanaman di Bukit Peramun yang juga ada panduan virtual guide dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris).

Baca juga: Traveling Ke Bukit Peramun, dari Desa Wisata Digital hingga Tarsius

Selain itu, kamu juga bisa berfoto di beberapa spot foto asik di sini, seperti rumah hobbit, jembatan merah, batu kembar, dan mobil terbang.

Jika sampai malam hari, kamu dapat menikmati paket wisata melihat Tarsius, hewan primata langka yang ada di Belitung. Harga paket wisata ini juga menyesuaikan dengan kondisi hewan tersebut, namun biasanya dipatok seharga Rp 100.000 per kelompok.

Tarsius yang ditemukan di Bukit Peramun. Hewan primata langka ini biasanya muncul di malam hari.Nicholas Ryan Aditya Tarsius yang ditemukan di Bukit Peramun. Hewan primata langka ini biasanya muncul di malam hari.

Kamu ingin mengintai Tarsius? Kamu sebaiknya memperhatikan hal-hal ini yaitu tidak menggunakan lampu kilat (blitz) karena akan membuat Tarsius kaget, dan hanya diperbolehkan melihat sekitar 10 menit karena jika terlalu lama mata Tarsius bisa berair.

Selain itu, kamu juga tidak boleh berisik karena juga akan mengagetkan Tarsius. Kami pun berusaha untuk tidak menimbulkan suara ketika Tarsius tengah bertengger di batang pohon.

Usai mengamati Tarsius, kami menuju ke tempat penginapan yaitu Hotel BW Suite Belitung yang berada di Jalan Pattimura Tanjung Pandan, Belitung.

Untuk menginap per malamnya, hotel ini mematok harga mulai dari Rp 742.000.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X