Kompas.com - Diperbarui 08/04/2022, 19:22 WIB

 

Setelah meninggalnya Paku Buwono, Kerajaan Mataram semakin terguncang karena berbagai aksi pemberontakan. Perebutan kekuasaan antara Paku Buwono II dan Raden Mas Said menimbulkan peristiwa besar yang disebut Geger Patjina.

Sejumlah konflik antara pihak kerajaan, VOC, dan pemberontak akhirnya memunculkan Perjanjian Giyanti pada 1755. Perjanjian ini menyatakan bahwa Mataram dibagi menjadi dua bagian.

Baca juga: 6 Oleh-oleh Kerajinan Khas Mataram, Ada Kendi Maling

Bagian barat, yang meliputi wilayah Yogyakarta, diberikan pada Pangeran Mangkubumi. Sang pangeran pun naik tahta dengan menyandang gelar Hamengku Buwono I. Mangkubumi kemudian membangun sebuah keraton di wilayah tersebut.

Sementara itu, bagian timur yang meliputi wilayah Surakarta dan sekitarnya diberikan kepada Sri Susuhan Paku Buwono III.

Kemudian melalui Perjanjian Salatiga yang dibuat pada 1757, Sunan Paku Buwono III menyerahkan wilayah Karanganyar dan Wonogiri kepada sepupunya, Raden Mas Said.

Keraton Kesultanan Surakarta Hadiningrat DOK. Dinas Pariwisata SurakartaDOK. Dinas Pariwisata Surakarta Keraton Kesultanan Surakarta Hadiningrat DOK. Dinas Pariwisata Surakarta

Raden Mas Said kemudian menobatkan dirinya sebagai Mangkunegoro I dan memimpin Puro Mangkunegaran sampai 1795.

Baca juga: Raja-Raja Kerajaan Mataram Islam

Raja-raja yang pernah memimpin Mataram

Kerajaan Mataram berdiri setelah Pangeran Benowo yang saat itu memimpin Pajang menyerahkan kekuasaannya pada Sutawijaya. Penguasa Mataram ini memiliki gelar Panembahan Senopati.

Berikut ini adalah sederet raja yang pernah berkuasa dan memimpin Kerajaan Mataram:

  1. Sutawijaya (Panembahan Senopati) berkuasa pada 1586-1601
  2. Mas Jolang (Panembahan Sedo Krapyak) berkuasa pada 1601-1613
  3. Raden Rangsang (Sultan Agung Hanyokrokusumo) berkuasa pada 1613-1645
  4. Sunan Amangkurat I berkuasa pada 1645-1677
  5. Sunan Amangkurar II berkuasa pada 1677-1703

Baca juga: Sejarah Banyuwangi dari Kerajaan Blambangan sampai Zaman Belanda

Sumber:

Kebudayaan dan Kerajaan Islam di Indonesia karangan Iriyanti Agustina, yang dipublikasikan pada tahun 2018 oleh Derwati Press.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber iPusnas
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.