Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 30/04/2014, 09:46 WIB
EditorI Made Asdhiana

Gumuk pasir ini tercipta karena proses eolian, yaitu proses angin yang menerbangkan pasir dari laut sehingga membentuk hamparan padang pasir. ”Ini unik dan hanya ada satu-satunya di Asia Tenggara. Pas saat itu melihat iklan di televisi, temanya sandboarding. Dari situ saya mencoba membuat papan luncur,” tutur Sidik.

Saat itu Sidik masih mahasiswa dengan kantong terbatas. Ia dan temannya pun mencari akal dan akhirnya menemukan lemari bekas berbahan papan multipleks. ”Kami membuat papan berukuran 120 cm x 60 cm lalu menanamkan sepasang sepatu sepeda dengan baut. Itulah sandboard pertama kami yang dibuat pada 2007,” tutur Sidik.

Dicobalah papan itu. Apa yang terjadi? ”Papan gak mau meluncur,” ujar Sidik. Ia pun menyempurnakan dan akhirnya luncuran makin cespleng setelah dilumuri lilin,” sambungnya. Sidik dan teman-teman makin gembira karena menjadi bagian dari iklan sebuah produk.

Sidik dan kawan-kawan membuat inovasi lagi, memadukan sandboarding dengan layang-layang, menjadi kiteboarding. ”Tingkat risikonya relatif lebih besar dari sandboarding karena menggunakan parasut atau layang-layang. Seru banget tentunya bagi pencinta petualangan,” ujarnya.

Mahasiswa dari mancanegara yang melihat kegiatan ini sangat tertarik, bahkan katanya lebih asyik karena tidak ribet, tidak repot seperti snowboarding. Biasanya para pemula hanya bisa meluncur sejauh beberapa meter sebelum terjungkal.

Mimpi ”sandpark”

Perkembangan kegiatan sandboarding makin menggembirakan. Saban Minggu, papan-papan yang diproduksi sendiri oleh Sidik dan kawan-kawan laris dipinjam para pegiat skateboard, komunitas pencinta alam, hingga backpacker. Mereka penasaran dan ingin merasakan sensasi berselancar di pebukitan pasir.

Bagaimana bisa selaris itu? Ceritanya bermula pada tahun 2011, ketika sebuah perusahaan rokok menghubungi Komunitas Sandboarding Yogyakarta untuk digandeng dalam pembuatan iklan. Perusahaan itu memberi dua papan seharga enam juta rupiah per papan. ”Kami lalu mengamati material papan itu. Ternyata kalau kita bikin sendiri bisa lebih murah, bisa cuma Rp 600.000,” ujar Sidik.

Bisa jauh lebih murah? Itu karena komunitas ini meneliti lilin untuk pelumas papan yang digunakan oleh perusahaan rokok di laboratorium di UGM. ”Ternyata sama dengan bahan pelicin keramik atau lantai. Ya sudah kami pakai itu karena lebih murah,” jelas Sidik. Nah, sejak ada iklan sandboard yang di baliho itu, papan selancar pasir menjadi kondang.

”Teman-teman di Bromo minta dikirimin papan. Kami bikin dijual Rp 800.000. Kami juga memasukkan ke beberapa toko di Yogya dan ternyata ada peminatnya,” papar Sidik, yang sejauh ini sudah membikin 30-an papan untuk dijual.

Pada pertengahan 2012, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencantumkan sandboarding ke dalam salah satu iklan Wonderful Indonesia. Makin kondanglah kegiatan selancar pasir ini.

Komunitas pun lantas mengembangkan usaha. Mereka bekerja sama dengan teman-teman yang bekerja di agen-agen wisata. Ada beberapa agen yang membuat paket wisata plus. Plusnya itu, ya, sandboarding.

”Sekarang kami sedang mengembangkan sandboarding sebagai wisata minat khusus. Kalau bisa, ya, ada semacam sandpark buat olahraga ini. Pasti seru,” harap Sidik. Amien.... (Susi Ivvaty)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+