Kompas.com - 07/05/2022, 09:11 WIB
BT Batik Trusmi Cirebon Kompas.com/Wasti Samaria SimangunsongBT Batik Trusmi Cirebon

KOMPAS.com - Sentra oleh-oleh BT Batik Trusmi yang berada di kawasan Kampung Batik Trusmi, Plered, Cirebon, Jawa Barat, menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi sebelum pulang.

Selain menyediakan aneka buah tangan bertema batik, tempat ini juga menawarkan pengalaman belajar membatik. Dengan merogoh kocek mulai Rp 30.000, maka pengunjung bisa belajar membatik bersama perajin profesional, dan bisa membawa pulang hasil karyanya.

Tak hanya itu, ada pula kudapan dan cendera mata khas Cirebon yang bisa dibeli, mulai harga Rp 10.000 untuk camilan, hingga Rp 5,9 juta untuk sehelai kain batik tulis premium.

Mulai dari tempat membeli oleh-oleh, penjual makanan khas, museum batik, hingga pertunjukan pembuatan batik, semua ada di tempat ini.

"Untuk rekomendasi oleh-oleh, biasanya pada beli terasi, ada bawang goreng Bu Ras, ada sirup pisang susu Tjampolay juga, ada gapit, kerupuk seblak, sampai teh upet," kata staf BT Trusmi, Lili, kepada Kompas.com, Jumat (29/4/2022).

Selesai mengunjungi BT Batik Trusmi, wisatawan bisa singgah di tempat wisata lain di dekatnya yang tidak kalah menarik.

Berikut Kompas.com rangkum beberapa tempat rekreasi yang ada di sekitar sentra oleh-oleh ini.

1. Pasar Kanoman

Pasar Kanoman Cirebon, Jawa Barat kini terlihat berwarna-warni. Bangunan ruko-ruko di area yang juga kawasan Pecinan ini dicat aneka warna oleh PT. Pacific Paint.KOMPAS.com/WAHYU ADITYO PRODJO Pasar Kanoman Cirebon, Jawa Barat kini terlihat berwarna-warni. Bangunan ruko-ruko di area yang juga kawasan Pecinan ini dicat aneka warna oleh PT. Pacific Paint.

Pasar Kanoman yang beralamat di Kecamatan Lemawungkuk, Cirebon, ini berjarak sekitar delapan kilometer (km) dari BT Batik Trusmi. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit menggunakan sepeda motor.

Pasar yang menjadi salah satu penggerak roda ekonomi warga Cirebon ini punya aneka hidangan tradisional, mulai dari nasi lengko, nasi jamblang, tahu gejrot, tahu petis, hingga rujak asam.

Baca juga: 7 Oleh-oleh Khas Cirebon Selain Batik Megamendung

2. Goa sunyaragi

Goa Sunyaragi CirebonKompas.com/Wasti Samaria Simangunsong Goa Sunyaragi Cirebon

Kawasan wisata Goa Sunyaragi berjarak sekitar delapan kilometer dari BT Batik Trusmi. Namun, tempat wisata ini cukup dekat dengan Pasar Kanoman, yakni sekitar 15 menit saja menggunakan sepeda motor.

Alih-alih menyerupai gua yang gelap, tempat wisata ini justru lebih mirip seperti candi dari batu-batu karang.

Sebagaimana disampaikan Kepala Pemandu Taman Wisata Sunyaragi, Jajat Sudrajat, kepada Kompas.com, Jumat (29/4/2022), kata "goa" ternyata berasal dari "guha" yang berarti buatan.

"Kalau goa itu kan alami terbentuknya, kalau guha itu buatan, guha ini dibangun oleh cicit Sunan Gunung Jati, pada abad ke-16," tutur Jajat.

Adapun harga tiket masuk mulai Rp 15.000 untuk umum, dan Rp 10.000 bagi pelajar. Bila ingin berkunjung ke situs bersejarah ini, jangan lupa membawa topi.

Baca juga: Goa Sunyaragi Cirebon dan Patung Perawan Sunti yang Bikin Susah Jodoh

3. Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau lebih dikenal sebagai Masjid Agung Cirebon. Gerbang utamanya terbuat dari susunan bata merah yang rapat dan tinggi. KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA Masjid Agung Sang Cipta Rasa atau lebih dikenal sebagai Masjid Agung Cirebon. Gerbang utamanya terbuat dari susunan bata merah yang rapat dan tinggi.

Masjid berarsitektur unik ini hanya berjarak sekitar 8,5 kilometer dari BT Batik Trusmi.

Masjid Agung Cirebon merupakan salah satu bangunan peninggalan Kerajaan Cirebon, yang juga dikenal sebagai Masjid Sunan Gunung Jati.

Dilansir dari Kompas.com, Rabu (18/8/2021), masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati, tepatnya pada tahun 1498 M.

Masjid yang terletak di kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon ini disebut-sebut sebagai masjid tertua di Cirebon.

Istimewanya lagi, Masjid Agung Sang Cipta Rasa menjadi salah satu masjid yang dibangun oleh Wali Songo (Sembilan Wali) secara gotong-royong.

Sunan Kalijaga memimpin pembangunan dengan arsitek dari Kerajaan Majapahit bernama Raden Sepat. Seperti di Masjid Agung Demak, di masjid ini juga terdapat saka guru (tiang utama) yang dibuat dari tatal, yaitu pecahan-pecahan kayu berukuran kecil yang disatukan.

Konon, pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa hanya dilakukan dalam tempo satu malam saja, yaitu pada dini hari, dan keesokan harinya langsung dipakai untuk shalat subuh.

Baca juga: 10 Wisata Cirebon yang Unik, Bisa Nikmati Alam dan Belajar Sejarah

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.